Farah Putri : Tips Membangun Personal Branding dan Menjadi Content Strategist di LinkedIn

Personal branding yang kuat di LinkedIn bisa membuka pintu ke berbagai peluang—mulai dari pekerjaan, kolaborasi, hingga networking global. Inilah yang dirasakan oleh Farah Putri, seorang content strategist yang kerap di-hire untuk membantu meningkatkan personal branding kliennya.
" Saya sendiri sering dapat klien dan project besar hanya karena mereka merasa terkoneksi dengan konten saya. LinkedIn itu semacam "CV berjalan" yang aktif bekerja untuk kita, 24/7," kata Farah.
Lebih lanjut Farah bercerita kalau potensi terbesar dari LinkedIn sebagai platform untuk membangun personal branding ada pada kekuatan koneksi profesional dan low competition dalam konten. Hanya 1-3% pengguna LinkedIn yang benar-benar bikin konten. Artinya, peluang untuk "stand out" itu besar banget, terutama buat mereka yang mau membangun karier atau menarik perhatian klien.
LinkedIn buatnya bukan cuma tempat untuk "pamer" resume, tapi juga jadi panggung untuk menunjukkan value dan kompetensi kita lewat storytelling. Dan bicara soal engagement, yang bikin LinkedIn beda adalah engagement-nya lebih intim dan meaningful. Buat Anda yang tertarik memaksimalkan profil di LinkedIn dan ingin tahu lebih jauh soal perkembangan platform profesional karier ini, langsung simak obrolan kami berikut ini!
Bagaimana Anda memulai karier sebagai content strategist personal/customer success, terutama di LinkedIn? Apa yang menjadi motivasi awal Anda untuk fokus pada platform ini?
Saya memulai karier sebagai content strategist personal di LinkedIn karena platform ini punya potensi besar yang masih belum dimanfaatkan sepenuhnya. Bayangin, hanya sekitar 1-3% pengguna yang benar-benar bikin konten di sini. Itu artinya peluang besar buat siapa saja, terutama job seekers dan business owners, untuk menonjol.
Saya sendiri udah ngerasain dampaknya. Lewat LinkedIn, saya bisa dapat klien dan kesempatan yang nggak saya sangka-sangka sebelumnya. Platform ini seperti "panggung profesional" yang bikin siapa pun bisa kelihatan di keramaian dunia kerja atau bisnis. Itu yang bikin saya fokus dan semangat eksplorasi lebih jauh.
Ceritakan sedikit tentang proyek pertama Anda. Bagaimana Anda mendapatkan klien pertama dan apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat itu?
Proyek pertama saya sebenarnya nggak langsung dari LinkedIn. Karena di LinkedIn itu pengguna yang benar-benar aktif bikin konten masih sedikit, banyak juga yang segan untuk reach out duluan. Jadi, saya manfaatkan platform lain untuk menjaring klien, yaitu Twitter, dengan nama akun @learn_withFarah.
Di Twitter, saya sering berbagi insight tentang personal branding dan strategi karier remote. Dari situ, orang-orang mulai notice dan ada yang tertarik untuk kerja sama. Tantangan terbesar waktu itu adalah membangun kepercayaan, karena saya masih baru di bidang ini. Tapi karena saya aktif berbagi dan engage dengan audience, akhirnya klien pertama saya pun datang dari sana.
Bagaimana Anda melihat perkembangan peluang sebagai content strategist personal dalam beberapa tahun terakhir? Apa perubahan paling signifikan yang Anda alami, baik dari segi jenis klien, proyek, atau strategi yang Anda gunakan?
Dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat LinkedIn makin dilirik banyak orang, terutama dengan munculnya banyak edukator dan content creator yang ngajarin cara pakai LinkedIn dengan baik untuk menarik kesempatan. Menurut saya, ini adalah tren yang positif banget.
Saya sendiri juga ikut berkontribusi dengan bikin hashtag khusus di Twitter, yaitu #LinkedInGLOWUP, yang isinya tips-tips pakai LinkedIn—mulai dari mematahkan persepsi yang salah, sampai berbagi hacks khusus yang bisa bantu orang tampil lebih baik di platform ini.
Hasilnya, jenis klien yang sekarang saya dapat adalah mereka yang mulai sadar bahwa untuk dapetin pekerjaan, terutama yang remote, online presence itu penting banget. Dan utamanya, LinkedIn adalah tempatnya. Klien saya biasanya pengen profil mereka stand out dan narik perhatian recruiter atau klien potensial.
Apa yang menurut Anda menjadi kunci keberhasilan Anda dalam membangun dan mempertahankan bisnis sebagai content strategist?
Menurut saya, kunci keberhasilan dalam membangun dan mempertahankan bisnis sebagai content strategist itu ada di kesabaran, keteguhan, dan kekenyalan mental. Nggak ada yang instan. Perjalanan ini butuh waktu, dan kita harus siap menghadapi naik-turun.
Selain itu, memahami ideal client profile dan target audience dengan baik itu krusial. Kalau kita tahu siapa yang kita layani, kita bisa bikin strategi yang tepat sasaran. Tapi yang paling penting adalah empati. Konten yang bagus itu bukan cuma ngomong, tapi juga bisa "dirasakan." Harus ada koneksi yang bikin audience merasa, "Ini gue banget!" Itu yang bikin strategi kita benar-benar impactful.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai content strategist personal di LinkedIn, terutama dalam hal algoritma, persaingan, atau ekspektasi klien? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut dan tetap relevan di platform ini?
Aku nggak pernah melihat kreator lain sebagai saingan. Justru, konten mereka itu memperkaya sudut pandang aku dan sering jadi inspirasi. Di LinkedIn, aku lebih sering pakai bahasa Inggris untuk konten karena target klienku adalah english speaker dan kebanyakan bukan dari Indonesia. Jadi, fokusnya memang ke audience global.
Soal algoritma, aku nggak terlalu khawatir. Kenapa? Karena konten organik dan koneksi itu nggak bisa diakali sama algoritma apapun. Satu rahasia yang mau aku bagikan: engagement LinkedIn yang paling berharga itu terjadi di ruang privat, yaitu DM. Bukan soal jumlah likes atau reactions di postingan. Bahkan, mayoritas klienku nggak pernah like konten aku, tapi mereka tiba-tiba reach out lewat DM untuk ngobrol dan nawarin project.
Fokus aku tetap bikin konten yang relevan dan meaningful, sambil terus jaga interaksi di DM. Itu yang bikin aku bisa tetap relevan di platform ini.
Bagaimana Anda melihat perkembangan LinkedIn dalam beberapa tahun ke depan dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi pekerjaan Anda?
Dalam beberapa tahun ke depan, saya melihat LinkedIn akan semakin berkembang sebagai platform untuk konten profesional yang berkualitas. Untuk content creator, LinkedIn sebenarnya menawarkan peluang besar, terutama dalam hal mendapatkan bayaran yang lebih layak dibanding platform lain. Kenapa? Karena masih sangat sedikit yang benar-benar konsentrasi bikin konten di sini.
Di LinkedIn, konten yang fokus ke insight profesional atau membangun value punya peluang lebih besar untuk dilihat oleh audience yang relevan—terutama decision makers atau klien potensial. Ini berbeda dari platform lain yang lebih ramai dengan konten hiburan. Jadi, buat creator yang mau serius bangun karier atau branding di LinkedIn, ini adalah kesempatan emas.
Platform ini akan terus berkembang, terutama untuk kolaborasi bisnis dan pekerjaan global. Dengan begitu, pekerjaan saya sebagai content strategist akan terus relevan, karena semakin banyak orang dan bisnis yang sadar pentingnya personal branding di LinkedIn untuk membuka peluang baru.
Apakah Anda juga membantu klien membangun personal branding di platform lain selain LinkedIn? Jika iya, platform apa saja dan mengapa Anda memilih platform tersebut?
Iya, saya juga bantu klien membangun personal branding di platform lain selain LinkedIn, tapi strateginya beda, tergantung target pasarnya. Di Indonesia, pasarnya berbeda dengan global. Kreator global biasanya pakai Twitter dan LinkedIn untuk audience building, terutama untuk kebutuhan bisnis dan profesional. Tapi, orang Indonesia cenderung memisahkan platform berdasarkan kegunaannya.
Contohnya:
- Twitter, TikTok, Instagram, Threads lebih sering digunakan untuk hiburan atau personal expression.
- LinkedIn di Indonesia lebih dianggap sebagai platform yang strictly professional—buat bangun karier, nyari kerja, atau networking bisnis.
Karena itu, strategi branding di tiap platform juga harus disesuaikan. Kalau klien saya targetnya global, kita fokus di LinkedIn dan Twitter.

Bagaimana Anda mengintegrasikan strategi branding di berbagai platform untuk mencapai hasil yang optimal?
Strategi saya untuk mengintegrasikan branding di berbagai platform adalah dengan lebih banyak repurpose konten. Kita nggak perlu menciptakan hal yang sama dua kali. Kalau ada satu konten yang high performing di satu platform, saya akan sesuaikan format atau gayanya untuk platform lain.
Contohnya, sebuah LinkedIn post yang insightful bisa diubah jadi thread di Twitter, Intinya, konten yang sudah terbukti bekerja baik tetap bisa dipakai lagi, tapi disesuaikan dengan karakteristik dan audience tiap platform. Ini cara yang lebih efisien dan tetap menjaga pesan brand tetap konsisten di semua tempat.
Apa strategi utama yang Anda gunakan untuk membantu klien membangun personal branding yang kuat di LinkedIn?
Strategi utama yang saya gunakan untuk membantu klien membangun personal branding yang kuat di LinkedIn adalah mendobrak mental block bahwa LinkedIn itu cuma platform "pamer." Ini salah besar. LinkedIn dibangun di atas dua pilar yang sama pentingnya: relationship dan reputation.
- Relationship: LinkedIn adalah tempat untuk membangun koneksi profesional yang meaningful. Jadi, fokusnya bukan hanya tentang siapa yang kamu kenal, tapi bagaimana kamu berinteraksi dan memberikan nilai dalam jaringanmu.
- Reputation: Apa yang kamu bagikan di LinkedIn—cerita, insight, atau pengalaman—itu mencerminkan siapa kamu sebagai profesional. Reputasi yang kuat datang dari konsistensi dalam memberikan value dan engagement yang genuine.
Bagaimana Anda menentukan target audiens yang tepat untuk setiap klien dan menyesuaikan konten yang mereka produksi?
Cara saya menentukan target audiens yang tepat untuk setiap klien dimulai dengan riset mendalam. Saya lihat dulu bagaimana online presence mereka di platform yang mereka gunakan: cara mereka berbicara, konten seperti apa yang sudah mereka bagikan, dan bagaimana mereka engage dengan audience mereka.
Langkah selanjutnya adalah matching tone of voice mereka dengan kebutuhan audiens yang ingin dicapai. Ini penting banget supaya konten yang dibuat terasa otentik dan tetap sesuai dengan karakter mereka.
Dan yang paling penting, sebelum mulai produksi konten, saya selalu ngobrol dulu dengan klien. Dari situ, saya bisa lebih paham perspektif mereka, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka ingin terlihat di mata audiens mereka. Proses ini memastikan konten yang dibuat benar-benar relevan dan impactful.
Tren apa yang sedang berkembang di dunia personal branding di LinkedIn? Bagaimana Anda menyesuaikan strategi Anda dengan tren tersebut?
Tren di dunia personal branding di LinkedIn sekarang semakin mengarah pada konten yang lebih otentik dan berbasis storytelling. Orang ingin melihat sisi manusiawi, bukan sekadar pencapaian profesional. Konten yang relatable, seperti perjalanan karier, tantangan yang dihadapi, atau bahkan kegagalan, justru lebih menarik engagement. Saya menyesuaikan strategi dengan membantu klien berani membuka diri lewat cerita-cerita otentik yang tetap relevan dengan profesionalisme mereka.
Baca terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan insight menarik seputar dunia karier, langsung dari expert-nya!