Faradilah Bari : "Selamat Tinggal Era HR Polisi Perusahaan!"

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 21 Januari 2025
Rubrik Profil

hr-faradilah-bari-tahun-2025

Peran seorang HR Practitioner dalam sebuah organisasi telah mengalami transformasi yang signifikan. Dulu, HR hanya berfungsi sebagai entitas administratif yang menangani pekerjaan rutin seperti penggajian, rekrutmen, dan pemeliharaan catatan karyawan. Namun, seiring berjalannya waktu, peran ini telah berkembang menjadi lebih strategis.

"HR kini berperan sebagai mitra bisnis dan mitra manusia, yang berarti mereka terlibat dalam merancang strategi jangka panjang perusahaan dan memastikan bahwa aspek-aspek sumber daya manusia mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. HR berkontribusi dalam perencanaan 5 hingga 10 tahun ke depan untuk memastikan perusahaan tetap kompetitif dan relevan di pasar," demikian kata Faradilah Bari, seorang HR Practitioner yang kerap membagikan pandangannya mengenai dinamika dunia kerja dan perekrutan melalui media sosial.

Lebih lanjut ia menyampaikan kalau transformasi peran HR juga terlihat dalam pendekatan yang lebih humanis terhadap karyawan. Dulu, HR sering kali dipandang sebagai "polisi" perusahaan yang bertugas menegakkan aturan tanpa mempertimbangkan kebutuhan karyawan. Kini, era tersebut telah berakhir. HR modern berfungsi sebagai layanan yang mendukung kesejahteraan karyawan dan perusahaan. Fokusnya adalah menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, memperhatikan kebutuhan karyawan, dan membangun hubungan yang saling menguntungkan antara karyawan dan organisasi. Dengan demikian, HR berperan dalam memastikan bahwa karyawan merasa dihargai dan didukung, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dan loyalitas mereka.

Obrolan Loker ID tidak hanya berpusat pada dinamika dunia kerja secara umum, melainkan juga pengalaman personal Faradilah sampai akhirnya mencemplungkan diri ke dunia HR. Seperti apa perjalanan kariernya? Gas langsung di sini!

Bagaimana perjalanan karier Anda dari awal hingga menjadi seorang HR Practitioner, coach, dan penulis? Apa yang memotivasi Anda untuk terus berkembang di bidang ini?

Perjalanan karier saya dimulai dengan tantangan yang cukup besar. Dengan latar belakang pendidikan di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saya mengalami kesulitan saat mencari pekerjaan di kantoran. Kesempatan pertama saya datang ketika bekerja sebagai contact center dan customer service di salah satu anak perusahaan Kompas Gramedia Group melalui Outsourcing. Posisi ini memberikan saya pengalaman pertama di dunia kerja, meskipun peran saya masih bersifat umum dan tidak secara langsung berhubungan dengan latar belakang pendidikan saya.

Langkah besar dalam karier saya terjadi saat saya bergabung dengan perusahaan multinasional sebagai Admin Specialist di departemen HRGA. Inilah momen pertama saya berkenalan dengan dunia Human Resources (HR), yang membuka mata saya terhadap dinamika pengelolaan sumber daya manusia. Dalam posisi ini, saya mulai memahami lebih dalam tentang proses rekrutmen, pengembangan karyawan, dan manajemen organisasi, yang akhirnya membentuk fondasi kuat bagi perjalanan saya sebagai HR Practitioner.

Motivasi saya untuk menjadi coach dan penulis muncul dari keprihatinan terhadap kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Sebagai seorang HR, saya menyadari betapa sulitnya menemukan dan mengembangkan talenta yang sesuai, meskipun angka pengangguran di Indonesia terus meningkat. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki, saya berharap dapat membantu lebih banyak orang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, mencapai prestasi, dan mengembangkan karier impian mereka. Ini adalah upaya saya untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat dan mengurangi kesenjangan tersebut.

Apa tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi dalam karier sebagai HR Practitioner? Bagaimana Anda mengatasinya?

Salah satu tantangan terbesar yang pernah saya hadapi sebagai HR Practitioner adalah sulitnya menemukan talenta yang tepat untuk mengisi posisi yang kosong di perusahaan. Terkadang, kebutuhan perusahaan sangat spesifik, tetapi pasokan talenta yang sesuai tidak mencukupi. Hal ini menjadi lebih kompleks ketika posisi tersebut adalah posisi strategis yang berpengaruh langsung pada performa perusahaan. Untuk mengatasi hal ini, saya mulai memfokuskan upaya pada strategi employer branding yang lebih kuat dan memperluas jaringan rekrutmen melalui berbagai platform, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan institusi pendidikan untuk menciptakan pipeline talenta yang lebih baik.

Selain itu, tantangan lainnya muncul ketika manajer di level menengah tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam manajemen sumber daya manusia. Hal ini menyebabkan tingkat turnover yang tinggi dan banyak karyawan yang berkinerja rendah. Untuk mengatasi hal ini, saya berupaya meningkatkan kapasitas manajerial melalui pelatihan dan program pengembangan kepemimpinan, serta memberikan feedback konstruktif yang berkelanjutan. Dengan meningkatkan kompetensi para pemimpin, kami mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih stabil dan produktif.

Namun, tantangan terbesar secara pribadi adalah ketika manajemen perusahaan tidak memiliki kebijakan yang menempatkan karyawan sebagai aset utama. Dalam situasi ini, saya menghadapi dilema untuk mengimbangi kebutuhan perusahaan dengan kebutuhan karyawan. Untuk mengatasi hal ini, saya berusaha memperjuangkan kebijakan yang lebih ramah karyawan, mengedukasi manajemen tentang pentingnya karyawan bagi kesuksesan jangka panjang perusahaan, dan menunjukkan bukti nyata bagaimana investasi pada karyawan dapat menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.

suka-duka-dan-pengalaman-faradilah-sebagai-hr-tahun-2025

Apa yang menginspirasi Anda untuk menulis buku tentang dunia kerja? Apa pesan utama yang ingin Anda sampaikan melalui buku tersebut?

Inspirasi untuk menulis buku tentang dunia kerja datang dari pengalaman pribadi saya yang memahami betapa kompleks dan menantangnya dunia kerja. Dunia kerja ibarat permainan, di mana kita sebagai pemain harus mengetahui aturan, cara bermain, dan strategi untuk menang. Namun, hal-hal ini jarang diajarkan secara formal atau tertulis. Banyak orang harus menjalani proses pembelajaran melalui pengalaman atau bimbingan mentor. Sayangnya, dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), mendapatkan mentor yang tepat menjadi semakin sulit karena setiap orang sibuk dengan pekerjaannya. Melalui buku ini, saya ingin memberikan panduan yang praktis dan inspiratif untuk membantu para profesional muda menavigasi karier mereka dengan lebih baik.

Pesan utama yang ingin saya sampaikan melalui buku ini adalah pentingnya memiliki visi yang jelas tentang karier dan terus mengembangkan diri. Saya juga menekankan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi serta membangun hubungan kerja yang positif. Dengan buku ini, saya berharap dapat memberdayakan pembaca untuk mencapai potensi penuh mereka dalam karier, membantu mereka memahami bahwa sukses bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang menikmati perjalanan dan terus belajar sepanjang jalan.

Menurut Anda, bagaimana cara menyusun rencana karier yang efektif? Apa yang harus dilakukan jika merasa stuck dalam karier?

Menyusun rencana karier yang efektif dimulai dengan mengenal diri sendiri. Lakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan Anda. Dari situ, kembangkan diri dengan fokus pada investasi pengetahuan dan keterampilan. Ini berarti terus belajar dan berlatih, baik melalui pelatihan formal maupun informal. Perluas jaringan dengan berinteraksi dalam komunitas profesional dan ambil proyek kecil atau freelance di luar pekerjaan utama Anda. Dengan peningkatan keterampilan, jaringan, dan personal branding, value Anda akan meningkat.

Jika merasa stuck dalam karier, temukan kembali motivasi dengan mengeksplorasi apa yang benar-benar Anda nikmati (ikigai). Fokus pada pengembangan diri dan pencapaian kecil yang membangun momentum. Perluas wawasan melalui networking, yang dapat membuka peluang baru. Seiring dengan peningkatan nilai diri, Anda akan memiliki lebih banyak opsi karier yang jelas dan relevan. Ini membuat jalur karier Anda lebih terbuka, memberikan lebih banyak pilihan dan arah yang bisa Anda ambil di masa depan.

Keterampilan apa saja yang perlu dimiliki oleh fresh graduate untuk bersaing di pasar kerja saat ini? Bagaimana cara mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan di dunia kerja?

Fresh graduate perlu memiliki keterampilan komunikasi yang baik, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan teknologi yang relevan dengan industri mereka. Kemampuan untuk tidak mudah baper, tidak mudah menyerah, siap menghadapi tantangan, tidak mudah bosan, dan tidak perhitungan juga sangat penting. Inisiatif dalam bertanya dan bekerja menjadi krusial; jangan malu untuk melakukan kesalahan dan mencoba hal baru, asalkan tahu bagaimana memperbaikinya. Semua keterampilan ini dapat dikembangkan melalui pengalaman kerja magang, baik yang dibayar maupun tidak, karena pengalaman tersebut menjadi value utama bagi fresh graduate.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan di dunia kerja, penting untuk memperbanyak pengalaman, tanpa terlalu memperhitungkan gaji dan manfaat awal. Fokuslah pada penguasaan hard skill dan soft skill sebanyak mungkin. Internship memberikan kesempatan untuk belajar langsung di lapangan, yang sangat berharga dalam membangun keterampilan yang diperlukan untuk bersaing di pasar kerja. Melalui pengalaman ini, fresh graduate dapat mengasah kemampuan mereka dan menambah nilai diri di mata calon pemberi kerja.

keseruan-menjadi-hr-faradilah-tahun-2025

Apa pendapat Anda tentang pentingnya mental health di tempat kerja?

Sebagai HR, kesehatan mental karyawan harus menjadi prioritas utama. Meski masih ada generasi sebelumnya yang memegang posisi kepemimpinan di perusahaan dan menganggap isu ini sebagai hal yang tabu, penting untuk diakui bahwa karyawan yang bahagia cenderung lebih produktif. Di sinilah peran HR diuji. HR yang baik akan tetap membuat kebijakan yang humanis tanpa mengurangi produktivitas karyawan.

Kesehatan mental di tempat kerja berdampak langsung pada produktivitas dan kepuasan kerja. Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental, perusahaan dapat meningkatkan kinerja karyawan. HR harus mendorong kebijakan seperti fleksibilitas kerja, program kesehatan mental, dan pelatihan manajerial untuk mengelola stres. Dengan demikian, karyawan merasa didukung, yang pada akhirnya meningkatkan loyalitas dan kinerja mereka.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh HR saat ini?

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh HR saat ini adalah adaptasi terhadap perubahan cepat di dunia kerja, terutama dengan kemajuan teknologi dan perubahan harapan karyawan. Budaya hustle yang sebelumnya disukai perusahaan mulai tidak relevan dengan pekerja generasi sekarang yang lebih memilih fleksibilitas seperti remote working.

HR harus mampu mengelola tenaga kerja yang semakin beragam dan tersebar secara global, serta menangani isu-isu seperti remote working, upskilling karyawan, dan kesehatan mental. Untuk menghadapi tantangan ini, HR perlu terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan kebijakan yang adaptif dan proaktif untuk mendukung kesejahteraan karyawan tanpa mengurangi produktivitas.

tantangan-sebagai-hr-faradilah-tahun-2025

Bagaimana Anda melihat masa depan dunia kerja dalam 5-10 tahun ke depan?

Dalam 5-10 tahun ke depan, dunia kerja akan semakin dipengaruhi oleh teknologi seperti kecerdasan buatan, otomatisasi, dan big data. Pekerjaan rutin akan berkurang, sementara keterampilan analitis, kreativitas, dan kemampuan interpersonal akan menjadi lebih dihargai. Organisasi akan berfokus pada fleksibilitas kerja, dengan lebih banyak pekerjaan remote dan model kerja hybrid yang menjadi norma. Selain itu, keberlanjutan dan tanggung jawab sosial akan semakin menjadi fokus utama, mendorong perusahaan untuk menjadi lebih ramah lingkungan dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Di masa depan, akan ada peningkatan pekerjaan yang sifatnya freelance dibandingkan full-time, karena banyaknya layoff yang terjadi, bahkan di perusahaan besar. Konsep job security akan bergeser, membuat individu lebih mengandalkan keterampilan mereka untuk tetap relevan di pasar kerja. HR akan berperan penting dalam membantu organisasi dan karyawan beradaptasi dengan perubahan ini, memastikan mereka tetap kompetitif dan mampu menghadapi tantangan baru di era kerja yang semakin dinamis.

Mengapa penting membangun branding diri saat ini lewat media sosial? Adakah do's and dont's-nya?

Membangun branding diri lewat media sosial sangat penting di era sekarang karena komunikasi telah bergeser ke platform digital. Media sosial memungkinkan individu untuk menunjukkan keahlian, nilai-nilai, dan kepribadian mereka kepada audiens yang lebih luas. Dengan personal branding yang kuat, peluang karier dan kolaborasi menjadi lebih besar dan luas, membantu individu ditemukan oleh rekruter atau mitra potensial. Selain itu, personal development bisa lebih maksimal jika dibarengi dengan personal branding yang tepat, karena ini membantu memperkuat posisi seseorang dalam industri dan membuka jalan untuk pertumbuhan profesional.

Do's dalam membangun branding diri mencakup konsistensi dalam konten yang diposting, menjaga profesionalisme, dan berinteraksi dengan audiens secara positif. Selalu pastikan bahwa konten yang dibagikan sesuai dengan nilai dan tujuan profesional. Sebaliknya, don'ts meliputi menghindari posting konten yang kontroversial atau tidak sesuai dengan nilai profesional, serta menghindari oversharing informasi pribadi. Menjaga citra positif dan autentik sangat penting untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas di media sosial.

Inspirasi dari para expert lainnya bisa Anda temukan di Rubrik Profil Loker ID!