Faishal Mutawakkil : Pentingnya Menjadi Kreatif dan Belajar Terus Biar Bisa Aplikatif di Lintas Departemen

Bekerja di dunia kreatif dapat membuka peluang untuk berkarier lintas departemen. Seperti yang dijalani Faishal Mutawakkil atau biasa dipanggil Ical ini, pernah bekerja sebagai video producer, content specialist, sampai creative lead. Saat ini, alumni jurusan Televisi dan Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tahun 2020 ini sedang menjalani freelance dengan jobdesk yang lebih banyak berkutat di sound editing dan beberapa content plan untuk social media. Seperti apa perjalanan karier Ical dan bagaimana dia memaknai proses kreatifnya dalam bekerja? Simak lebih lanjut di sini!
Halo, boleh memperkenalkan diri, nama, latar belakang pendidikan dan profesi saat ini?
Nama saya Faishal Mutawakkil, biasanya orang-orang panggil saya Faishal atau Ical. Saya lulus dari jurusan Televisi dan Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran di tahun 2020. Kalau profesi sekarang sedang jalanin freelance aja, cuma yang agak beda justru freelance saya lebih banyak berkutat di sound editing atau music scoring, meskipun ada beberapa project yang berhubungan dengan posisi kerja sebelumnya kaya bikin content plan untuk social media.
Kalau tidak salah profesi terakhir adalah sebagai Creative Lead dengan rangkaian perjalanan karier, boleh diceritakan bagaimana Anda bisa mencapai posisi ini dan yang membedakannya dengan profesi sebelumnya?
Awalnya saya terjun ke dunia konten itu sebagai videographer di salah satu media online yang fokusnya adalah cryptocurrency dan blockchain, kemudian saya dipercaya untuk menjadi video producer, jadi sudah memiliki tim yang terdiri dari 2 orang videographer. Setelah itu saya pindah ke perusahaan yang punya 2 core business, media dan agensi, sebagai Content Specialist. Beberapa bulan kemudian saya naik menjadi Head of Content yang punya tim sekitar 3-4 orang. Lalu saya pindah ke agensi digital yang fokusnya adalah social media marketing dan influencer marketing sebagai Creative Lead dengan tim 5 orang. Sebenarnya perbedaannya ada di workflow perusahaan dan klien (karena setiap klien pasti punya sifat beda-beda ya). Karena semua profesi saya berhubungan dengan konten, jadi kurang lebih mirip-mirip. Yang membedakan hanya skala klien, tim dan tanggung jawab yang semakin besar. Kalau sebelumnya sebatas memperhatikan copy-nya betul atau salah, di profesi terakhir saya memperhatikan visualnya juga.
Adakah pengalaman atau momen tertentu yang menjadi titik balik dalam karir Anda?
Titik balik saya mungkin ketika saya dipercaya untuk menjadi Head of Content. Karena belum ada setahun dari posisi saya sebagai content specialist, saya langsung dipercaya untuk menjadi pemimpin. Ini sebenernya bisa dibilang keberuntungan juga ya, jadi ada salah satu klien personal branding finansial di perusahaan saya bekerja. Dan karena kebetulan saya sebelumnya pernah bekerja di media yang membahas investasi, saya dipercaya untuk membuat konten untuk klien tersebut. Beberapa kolega lain tidak menyanggupi untuk menulis konten berbau ekonomi atau finansial, tapi saya berani ambil dan untungnya klien senang dengan hasil kontennya. Dari situ saya dipercaya untuk menjadi Head of Content.
Bagaimana Anda mengembangkan kemampuan dan keahlian Anda di bidang strategi kreatif?
Pastinya selalu mengikuti tren, dan perbanyak referensi. Salah satu contoh referensi yang saya pakai dalam proses pembuatan deck adalah deckofbrilliance.com selain itu sering berdiskusi dengan pelaku industri kreatif. Di beberapa tempat saya bekerja, saya kadang meminta tim untuk membawa berita apapun per minggunya, supaya kita bisa tetap up to date bareng-bareng.
Apakah Anda mengikuti pelatihan atau kursus khusus untuk meningkatkan kemampuan Anda?
Kalau dari saya pribadi, saya jarang mengikuti kursus atau pelatihan, karena biasanya online dan jadi kurang efektif. Tapi beberapa perusahaan tempat saya bekerja sangat suportif terhadap karyawannya, jadi diadakan pelatihan dengan mendatangkan pelaku industri kreatif yang jauh lebih senior dan mengajarkan kita beberapa materi.
Ceritakan tentang beberapa proyek strategi kreatif yang paling tidak bisa Anda lupakan?
Kalau ditanya terkait project-nya itu sendiri, mungkin hampir semuanya mirip-mirip ya. Ada yang achieve target, ada juga yang tidak. Tapi tidak ada yang misal achieve 500% dari target awal. Tapi kalau proses pembuatannya, mungkin yang saya tidak akan lupa ada salah satu klien platform ticketing ingin membuat campaign lewat influencer marketing. Briefnya masuk sekitar jam 2-3 sore, dan diminta untuk dikirimkan proposalnya di jam 6 sore. Sangat dadakan, tapi tetap kita kerjakan. Saya dengan satu orang strategist lain mengerjakan dengan waktu seadanya hingga akhirnya kita submit. Dan surprisingly, klien mau execute projectnya dengan ide yang kita siapkan selama kurang lebih 4 jam saja. Padahal ketika submit kita sudah nothing to lose, karena merasa kurang maksimal.
Bagaimana Anda mengukur keberhasilan strategi kreatif yang Anda jalankan?
Menurut saya, ada dua tolak ukur keberhasilan strategi kreatif. Pertama, klien suka. Kedua, metriks itu sendiri, entah objective content-nya ingin menaikan followers, engagement, ataupun reach. Kalau klien suka strateginya tapi kita enggak achieve objective-nya, berarti strategi kita kurang maksimal. Apalagi kalau klien enggak suka dengan strateginya, kita bahkan enggak akan bisa ngukur metriksnya karena campaign-nya udah pasti enggak jalan.
Adakah tantangan yang Anda hadapi sebagai Creative Strategist/Creative Lead dan bagaimana Anda mengatasinya?
Setiap pekerjaan apapun profesinya pasti memiliki tantangan tersendiri. Kalau diambil dari posisi saya sebagai creative lead, tantangan utamanya adalah saya harus bisa melakukan supervisi desain. Padahal basic-nya saya berangkat dari video dan copy, tidak bisa mendesain secara profesional. Tapi saya belajar untuk memahami bagaimana sih desain yang bagus, pemilihan warna yang baik kaya gimana sih, ini saya lakukan dengan baca buku, artikel atau dengerin podcast yang memang spesifik membahas desain.
Bagaimana Anda membangun kolaborasi yang efektif dengan tim lain, seperti tim marketing, desain, dan pengembangan?
Nah ini juga yang menjadi tantangan sebagai creative strategist. Yaitu memiliki pemahaman terhadap brief yang diberikan klien. Dan brief ini harus dikomunikasikan secara efektif ke semua divisi atau tim lain dengan melakukan komunikasi yang transparan. Jadi tidak ada komunikasi yang dilakukan di personal chat. Karena sebagai creative lead, saya tidak mungkin memegang semua klien sendirian. Saya dibantu oleh tim, dan untuk mengetahui pekerjaan mereka, saya meminta mereka untuk melakukan komunikasi terbuka sehingga saya bisa melakukan supervisi. Dan saya sangat menghargai perbedaan pendapat, jadi meskipun ada masukan terkait kreatif yang bukan berasal dari tim kreatif, saya akan selalu mempertimbangkannya.
Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda sebagai Creative Lead?
Proses brainstorming bersama tim. Ini merupakan proses yang paling saya senangi, tapi harus dilakukan dengan efektif dan efisien. Jadi tidak diburu-buru waktu, atau di jam-jam rawan ngantuk. Ketika waktunya pas, proses ini sangat menyenangkan karena akan selalu ada ide-ide baru yang muncul entah itu serius atau nyeleneh.
Apa saran Anda untuk para calon Creative Lead yang ingin sukses di bidang ini?
Kalau tujuannya adalah menjadi creative lead, saran paling utama saya adalah belajar memimpin. Buat saya pribadi, belajar memimpin itu lebih sulit dari belajar menjadi kreatif. Karena enggak semua orang bisa dan mau meluangkan waktu untuk memahami karakter masing-masing anggota timnya. Mungkin semua orang bisa jadi pemimpin, tapi enggak semua orang bisa menjadi pemimpin yang baik. Kalau dari sisi kreatifnya, asah terus kemampuan berpikir kreatif dan jangan takut meminta feedback dari orang-orang sekitar. Bahkan boleh banget minta feedback dari teman yang bahkan ga kerja di industri kreatif, karena mereka bakal kasih perspektif baru.
Bagaimana kami dapat mengikuti perkembangan karya dan portofolio Anda?
Kalau mau lihat ada disini https://faishalmutawakkil.wixsite.com/faishal-mutawakkil