Dyani Mustikarini: Full Time, Freelance, Buka Usaha, Income Lebih Dari Satu

Siapkan kopi dan gorengan, karena perbincangan kali ini akan panjang. Meski panjang, dijamin usai membaca obrolan ini Anda akan tercerahkan! Kali ini Loker ID mengobrol dengan Dyani Mustikarini yang sudah berkarier selama 11+ tahun di dunia digital marketing. Pernah switch career, palugada; full time iya freelancer juga iya, freelancer sampai buka usaha. Selama mendayung di lautan karier, satu hal yang Dyani highlight adalah pentingnya memiliki lebih dari satu income.
Di tengah ketidakpastian kondisi bursa kerja saat ini, penting untuk memiliki backup demi kelangsungan perut dan jangan lupa passion. Passion-lah penggerak sejati roda karier, karena tanpa passion pekerjaan, bos, dan gaji yang segitu-gitu saja akan membuat kita mentok.
Oh ya, Dyani juga menyoroti fenomena sertifikasi yang akhir-akhir ini juga ramai dibahas. Ketika sertifikat menjadi penunjang utama seorang expert mendapatkan pekerjaan atau terlibat dalam suatu proyek. Seberapa penting sertifikasi, apakah untuk validasi belaka? Yuk, kita langsung sikat obrolannya di sini!
Bisa ceritakan sedikit tentang pengalaman Anda sebagai Digital Marketing Performance & Media Planner? Apa yang paling Anda sukai dari peran tersebut?
Saat pertama kali saya memutuskan switch role dari Digital Analytics menjadi Digital Performance Lead & Media Planner, awalnya memang karena merasa mulai cukup jenuh menjadi Digital Analyst dan memang sudah lama ingin terjun langsung menjadi planner dan optimizer di dunia periklanan digital karena ya memang sudah jatuh cinta aja gitu saat pertama kali mengetahui ada bidang pekerjaan ini.
Kalau ditanya kenapa jatuh cinta, susah juga yah karena terkadang jatuh cinta itu tanpa alasan. Kemudian di saat saya memiliki niat untuk switch role pas banget ada offering untuk menjadi Digital Marketing Performance & Media Planner di salah satu start-up retail ecommerce. Akhirnya, saya berhasil mewujudkan cita-cita kecil untuk bergelut di bidang periklanan digital.
Peran yang paling disukai dari role Digital Marketing Performance & Media Planner adalah hampir semua skill terasah mulai dari soft skill yang mengharuskan kita berkomunikasi, bekerja sama dan menyelesaikan berbagai macam masalah yang ada dengan berbagai pihak eksternal maupun internal, hingga hard skill dari sisi teknis mulai dari how to develop media strategy, to optimize the performance, to create a good ad creative brief, sampai dengan how to automate report dan how to interpret the data, semua dipelajari. Cakupan pekerjaan ini memang cukup luas tapi uniknya bisa dapat banyak banget ilmu apalagi jika bertemu dengan mentor dan orang yang tepat saat bekerja untuk role ini. Pada intinya, memang saya tipe yang suka kalau role pekerjaannya itu seimbang antara soft skill dan hard skill apalagi melalui role pekerjaan ini saya juga bisa mengasah sisi kreativitas saya.
Bagaimana transisi Anda dari peran korporat ke menjadi freelancer? Apa tantangan terbesar yang di hadapi?
Transisi menjadi karyawan korporat ke freelancer tentunya tidak mudah karena harus beradaptasi kembali dengan dunia pekerjaan yang baru. Tantangan terberat tentunya dari sisi pengelolaan keuangan karena menjadi freelancer pemula, fee yang didapatkan tidak sebaik dan kurang stabil jika dibandingkan dengan karyawan korporat. Kemudian, challenge berikutnya adalah manajemen waktu, memang menjadi freelancer cenderung memiliki waktu yang fleksibel.
Namun, terkadang karena fleksibilitas ini lah yang membuat kita jadi lupa waktu terutama di saat load kerja sedang tinggi, sedangkan saat menjadi karyawan full time di korporat walaupun terkadang ada over time juga namun waktu bekerja lebih teratur setiap harinya dari jam 09.00 - 18.00. Sedangkan saat menjadi freelance bisa lebih dari itu saat load sedang tinggi dan bisa hanya kerja 1 jam aja kalau load kerjanya lagi sangat rendah.
Saat ini Anda bekerja sebagai Analytics and Product Research Manager secara freelance. Bisa jelaskan lebih detail tentang tanggung jawab Anda dalam peran ini?
Di atas kertas role pekerjaan ini sebenarnya fokus pada menganalisa performa website dan memastikan setiap improvement atau keputusan berdasarkan data dengan kata lain data-driven action. Selain itu, role ini juga memberikan kesempatan kepada saya untuk lebih dekat dengan user dengan menjalankan market research yang bertujuan menggali insights dari sisi pengguna dimana hasil market research ini akan digunakan untuk product development dan peningkatan user experience. Namun, karena saya menjadi freelancer di start up jadi sering kali saya mendapatkan pekerjaan di luar SOW di atas kertas, tetapi sejauh ini masih bisa saya handle dengan baik sehingga saya masih melanjutkan kontrak kerja freelancer sebagai Analytics and Product Research Manager.
Bagaimana Anda mengelola beberapa proyek sekaligus sebagai freelancer? Apakah ada tips khusus yang Anda gunakan?
Menurut saya, pengaturan jadwal itu sangat penting. Dengan adanya jadwal yang pasti dapat membantu saya mengalokasikan waktu untuk mengerjakan satu proyek ke proyek lainnya dan mencegah terjadinya bentrok antara satu proyek dengan proyek lainnya. Selain pengaturan jadwal, hal penting lainnya adalah membuat priority list sehingga saya dapat mengetahui prioritas utama yang harus dikerjakan setiap harinya dan tugas mana yang dapat dikerjakan belakangan. Kunci terakhir adalah komunikasi, saya selalu memberikan informasi kepada pihak-pihak terkait jika schedule saya sedang full, jika saya sedang overwhelmed atau bahkan jika kondisi fisik saya sedang tidak fit. Dengan komunikasi yang baik, saya meyakini pihak-pihak terkait akan merasa terinformasikan dengan baik dan setiap project yang ada dapat tetap berjalan dengan lancar. Ketiga hal tersebut saya rasa bukan tips khusus namun lebih kepada hal-hal yang menurut saya penting jika kita ingin mengelola beberapa proyek dengan baik dalam waktu yang berdekatan.

Selain menjadi freelancer, Anda juga merintis usaha beauty products di ecommerce. Apa yang memotivasi Anda untuk memulai bisnis ini? Dan sejauh ini seperti apa tantangannya?
Setiap kali ditanya kenapa memulai usaha kategori tertentu, misalkan “kenapa kok mau jualan produk beauty? atau kenapa kok jualan hijab?” jujur saya suka bingung mau menjawab apa. Kalau dijawab “passion dan suka” pasti ada saja yang bingung dan mengernyitkan dahi hehe, mungkin jawaban seperti ini terlalu cliche kali ya jadi orang yang mendengar jawaban ini kurang puas. Kembali ke pertanyaan “apa sih yang memotivasi pertama kali sampai pada akhirnya berani merintis usaha?” jawabannya adalah karena tersadar setelah adanya isu PHK bahwa sumber income hanya dari 1 keran itu ‘berbahaya’ dan akhirnya memberanikan diri untuk memulai juga setelah ditunda selama bertahun-tahun. Alasan lain mungkin sudah saatnya upgrade diri dengan belajar bagaimana menjalankan bisnis dari nol dan belajar menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan tim yang masih kecil setelah lebih dari 11 tahun merasakan lika-liku kehidupan dan suka duka sebagai karyawan di korporat.
Sebelum masuk ke tantangan memulai bisnis, boleh ya promosi usaha online saya dulu hehe. Yuk, boleh yuk main ke Instagram https://instagram.com/sunnydee.id dan belanja juga ya di toko Shopee bit.ly/sunnydee-id. Oh ya gak cuma produk beauty, saya juga lagi mencoba merintis usaha Fashion Muslim untuk wanita juga dimulai dari hijab yaitu https://instagram.com/allure.dydee. Mohon dukungan dan masukannya, ya!
Tantangan memulai usaha? Banyak banget sampai terkadang terbesit pikiran “apa nyerah aja yah?” tapi bukannya menyerah malah semakin ingin menunjukkan dimana ada kemauan di situ ada jalan dan lebih baik gagal karena pernah mencoba daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali. Tantangan pertama adalah merespon orang-orang yang bertanya “kenapa kok ambil jalan ini? Kenapa jualan itu?” Ini lumayan berat untuk saya menjawab pertanyaan ini, sebagai seorang introvert yang pemikir bahkan sampai pendapat orang lain aja dipikirkan untuk hal ini. Sudah beberapa kali menjawab pertanyaan seperti ini, kalau ‘salah’ atau gak sesuai ekspektasi orang tersebut, saya bisa kepikiran berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan sampai sekarang pun saya belum tau apa sih memang jawaban yang tepat untuk pertanyaan seperti ini? Karena menurut saya kalau menjawab mencoba peruntungan usaha untuk mencari cuan, itu sudah hal yang pasti gak sih dan gak perlu ditanyakan lagi, makanya saya coba menjawab dengan berbagai variasi jawaban.
Kemudian, tantangan kedua adalah keterbatasan modal. Tidak bisa dipungkiri modal usaha itu penting banget. Memang sampai saat ini saya masih kekeh untuk menggunakan modal dari tabungan saya sendiri dan sejauh ini masih sanggup, tapi ya itu dia karena keterbatasan modal gerak dan progress-nya jadi pelan-pelan sekali berbeda dengan progress bisnis yang memang mendapatkan suntikan dana dari investor atau pinjaman ke bank.
Tantangan ketiga adalah sumber daya manusia. Untuk hal ini memang menjadi tantangan setiap pelaku usaha UMKM, modal dan sumber daya manusia berkaitan erat. Modal yang terbatas tentunya mengakibatkan kami pelaku usaha UMKM hanya bisa hiring tim kecil saja atau bahkan mungkin ada pelaku usaha UMKM yang melakukan segala halnya sendirian. Pada awalnya saya juga ingin melakukan semuanya sendirian, namun semakin mendalami lika-liku usaha, saya semakin sadar bahwa saya hanya memiliki waktu 24 jam sehari yang artinya waktu yang saya miliki selalu terasa kurang jika semua pekerjaan di dalam usaha saya ini saya kerjakan sendirian.
Saya juga semakin mengerti pentingnya mendelegasikan tugas dan membangun networking. Oleh sebab itu, saya mulai merekrut teman dan kenalan dari komunitas untuk membantu saya menjalankan kedua usaha kecil-kecilan saya ini. Selain itu, tidak semua hal bisa dialihkan ke vendor atau agency karena bagaimanapun tim internal dibutuhkan untuk merancang strategi perkembangan bisnis dengan lebih rapi dan terstruktur dari dalam perusahaan kecil ini, ya walaupun sampai sekarang pun masih banyak yang harus diperbaiki sih, tapi setidaknya dengan memiliki tim kecil lebih terasa kemajuannya dan ada rekan yang dapat melakukan diskusi erat secara berkala.
Bagaimana menurut Anda kondisi pasar kerja saat ini, terutama untuk bidang digital marketing?
Kondisi pasar kerja secara umum di tahun 2024 ini memang sebenarnya tidak baik-baik saja, terjadi banyak PHK dimana-mana dan untuk mendapatkan pekerjaan baru cukup sulit. Selama saya bekerja di korporat jujur saja saya tidak pernah menggunakan “the power of orang dalam” dan selalu bisa mendapatkan pekerjaan atas usaha saya sendiri. Namun, saya merasakan sendiri bahwa saat ini cukup sulit untuk kembali mendapatkan pekerjaan di korporat, bahkan saya pada akhirnya mencoba menghubungi teman saya untuk mendapatkan bantuan dari dalam ternyata tetap saja tidak mudah mendapatkan pekerjaan walau sudah menggunakan kekuatan “networking” tersebut.
Mungkin, memang belum rezeki saya tapi untuk saat ini saya memutuskan untuk kembali rehat mencari pekerjaan full time di korporat, sepertinya ini sudah kali ketiga saya rehat untuk mencari pekerjaan korporat sejak bulan Februari 2024 (pada bulan ini merupakan periode pertama kali saya aktif interview untuk mendapatkan jodoh kantor baru setelah mendengar issue akan ada PHK di kantor saya, kali kedua kalau tidak salah saat bulan September 2024).
Saya rasa kondisi job market secara umum dan secara khusus untuk digital marketing pun sama, tidak ada perbedaan. Walau banyak lowongan kerja digital marketing saat ini namun begitu banyak faktor yang menyebabkan betapa sulitnya job market saat ini termasuk untuk bidang digital marketing. Role untuk digital marketing juga sudah tidak ‘seseksi’ saat tahun 2013 - 2018 dan banyaknya perusahaan teknologi serta start up yang tumbang pasca COVID-19 menyebabkan kompetisi job market digital marketing menjadi sangat tinggi. Selain itu, sepengetahuan saya banyak company yang sedang mengerem budget untuk digital marketing termasuk company tempat saya bekerja full time terakhir kali, sehingga hal ini juga menjadi salah satu faktor sulitnya mendapatkan pekerjaan baru di bidang digital marketing.

Apa yang menurut Anda menjadi skill yang paling dicari saat ini di bidang digital marketing?
Skill no. 1 yang tentunya saat ini menjadi penting di semua bidang terutama digital marketing adalah kemampuan memanfaatkan AI. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa AI sudah merambah ke segala bidang, termasuk untuk pekerjaan digital marketing. Kemampuan kita untuk menggunakan teknologi AI mulai dari memanfaatkan AI untuk melakukan riset, membantu membuat referensi creative atau banner iklan, mencari ide untuk copywriting dan berbagai hal lainnya, menjadi hal yang sangat penting dalam digital marketing. Tools dan dashboard digital marketing juga banyak yang sudah menggunakan teknologi AI sehingga skill untuk memahami penggunaan AI dan cara kerjanya menjadi poin utama untuk menjadi digital marketer yang baik serta up to date di era serba AI ini.
Hal berikutnya yang saat ini masih sangat niche tetapi juga menarik adalah Gen AI (Generative AI) dalam digital marketing, the advanced level of AI ini dapat membantu digital marketer menciptakan konten image dan video yang lebih advance dan personal sehingga cenderung lebih ‘luwes’ dibanding konten AI generator yang standar. Sayangnya untuk mempelajari Gen AI saat ini membutuhkan modal yang cukup tinggi, harga e-course atau e-learning untuk Gen AI saat ini juga sangat mahal.
Bagaimana Anda melihat tren perkembangan karir di masa depan, terutama di era digital seperti sekarang?
Sebelum era digital, karir yang dianggap cemerlang oleh masyarakat umum, tentunya dengan penghasilan yang stabil dan cenderung tinggi, biasanya hanya melekat pada profesi-profesi tertentu seperti dokter, insinyur, arsitek, pengacara, ASN dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu terutama di era digital ini semakin banyak pekerjaan-pekerjaan baru yang berkembang dan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat bahkan bisa dijadikan pilihan berkarir seperti digital marketer, content creator & influencer dan affiliator. Pekerjaan ini memang memiliki kompetisi yang sangat tinggi, namun cukup menjanjikan dari sisi penghasilan maupun seberapa lama profesi baru ini dapat bertahan. Profesi-profesi baru ini selama era digital akan tetap bertahan dan mungkin akan terus berkembang karena memang digital era itu sangatlah dinamis, jadi tinggal bagaimana kita yang memutuskan untuk terjun dan berkarir di profesi baru ini pintar-pintar beradaptasi terhadap setiap perkembangan teknologi yang ada.
Perkembangan teknologi tentunya memiliki dua sisi mata pisau, yang negatif sebaiknya kita saring dan hindari dan tentunya kita perlu embrace sisi yang positif. Misalnya saja perkembangan teknologi AI yang pastinya memiliki negative side effects seperti digunakan untuk tindakan kriminal, cyber bullying, dimanfaatkan untuk efisiensi SDM yang mengakibatkan berkurangnya lapangan kerja pada posisi tertentu atau mungkin seperti cerita-cerita pada film science fiction dimana AI robotic bisa mengambil alih dunia dan mengalahkan manusia? Hehe who knows, hal ini bisa terjadi di masa depan. Namun, saya rasa jika kita bisa embrace sisi positif dari AI, para SDM yang dapat beradaptasi dan hidup berdampingan dengan AI dan mengasah sisi kreativitasnya untuk memanfaatkan teknologi AI akan lebih berkembang dan dapat bertahan di dunia serba digital kedepannya.
Jadi, kesimpulannya perkembangan tren karir di masa depan semua profesi yang telah ada selama ribuan tahun sampai profesi-profesi baru yang muncul beberapa tahun belakangan ini pada dasarnya harus agile dan berani ‘masuk’ ke dunia digital, AI dan entah ada teknologi apalagi di masa depan yang harus dirangkul oleh setiap profesi yang ada.
Seberapa penting menurut Anda untuk terus meningkatkan skill di bidang digital marketing?
Dulu waktu tahun 2008 - 2013, di Indonesia hanya sedikit yang paham apa itu digital marketing. Kemudian, pada tahun 2013 hingga saat ini semakin banyak yang menggeluti karir sebagai digital marketer bahkan orang-orang yang awam terhadap bidang digital marketing mulai mempelajari ilmu ini karena tuntutan zaman dan mereka juga mulai ingin upgrade skill pada diri mereka. Dengan kata lain, terus belajar dan tidak pernah puas merupakan kalimat motivasi yang menurut saya sangat penting agar setiap digital marketer secara berkala meningkatkan skill di digital marketing. Jadi, jika kita ingin terus bertahan dan bahkan berkembang pesat di era digital ini, belajar ilmu-ilmu baru seputar digital marketing hingga khatam sangatlah penting.
Bagaimana Anda biasanya belajar hal-hal baru dan mengembangkan skill?
Dari ketertarikan kemudian ya “nyemplung aja dulu” atau learning by doing. Tertarik terhadap suatu hal yang baru itu biasanya baru dapat 1 poin tapi dengan nyemplung score bisa naik perlahan ke 50 bahkan pelan-pelan akan ke 100 kalau benar-benar mempraktekan ilmu yang baru tersebut secara rutin. Belajarnya dari mana? Tentu saja dari berbagai macam sumber, dimana di digital era ini banyak sumber yang bisa kita temui bahkan kita juga bisa cross reference untuk reconfirm keakuratannya. Kita bisa belajar dari search engine, AI, platform social media, Youtube, dan platform online learning. Oh ya, join komunitas juga menjadi salah satu sumber untuk belajar hal-hal baru, improve skill dan bangun networking baru.
Apa saja tantangan yang sering dihadapi saat ingin meningkatkan skill?
Tantangan terberat bagi saya saat ingin meningkatkan skill adalah konsistensi. Di saat mempelajari skill baru, hampir semua orang pasti excited, namun semangat bisa menurun di tengah jalan, hal ini juga berlaku terhadap diri saya. Namun, ada satu hal yang saya sadari jika saya bisa terus konsisten mempelajari suatu skill dan semangat tetap membara walau lelah belajar berarti memang saya cocok dan benar-benar menyukai bidang tersebut.
Tetapi apabila saya tiba-tiba berhenti, itu artinya saya tidak cocok terhadap bidang tersebut walaupun jika dipaksakan saya bisa, tapi jika bidang baru tersebut tidak menjadi passion saya, biasanya saya akan cenderung accept bahwa saya tahu saya bisa tapi ini bukan passion saya dan kemudian saya akan move on ke interest saya yang lain atau mungkin kembali ke bidang yang saya geluti karena 1 bidang saja, let’s say digital performance advertising saja sangat dinamis dan tentunya selalu ada ilmu-ilmu baru yang dapat dipelajari.
Selain soal konsistensi, timing juga penting saat sedang mempelajari hal baru untuk meningkatkan skill. Jika piring sudah terasa penuh, maka tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk belajar skill baru. Oleh sebab itu, saat akan mempelajari hal baru, kita harus yakin terlebih dahulu bahwa timing atau momennya juga tepat sehingga kita bisa menyediakan waktu khusus untuk mempelajari hal baru ini.
Bagaimana Anda melihat pentingnya sertifikasi atau gelar tambahan dalam dunia kerja saat ini?
Menurut saya, sertifikasi memiliki 2 sisi yang saling berseberangan. Di satu sisi sertifikasi punya peran yang penting untuk menambah nilai jual kita sebagai individu maupun sebagai kandidat untuk melamar di kantor baru. Selain itu, sisi positif lain dari sertifikasi adalah menambah knowledge dan juga memperluas networking apalagi jika lembaga atau penyedia sertifikasi yang kita ambil memiliki komunitas yang aktif. Namun, jujur saja menurut saya sertifikasi juga memiliki efek samping negatif yang mungkin tidak terlihat secara gamblang ya, yaitu sertifikasi menjadi tolak ukur bahwa individu tersebut cakap dalam bidang tertentu dan seolah mendiskreditkan individu lain yang tidak mengambil sertifikat.
Hal ini saya rasakan sendiri, di saat saya belum sempat untuk mengambil sertifikat Google Ads tidak ada satupun offering new job opportunity yang masuk padahal secara jam terbang sudah cukup dan saya berkecimpung di dunia ini in a daily basis. Begitu pula dengan individu yang mungkin sudah pernah ambil sertifikasi namun karena masa berlaku sudah habis dan belum sempat kembali mengambil sertifikasi ini, mungkin juga akan merasakan hal yang sama. Namun, untuk sisi negatif ini masih dapat teratasi, karena kita bisa mengalokasikan waktu untuk ‘mempercantik’ pengalaman kerja kita dengan mengambil sertifikasi yang sesuai dengan role pekerjaan yang kita ambil.
Another negative sides yang membuat saya sedikit resah adalah di era digital ini terlalu banyak pihak yang bisa dengan mudahnya memberikan sertifikasi, jikalau memang lembaga yang kredibel atau lembaga yang didirikan oleh pihak yang memang memiliki skill set yang mumpuni dan jam terbang yang tinggi, itu tidaklah masalah. Namun realitanya banyak juga pihak-pihak yang ‘memanfaatkan’ audiens yang haus akan ilmu dengan mengadakan kelas online berbayar dan memberikan sertifikasi dengan “sangat mudah” sehingga audiens yang join yang mungkin belum terlalu paham dengan persoalan ini bisa saja dengan bangganya akan memajang sertifikat tersebut padahal ilmu yang mereka dapatkan barulah ‘kulitnya’ saja yang sebenarnya bisa didapatkan secara gratis jika mereka melakukan research lebih dalam. Belum lagi terkadang pihak-pihak tidak bertanggungjawab itu juga biasanya belum tentu mereka adalah expertise dalam bidang tersebut. Ya mungkin memang hal ini sudah lumrah terjadi karena memang hingga saat ini belum ada regulasi yang mengatur lembaga, institusi atau individu di Indonesia yang mana yang benar-benar boleh mengeluarkan sertifikasi.

Setujukah Anda kalau zaman sekarang ini kita enggak bisa menggantungkan diri pada satu income saja? Boleh diceritakan pendapat Anda mengenai hal ini?
Setuju banget! Sebenarnya saya sudah aware mengenai pentingnya mencari lebih dari satu income stream, hal ini telah saya yakini sejak 8 tahun yang lalu. Saat itu saya sudah rutin membuka jalur income lain melalui side job saat menjadi full time employee di salah satu digital agency di Jakarta. Namun, sejak saya pindah ke kantor terakhir karena saya load kerja tinggi dan saya sudah lelah setiap kali pulang dari kantor, maka sejak itu saya lepas side job saya dan fokus bekerja full time saja.
Bahkan di masa pandemi COVID-19, saya mulai serius menabung dan iseng-iseng melakukan investasi saham karena saat itu saya merasa lebih bisa mengatur waktu antara bekerja dan belajar investasi saham saat WFH pada masa pandemi. Namun, begitu kembali bekerja WFO saat masa new normal, saya kembali merasakan kesulitan untuk bekerja full time dan belajar investasi. Kemudian, tidak disangka-sangka pada akhirnya di bulan Juni 2024 terjadi badai PHK yang sebenarnya issue ini telah menyebar di kantor saya sejak akhir tahun 2023. Begitu saya mendengar masalah ini, saya langsung memutar otak apa yang harus saya lakukan setelah hal ini terjadi. Memang untuk pertama kali hal yang terlihat paling simple adalah mencari opportunity di kantor baru. Namun, ternyata hal ini tidaklah mudah seperti yang telah saya ceritakan mengenai job market yang sedang tidak baik-baik saja. Di saat saya berpikir keras, tercetuslah ide bahwa ini adalah saatnya saya untuk memulai usaha UMKM saya sendiri sembari bekerja freelance seperti saat ini karena saat merintis usaha memang pikiran dan tenaga banyak sekali terkuras untuk membangun sistem agar usahanya bisa berjalan lancar dan berkembang di kemudian hari.
Kesimpulannya, saya tidak menyesal saat saya memutuskan untuk hanya fokus bekerja full time. Namun, dari pengalaman saya, dengan terjadinya serangkaian peristiwa ini kembali ‘menampar’ diri saya terhadap realita bahwa menjadi karyawan korporat walau pegawai tetap sekalipun tidak akan pernah selamanya aman. Oleh sebab itu, memiliki lebih dari 1 income stream dan mempertahankannya adalah hal yang paling tepat untuk diri saya. Mungkin jika hal ini terjadi pada individu yang lain akan berbeda dampaknya dan keputusan yang akan diambil oleh individu tersebut. Saya meyakini memang yang paling tepat untuk diri saya adalah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk memiliki lebih dari 1 income stream demi kestabilan finansial saya saat ini dan di masa depan.
Ikuti terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan kisah inspiratif dan perspektif segar dari expert lainnya ya!