Diana Saragih: Hijrah dari Jakarta, Kembali untuk Membangun Medan

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 24 Oktober 2024
Rubrik Profil

diana-saragih-pekerja-kreatif-tahun-2024

Pernah merasakan kesibukan Jakarta dan bekerja seperti standar yang dinormalkan orang kebanyakan, ternyata tidak memberikan kedamaian kepada Diana Saragih meski secara finansial, ia lebih dari stabil. Itulah sebabnya mantan pegawai di kantor kepresidenan RI ini memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Medan dan menyeriusi industri kreatif--sesuatu yang sudah sejak lama menjadi passion-nya.

Seperti apa sepak terjang dan harapannya dalam berkarier terkhusus untuk Kota Medan dan industri kreatifnya? Baca ceritanya di sini!

Apa yang mendorong Anda untuk beralih dari jurnalis di Medan menjadi pekerja humas di Jakarta, kemudian kembali ke Medan dan fokus pada dunia film dan menulis?

Saya bekerja di Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Sosial era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di periode ke-2 beliau

menjabat, tepatnya pada Juni 2011 – Oktober 2014. Di masa bekerja di Jakarta itu saya sering menonton berbagai festival seni terutama film dan seni rupa yang digelar di berbagai artspace. Ini tidak saya nikmati saat tinggal di Medan. Ini kemewahan ibukota. Jadi saya berniat ingin

membagi pengalaman itu di kampung halaman saya, Medan, supaya banyak orang bisa menikmati seni yang dikemas apik dan berkelanjutan.

Karena saya penikmat film dan ingin membuat film saya sendiri, pada 2013 saya mulai mengambil kursus penulisan skenario dan film

production di SAE Institute. Sejak itu saya memutuskan fokus di produksi film dan penulisan cerita fiksi.

Apa yang pertama kali membangkitkan minat Anda pada dunia kreatif, khususnya film dan menulis? Apakah ada sosok atau karya tertentu yang sangat menginspirasi Anda?

Sejak SMP kelas 1 saya suka pelajaran Kesenian dan Bahasa Indonesia. Di Kesenian terutama melukis. Saya punya cat air yang di masa saya itu perlengkapan yang mahal, dan di kelas cuma saya yang punya. Cat air itu lungsuran dari abang saya yang kuliah di teknik mesin. Di kelas

Kesenian, kami membuat berbagai produk seni, namun yang paling saya sukai dan kuasai adalah melukis. Guru Kesenian saya memberi banyak apresiasi pada lukisan cat air saya meskipun tidak mendorong sampai ikut lomba. Tapi itu fondasi berpikir dan pengalaman saya di dunia seni, minatnya lahir di situ, berkreasi. Membuat karya.

SMA dan seterusnya saya tidak ada pelajaran Kesenian lagi, jadi latihannya stop, bahkan saya sulit melukis lagi seperti saat remaja. Waktu kuliah mulai baca novel-novel sastra terutama yang ditulis perempuan. Seperti Ayu Utami, Dee Lestari, Fira Basuki, dan Cerbung di Femina karya Zara Zetira ZR. Mereka menginspirasi saya bahwa penulis perempuan Indonesia itu berani dan cerdas.

Tantangan terbesar yang Anda hadapi saat memulai karir di dunia kreatif? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?

Karya pertama saya yang dirilis itu adalah buku kumpulan cerpen saya bertajuk TRAGEDI pada 2013. Ada 9 cerpen di situ yang ditulis di rentang masa kuliah dan bekerja sebagai jurnalis di Medan. Buku itu saya buat untuk mengabadikan cerpen-cerpen saya yang mulai saya lupakan.

Bekerja di Jakarta bagai kuda, meskipun masih banyak di seputar menulis, namun mengikis daya imajinasi saya. Saya tidak lagi membaca

buku sastra, apalagi menulisnya, tidak bisa. Rutinitas kerja merenggutnya. Tantangan itulah yang menyebabkan saya memutuskan memilih hengkang dari pekerjaan birokrasi di Jakarta dan dan kembali ke Medan, fokus di dunia seni terutama perfilman.

Tantangan lain adalah minimnya SDM perfilman di Medan. Itu bikin saya sempat frustrasi karena film adalah kerja tim yang solid. Dan itu tidak saya temukan di Medan saat awal-awal membuat film di sana.

https://www.youtube.com/watch?v=ktZqS-X5WFI

Bisakah Anda menjelaskan secara singkat proses kreatif Anda, mulai dari mendapatkan ide hingga menghasilkan karya akhir?

Seperti kebanyakan pekarya pada umumnya, proses kreatif dimulai dari melamun, berimajinasi. Membuat plot cerita di kepala sebelum akhirnya menuliskan kerangka cerita dari awal hingga akhir. Kemudian setelah mendapat garis-garis besar cerita, saya mulai menuliskan narasinya. Setelah naskah rampung, saya endapkan selama lebih dari sebulan. Kemudian saya baca ulang, sunting, revisi. Dan begitu seterusnya hingga mendapat hasil akhir yang saya inginkan.

Bagaimana pengalaman Anda bekerja sama dengan berbagai pihak dalam pembuatan film, seperti produser, sutradara, aktor, dan kru lainnya? Apa pentingnya kolaborasi dalam proses kreatif?

Film adalah kerja kolektif, kerja tim yang solid. Berkarya dalam tim itu kuncinya adalah bertanggung jawab dan saling menghargai. Etos itu

didapatkan dengan latihan. Nah, membangun tim yang solid itu sangat sulit di Medan. Mungkin faktor kualitas kepemimpinan di perfilman yang masih kurang, bisa juga karena memang setiap kru dan individu yang terlibat belum memiliki etos kerja yang baik dan visioner, sehingga ritme kerjanya belum maksimal. Terutama jika terkait pembuatan film bagi pemula atau yang beranggaran minim. Sebenarnya kolaborasi bisa menjadi solusi untuk menutupi kekurangan demi mencapai tujuan bersama. Yang penting filmnya jadi, bisa dikerjakan maksimal. Namun konsep kolaborasi ini kadang dirusak oleh dominasi individu yang merasa paling berkontribusi dalam kolaborasi. Sentimen personal juga bisa merusak ritme kerja kolaborasi. Oleh sebab itu carilah tim atau personel yang bertanggung jawan dan visioner.

Apakah ada pesan atau nilai tertentu yang ingin Anda sampaikan melalui karya-karya Anda? Bagaimana Anda berharap karya-karya Anda dapat mempengaruhi orang lain?

Sebagai filmmaker dan penulis karya fiksi, saya ingin mengatakan pada semua orang agar memberikan keadilan dan kesetaraan dalam posisi yang menonjol dari setiap perilaku tokoh-tokoh dalam cerita. Ini akan jadi kampanye yang baik agar diskriminasi dengan alasan apapun tidak boleh lagi terjadi. Seperti kata Pramudya Ananta Toer, adil sejak dalam pikiran.

Film adalah media kampanye yang paling efektif untuk membangun inspirasi menyebarkan dampak. Jadi, setiap pekarya harusnya

mengutaman pesan-pesan keadilan, kemanusiaan, dalam setiap karya- karyanya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri kreatif di Indonesia, khususnya di Medan? Apa tantangan dan peluang yang ada?

Daerah di luar pulau Jawa, khususnya di Sumatera Utara, perkembangan industri kreatifnya tidak sebaik di Jawa. Hal ini dipengaruhi sentralitas kebijakan, fasilitas, dan anggaran di Jawa yang sangat berdampak bagi daerah-daerah di luar pulau Jawa. Di Medan misalnya, tak ada satu pun galeri seni yang layak untuk pameran maupun pertunjukan seni. Ini kan indikator betapa tak berpihaknya pemerintah bagi pengembangan kebudayaan terutama kesenian di Medan sebagai ibukota provinsi Sumateta Utara. Padahal Sumatera Utara memiliki kekayaan budaya yang sangat potensial. Belum lagi peninggalan sejarah dan panorama alam yang indah. Ini kan bisa dikemas dalam satu konsep pariwisata kompleks yang bisa dijual dan diwariskan dengan baik bagi generasi ke depan. Tetapi, saya tidak melihat adanya biat baik pemerintah untuk memperbaiki kondisi.

pengalaman-pekerja-kreatif-diana-saragih-tahun-2024

Menurut Anda, seperti apa iklim kerja yang ideal bagi seorang pekerja kreatif? Apa saja faktor-faktor yang dapat mendukung kreativitas dan produktivitas?

Sama seperti iklim kerja bidang lainnya, hal yang paling dasar agar menjaga kualitas kinerja adalah jobdesk yang seimbang dengan penghasilannya. Jangan jomplang. Pekerja kreatif memiliki hak-hak pekerja seperti upah layak, bonus, dan kenaikan jabatan di rentang waktu dan hasil kinerja yang objektif. Keadilan dan kesetaraan di tempat kerja juga penting. Ketika atasan melakukan kecurangan dalam melaksanakan tugas dan kebijakannya, maka konflik di ruang kerja akan terjadi. Ketidaknyaman karena merasa ditindas akan menyebabkan

pekerja akan bosan, ikut curang, atau mencari tempat kerja lain yang lebih baik.

Bagaimana peran pemerintah dalam mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia? Apa saja yang perlu ditingkatkan?

Undang-undang perfilman No. 33/2009 tentang Perfilman telah mengamanatkan bahwa setiap pemerintah daerah harus mengalokasikan dana pemerintah daerah untuk memajukan industri perfilman di daerah. Namun hingga saat ini, di Medan, tak ada sama sekali. Inisiatif pemajuan perfilman daerah yang dilakukan komunitas film di Medan juga dianggap sebelah mata. Anggaran dipakai untuk seremoni bukan untuk peningkatan kapasitas ataupun membangun infrastruktur pendukung, Misalnya membangun gedung bioskop berbasis komunitas yang bisa dipakai untuk screening film lokal dan tempat diskusi.

Kota Medan sebagai ibukota provinsi harusnya menjadi pasar film lokal yang paling utama. Biar duit yang beredar bisa mensejahterakan para pekerja seni lokal juga. Ada 99 profesi yang dipakai dalam satu kali pembuatan film. Jika industri film lokal lancar, maju, kesejahteraan masyarakat dan pemasukan bagi pendapatan daerah juga makin meningkat.

Bisakah Anda bercerita sedikit tentang novel panjang yang sedang Anda kerjakan? Apa yang membuat Anda tertarik dengan proyek ini?

Baik dalam film maupun cerita fiksi yang saya tulis, Medan selalu jadi setting. Gaya bicara dan plot juga mayoritas diinspirasi dari event atau story yang ada di Medan. Dalam buku kumcer Tragedi misalnya, saya ada mengangkat tentang kasus pembunuhan seorang pemain keyboard café yang dianiya hingga meninggal dunia oleh sejumlah TNI Paskhas Lanud Soewondo. Di buku yang sama saya juga ada menulis cerita tentang perjuangan masyarakat Porsea, menentang pabrik bubur kertas PT Toba Pulp Lestari di Porsea, Kabupaten Toba, Sumut. Nah di film saya A Thousand Midnight in Kesawan, saya mengambil setting di daerah kota lama Kesawan dan sejumlah landmark Kota Medan.

Kemudian di novel saya yang terbaru ini, Three Chapters of Dragon Tattoo Story, saya mengangkat konflik pemuda di Medan yang mengejar mimpi di tengah massifnya peredaran narkoba dan sulitnya akses pendidikan dan modal usaha untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang profesional. Semua tema-tema lokal Sumatera Utara itu hanya secuil dari banyaknya hal di Sumatera Utara yang bisa diangkat ke layar lebar dan buku sastra.

suka-duka-diana-saragih-pekerja-kreatif-tahun-2024

Apa rencana Anda ke depan di dunia kreatif? Apakah ada proyek atau genre tertentu yang ingin Anda eksplorasi?

Membuat festival dan event yang mendorong pertemuan pekarya dan konsumennya terjadi adalah impian saya di Medan. Pekarya ini harus melatih diri menghadapi konsumen dan calon sponsornya untuk menaikkan level karyanya. Tanpa ada ekshibisi, pasar itu sulit dibangun. Di sinilah peran pemerintah itu sangat dibutuhkan. Mereka harus hadir sebagai mediator, fasilitator pertemuan penting itu. Bukannya maalah mengambil konsep dan ide komunitas kemudian mencaploknya menjadi seolah-olah itu programnya. Itu mencuri namanya. Kreatiflah. Anggaran ada, SDM dibiayai negara, berpikir dan bertindaklah dengan cerdas dan beretika. Jangan menipu masyarakat. Peradaban itu dimulai dari mendidik masyarakat menjadi bijak dan cerdas. Pemerintah harus memberi teladan itu.

Apa saran Anda bagi orang-orang yang ingin berkarier di dunia kreatif, khususnya film dan menulis?

Banyak-banyak bikin film. Evaluasi. Bikin film lebih baik lagi. Nanti akan dapat ritme dan formula sendiri bagaimana membuat film versi terbaik kamu. Nonton film orang lain, apresiasi, belajar dari situ sebagai referensi. Begitu juga dengan menulis. Semakin sering menulis akan semakin lancar nantinya. Baca buku, diskusi, tulis. Riset juga penting, biar buku kita tidak dangkal.

Bagaimana cara Anda menjaga agar kreativitas tetap terjaga di tengah kesibukan sehari- hari?

Sibuk itu relatif. Setelah lama vakum dari dunia kerja office hour 8-4, saya menemukan ritme kerja saya sendiri. Terlalu sibuk dalam waktu yang lama akan mengganggu kreatifitas, saya sudah mengalaminya. Jadi jaga ritme kerja kreatif kita dan sering-seringlah rekreasi. Kita harus manusiawi sama diri sendiri, jangan kejam-kejam kali. Sebab kita adalah semata wayang di dunia ini, jadi prioritaskan dirimu.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri kreatif saat ini?

Massifnya produk kreatif asing ke Indonesia membunuh pekerja seni tanah air. Pengrajin batik misalnya, banyak yang gulung tikar setelah keran impor batik corak Indonesia murah asal China membanjiri pasar-pasar batik di Indonesia. Musik juga demikian, pun film. Jika produk kreatif buatan orang Indonesia tidak merajai pasar nasional, itu pemerintahnya harus diganti. Segera.

Itu tadi cerita Diana, kisah inspiratif dari expert lainnya bisa Anda baca di Rubrik Profil Loker ID.