Devi Nugraha: Lika-Liku Bekerja di Bidang Komunikasi, Mulai dari Korporat sampai Non Profit, dan Pentingnya Isu Gender

Buat Anda yang tertarik bekerja di bidang komunikasi tapi introvert, sepertinya profil yang diangkat kali ini cocok untuk menambah insight dan inspirasi sebelum menerjunkan diri di bidang PR & Communications. Bersama Devi Nugraha, kita bakal dapat banyak perspektif, pengalaman, cerita karier menarik--apalagi Devi sudah menekuni industri ini secara global. Seperti apa sih rasanya kerja di PBB? Bagian komunikasi lagi! Langsung baca gaes....
Boleh diceritakan bagaimana pengalaman Anda sebagai Communication Analyst di UNDP, dan apa yang membedakannya dengan industri lain?
Saya bergabung dengan United Nations Development Programme pada tahun 2023– tepatnya bulan November – setelah menekuni bidang komunikasi korporat selama lebih dari lima tahun. Menjadi bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah angan-angan saya sejak duduk di bangku kuliah (meskipun mimpi sebenernya menjadi diplomat), sehingga meskipun malang melintang di dunia profit oriented adaptasi saya di UNDP terhitung cepat.
Sebagai Analis Komunikasi di UNDP saya bertanggung jawab memimpin lini komunikasi organisasi dan menjaga marwah UNDP sebagai mitra terpercaya pemerintah Indonesia dalam membangun Indonesia, baik dari sisi kebijakan (policy making), ketatanegaraan (governance) hingga pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
UNDP yang secara erat berhubungan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) ikut andil dalam menentukan ‘arah’ pembangunan Indonesia, sehingga seluruh fokus komunikasi UNDP harus sejalan dengan ‘arah’ pembangunan Indonesia ke depan. Meskipun hanya beranggotakan lima orang, saya dan rekan memegang fungsi komunikasi sebagaimana humas organisasi lain pada umumnya, mulai dari segi komunikasi digital, hubungan media, komunikasi internal serta public affairs.
Tambahannya, adalah dari sisi advokasi, berhubung UNDP merupakan agensi PBB yang mencakup banyak bidang, termasuk Kesehatan, krisis iklim, energi (bakal panjang daftarnya kalo saya sebut semua), maka ada elemen edukasi bagi publik secara luas, terutama untuk memengaruhi perilaku mereka.
Meskipun saya bilang apa yang saya kerjakan hampir sama dengan humas pada umumnya, di UNDP saya tidak hanya mementingkan jenama sendiri – memang agak heran ya, orang humas tapi gak terlalu jor-joran dalam mengomunikasikan brand-nya – tapi memang betul. Sering kali apa yang saya komunikasikan tidak mengedepankan UNDP, melainkan mitra kami, termasuk diantaranya pemerintah dan mitra donor. Jadi buat saya yang sudah ‘nerap’ banget ilmu kehumasan untuk sisi brand, merupakan pengalaman yang unik berada di sini.
Sebenarnya apa yang mendorong Anda menekuni profesi PR & Communications? Dan sejauh ini pengalaman paling menarik itu ketika bekerja dimana? Boleh diceritakankah?
Profesi PR & Communications bukan peran yang ingin saya ambil sejak awal – dan tidak sedikit orang yang bernasib demikian – berkuliah di bidang Hubungan Internasional, cakrawala saya hanya sebatas menjadi diplomat. Sampai akhirnya ada kesempatan saya untuk praktik kerja di Kementerian Sekretariat Negara sebagai staff monitoring media.
Berawal dari monitor media itu, akhirnya terpapar dengan segala bentuk turunan komunikasi yang perlahan mengikis idealisme saya untuk mengabdi di Kementerian Luar Negeri. Namun jika ditelusuri sebetulnya ada garis kesamaan tipis antara praktisi komunikasi dan diplomat, sehingga ini yang membuat saya bergerak maju dan ternyata dari bidang ini pula yang mengantarkan saya lebih dekat dengan menjadi ‘diplomat’ (menjadi bagian dari PBB).
Seluruh pengalaman saya hingga saat ini, saya consider unik. Mulai dari menjadi staf media monitoring yang kerjanya bacain terus koran dari pagi dan melakukan analisis berita, lalu menjadi konsultan komunikasi dengan klien dari berbagai macam industri, masuk sebagai tenaga komunikasi di startup bervaluasi tinggi, bergabung dengan merek multi-nasional hingga menjadi bagian dari PBB. Tingkat kesulitannya berbeda-beda, dan semuanya memberi saya ruang untuk tumbuh dan berkembang membentuk jati diri saya sekarang.

Bagaimana Anda beradaptasi dengan budaya kerja yang berbeda-beda di setiap industri yang pernah Anda masuki?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada saya lima atau tujuh tahun lalu, mungkin jawaban saya akan sangat sederhana, terus berusaha, all out karena pencapaian tidak datang dengan sendirinya. Namun, bagi saya saat ini untuk menemukan jawabannya sangat sulit. Sungguh. Setiap perjalanan yang saya lalui memiliki fase, lini masa dan ekspektasi yang berbeda.
Cara saya beradaptasi di Kementerian Sekretariat Negara tentu jauh berbeda dengan saya beradaptasi di Gojek misalnya. Begitu juga jika dibandingkan antara Gojek dan UNDP, ini dua hal yang berbeda. Terkadang saya mesti masuk dari sisi kedekatan personal dengan kolega, di sisi lain saya mesti piawai merumuskan taktik agar atasan dan kolega bisa sependapat. Jadi, buat saya titik beratnya justru, apa. Apa rencana (saya) untuk dapat berdaptasi karena lingkungan tidak bisa diharapkan selalu mendukung kita.
Keterampilan apa yang paling membantu Anda dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru?
Sebagai pribadi yang introvert, jelas sulit sebetulnya. Namun jangan salah sangka, meskipun introvert kita tidak boleh menjadi pribadi yang berbeda atau menggunakan topeng untuk bisa mendapatkan hati dan dekat dengan atasan dan kolega. Sehingga, kembali lagi ke rencana. Apa rencananya? Bagi saya memiliki rencana akan membantu saya beradaptasi, berhubung lingkungan, karakter orang tidak bisa juga kita sama ratakan.
Bagaimana Anda melihat perkembangan profesi PR & Communications dulu dan sekarang?
Nafasnya masih sama. Ilmu komunikasi dan seluruh turunannya diciptakan untuk memudahkan kita dalam memengaruhi perilaku orang (audience), yang tidak jarang dilakukan melalui tindakan manipulasi, yang sayangnya memang acap kali sukses. Lantas apa saya pun menyebut diri saya dan rekan-rekan praktisi komunikasi lainnya manipulator? Ya jelas tidak.
Di situlah sisi humanis dari praktisi humas sangat berperan penting dalam perkembangan profesi ini. Bagi saya pribadi, adanya spektrum baru untuk industri komunikasi, seperti media sosial, analitik, kecerdasan buatan hanya akan terus menguji seberapa kuat praktisi komunikasi menjaga sisi humanisnya.
Masih kurang praktis? Contohnya saja terkait dengan Search Engine Optimization (SEO), sebuah teknik yang kini digunakan praktisi komunikasi untuk dapat bersaing di peramban pilihan audience misalnya Google. Meskipun banyak dari tekniknya dipengaruhi oleh sistem, algoritma dan keywords. Ujungnya, yang merancang sistem tersebut dan menjadi audience-nya adalah manusia. Jadi, ya balik lagi bagaimana sentuhan ‘humanis’ tadi akan menjadi penentu kita bisa bersaing.

Apa yang menurut Anda menjadi tren terbaru dalam dunia PR?
Jawabannya mungkin akan sedikit mengecewakan karena ini bukan hal yang sangat baru (novel) di semestanya PR.
1. PR yang didorong untuk bisa berkontribusi terhadap bottom line organisasi (mau itu revenue, advokasi dll) intinya, PR sudah mulai dianggap jadi mainstream dan integral dari sisi operasional organisasi – bukan lagi bagian yang terpisahkan atau hanya dibutuhkan jika ‘butuh’ saja seperti beberapa waktu ke belakang.
2. PR dalam mengomunikasikan ESG dan Sustainability. Seiring dengan tingginya tren ‘hijau’, ‘biru’ bagi perusahaan dan organisasi di Indonesia, PR mesti cepat menangkap perilaku ini dan mulai belajar lagi apa arti sebetulnya dari upaya perusahaan menciptakan visi ‘berkelanjutan’, sehingga ketika mengkomunikasikannya ke pemangku kepentingan dan publik dapat dipahami dengan lebih mudah.
Apa yang membuat Anda tertarik pada isu gender dan pemberdayaan perempuan?
Selama ini ‘momok’ kita adalah takut untuk bisa bertindak – bahkan dalam langkah kecil – dan menentukan sikap karena judge yang mungkin datang dari siapapun. Seperti halnya isu gender ini. Stigma yang saya coba tangkap adalah, “lo kalo ngomongin gender, feminis” (lagi, feminis juga kadang menjadi miskonsepsi jika ada di ruang yang sangat terbuka), atau “emang lo ahlinya ngomongin gender?” (waduh, bukan lagi).
Bisa dibayangkan, secara global perlu waktu 300 tahun bagi kita mencapai gender parity artinya jika ini tidak kita suarakan dan akselerasi, la piye. Selamanya sistem kita akan terus dibayangi relasi kuasa, dan ketidakmampuan kita mendobrak patriarki yang sayangnya sudah mandarah daging ya. Jadi, saya bersikap dan bertindak sekecil apa pun yang mampu saya lakukan.
Bagaimana ketertarikan ini memengaruhi karier Anda?
Sejauh ini, isu gender masih terus saya pelajari. Tapi, minimal sekarang kalo diundang ke diskusi panel, atau kalo filter undangan untuk seseorang di kantor buat ngisi menjadi pembicara selalu nanya dulu pastiin dulu ke pengundangnya, jangan Manel ya (Man Panel).
Apakah Anda pernah terlibat dalam proyek yang berkaitan dengan isu gender dan pemberdayaan perempuan? Jika ya, bisa ceritakan pengalaman Anda.
Hampir selalu terlibat ya. Terakhir, di UNDP saya ikut dalam Gender Task Force-nya UNDP yang kerjanya adalah memastikan isu gender ter-mainstream ke setiap program, dan menyampaikan rencana apa dari unit komunikasi untuk dapat membantu mengakselerasi pencapaian kita dalam ranah gender.
Kampanye #SaferSpacetoProgress beberapa bulan lalu untuk memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan menjadi salah satu yang saya gagas di UNDP.

Apa tantangan terbesar dalam mengkomunikasikan isu gender dan pemberdayaan perempuan?
Isu gender ini kan sebetulnya bukan berupaya untuk membentuk opini kalo “perempuan pasti betul” ya. Tantangannya selalu di status quo kita saat ini yang masih cenderung menganggap jika isu perempuan itu, hanya permainan isu yang hanya akan memenangkan satu pihak saja, yaitu perempuan. Masih jauuuuh banget ini PR-nya, dan mesti runut menjabarkannya. Semoga ada kesempatan lain ya hehe...
Punya saran untuk profesional muda atau fresh graduate yang tertarik bekerja di bidang komunikasi?
Mulai dengan #AllOut cabang komunikasi itu banyak, jangan buru-buru loncat ke yang instan. Oh, sekarang trennya nih joget TikTok, coba deh bikin kontennya. Bisa aja sebenernya, dan gak jarang sukses kok, viral, brand melejit. Tapi emang mau dibangun dari situ fondasinya?
Apa harapan Anda untuk karier Anda dalam waktu dekat ini?
Saya ingin banyak belajar lagi tentang komunikasi di ranah digital. Mendalami perilaku manusianya, mencari akar permasalahannya, dan mencari jalan penghubungnya dengan kebutuhan organisasi. Ini semata untuk mencari the invisible truth, sehingga komunikasi dan koneksi kita dengan audience melalui kanal digital semakin erat, otentik dan bermakna.
Simak terus Rubrik Profil Loker ID dan dapatkan cerita "berdaging" dari expert lainnya!