Daria Rani Gumulya: Dari Freelance Writer Switch Career ke Terapis Massage

Jenuh, ingin mencoba sesuatu yang baru dan bahkan 180 derajat berbeda dari apa yang dilakukan sehari-hari adalah sesuatu yang wajar. Itulah yang terjadi dengan Daria Rani Gumulya, seorang freelance writer yang sekarang-sekarang ini berpikir untuk switch career menjadi terapis pijat. "Pekerjaan menulis itu menuntut untuk berpikir, saya mengalami stuck dan ingin membebaskan pikiran," jelas penulis yang sempat berkarier di grup media gaya hidup wanita terbesar di Indonesia ini.
Selain mengobrolkan rencana switch career-nya Daria juga cerita tipis-tipis tentang perjalanan menjadi jurnalis, freelance writer, serta pendapatnya mengenai digitalisasi dan peran AI dalam dunia kepenulisan. Yuk, simak cerita Daria bersama Loker ID, di sini!
Halo..terimakasih sudah mau mengobrol dengan Loker ID, bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda sebagai penulis, mulai dari awal tertarik dengan dunia tulis-menulis hingga akhirnya menjadi seorang penulis lepas? Apa yang menjadi motivasi utama Anda untuk terus berkarya sebagai penulis selama ini?
Baik terimakasih kesempatan yang diberikan oleh Loker ID untuk berbagi pengalaman. Awal tertarik dengan dunia tulis menulis, saat Kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta saya mengambil kelas Jurnalistik. Saya senang membaca media massa apa saja, dari situ tertarik menulis opini mahasiswa dan dimuat di Kompas muda. Setelah lulus, saya langsung bekerja sebagai jurnalis di majalah gaya hidup wanita di Jakarta. Setelah menikah dan punya anak, saya memutuskan pindah ke Solo dan menjadi penulis lepas. Pertimbangannya adalah waktu yang lebih fleksibel, dan keterusan sampai sekarang, hehehe....
Bagaimana Anda melihat perbedaan yang signifikan antara menulis untuk media cetak dan media digital?
Tidak begitu banyak yang berbeda, hanya saja jika media cetak kita membutuhkan banyak waktu dan perlu diedit oleh editor berberapa kali untuk naik cetak, jika media online artikel kita kirim, siang sudah bisa tayang di website.
Menurut Anda, bagaimana perkembangan dunia kepenulisan, terutama dengan adanya era digital?
Mau tidak mau media massa berubah ke digital, berubah ke media online dan banyak menjadi media sosial. Jadi ya penulis harus bisa menyesuaikan zaman dengan tranformasi itu. Sementara kalau dunia kepenulisan atau buku, itu masih banyak orang membeli buku dalam bentuk cetak, saya kira dunia kepenulisan buku tidak terpengaruh dengan kemajuan digital. Justru media sosial seperti Tiktok dan IG bisa menjadi jalan untuk mempopulerkan buku-buku berkualitas.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi selama berkarier sebagai penulis lepas? Bagaimana Anda mengatasinya?
Tantangan terbesar karena saya tinggal di daerah adalah mencari klien. Meski saat ini dimudahkan dengan meeting secara online, namun sulit menemukan klien yang tepat di belantara jagat maya. Cara mengatasinya, saya masih bertahan dengan klien-klien lama dan menjalin networking baru agar mendapatkan klien baru.
Apa yang paling Anda sukai dan paling tidak Anda sukai dari profesi penulis?
Paling disukai adalah kita bebas menentukan jam kerja kita. Kadang pagi buta, di saat orang masih tidur kita bekerja, namun di hari Senin, saat orang bermacet-macetan ke kantor, kita bisa bersantai ria. Hal yang tidak disukai adalah saat deadline berbarengan. Rasanya pengen membelah diri. Klien satu dan yang lain minta di hari yang sama, itu sangat menguras pikiran.
Keahlian khusus apa yang menurut Anda paling penting bagi seorang penulis, terutama di era digital saat ini?
Sepertinya harus menguasai teknologi digital seperti media sosial, publikasi online, agar orang tahu bahwa dia penulis. Karena misalnya hanya pintar menulis saja, tanpa ada 'karya' tulis sulit untuk 'berjualan' dan terus mendapat job dari klien.
Apa yang menjadi passion Anda dalam menulis? Topik atau genre apa yang paling Anda sukai untuk digarap?
Saya sebenernya paling suka baca profil orang, kayak baca buku biografi gitu suka. Namun karena profesi saya penulis lepas, saya mengkondisikan diri untuk menyukai semua topik tulisan, sesuai dengan bidang usaha klien. Dari menulis tentang pertambangan, permodalan untuk perempuan dan UMKM, literasi keuangan dan lain sebagainya.
Bagaimana Anda melihat perkembangan teknologi seperti AI dalam mempengaruhi profesi penulis?
AI sebenarnya menguntungkan penulis untuk brainstorming dan memunculkan ide-ide tulisan. Saya cukup terbantu dengan AI terutama jika saya belum tahu topik tulisan yang akan saya tulis. Sebagai ide saja. Untuk tulisan, saya mencari data-data yang ada yang tentunya ada hal-hal yang tidak bisa dikerjakan oleh AI. 'Menjahit data' menjadi tulisan yang bagus dengan bahasa yang mudah dipahami sepertinya belum bisa dikerjakan oleh AI. Apalagi memunculkan ide-ide segar untuk buku, copywriting, konten kreatif seperti script film yang membutuhkan imajinasi manusia belum bisa dikerjakan oleh AI.
Apa yang mendorong Anda untuk memutuskan beralih dari profesi penulis menjadi terapis pijat?
Saya mengalami stuck, dan ingin membebaskan pikiran. Pekerjaan menulis tiap hari berpikir, apalagi saya jarang bertemu orang, karena meeting dengan klien, wawancara dengan narasumber dilakukan secara online. Kadang saya merasa profesi saya juga mengalami stagnansi (tidak ada jenjang karier) jadi kurang memotivasi saya untuk bekerja lebih giat. Sementara, saya ingin membebaskan pikiran dengan pekerjaan yang tidak terlalu harus berpikir. Saya kepikiran untuk ambil kursus terapis pijat karena, simple, saya suka dipijat, dan ingin belajar bagaimana sih teknik-tekniknya. Sepertinya menyenangkan.
Apa yang Anda harapkan dari karier baru sebagai terapis pijat?
Saya tidak berharap apa-apa dari perubahan karier baru ini, baru kepikiran mau cari kursusnya.

Bagaimana Anda memaknai karier sebagai penulis selama ini? Apa yang telah Anda dapatkan dari profesi ini?
Sebagai penulis, saya bisa dibilang pekerja komersial. Jadi saya menulis berdasarkan pesanan klien. Berbeda dengan penulis buku atau film yang idenya brilian yang bisa mengungkapkan apa kegelisahan yang ia alami dalam sebuah karya.
Apa yang telah saya dapatkan dari profesi ini? Tentu saja uang, kedua networking dan pengalaman, artikel saya pernah mendapat gelar juara dari Bisnis Muda, dan pujian dari beberapa teman dan kenalan setelah membaca artikel saya.
Apa pesan Anda untuk mereka yang ingin berkarier di bidang penulisan atau yang sedang mempertimbangkan untuk beralih ke profesi lain?
Bidang penulisan adalah bidang yang dinamis dan terbuka bagi siapa saja.Modalnya, hanya dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan untuk menekuni bidang ini. Banyak membaca dan berlatih menulis saja, juga mengembangkan networking. Meski secara materi termasuk sedikit, namun jika difokuskan akan menghasilkan. Jika ingin mempertimbangkan profesi lain, pastikan kamu suka dengan bidang itu, dan pikirkan apa kelebihan dan kekurangannya sebelum memutuskan terjun ke profesi yang baru.