Dari Jurusan Sastra Indonesia jadi HR, Sharing Session Bareng Patricius Alvio

Mungkin enggak lulusan Sastra Indonesia bekerja di departemen HR? Mungkin-mungkin saja! Pasti kita sudah sering mendengar mengenai jurusan kuliah yang tidak sesuai dengan pekerjaan. Terlalu melenceng, merasa sia-sia, dan lawan arah bisa jadi asumsi awal. Namun, dalam kehidupan dunia kerja, tidak akan ada yang terlalu melenceng, selama kita mengambil hikmah dan pembelajaran dari segala situasi.
Patricius Alvio, seorang Human Resources Coordinator di sebuah industri kopi bercerita mengenai jurusannya ketika kuliah--Sastra Indonesia--yang berbeda dengan pekerjaannya sekarang. Justru, latar belakang pendidikan demikian melatih Alvio untuk berpikir kritis, runut, dan membuatnya lebih paham cara berkomunikasi--baik lisan mau pun tertulis--dan menyampaikan informasi kepada karyawan perihal urusan pekerjaan terkait departemennya.
Alvio tidak hanya bercerita soal passion-nya di bidang Human Resources, melainkan berbagi perspektifnya mengenai dinamika dunia kerja di Yogyakarta. Ini termasuk iklim kerja, talenta terbaik, dan tantangan perekrutan di sana. Bagaimana Alvio sebagai profesional di bidang perekrutan yang berdinamika di dunia kerja di Yogyakarta memandang peluang dan tantangan bekerja saat ini?
Apa yang menjadi motivasi utama Anda untuk beralih dari dunia kreatif seperti penyiaran, musik, dan content writing ke bidang Human Resources?
Motivasi utama saya adalah keinginan untuk mengeksplorasi interaksi manusia dalam konteks profesional dan memberikan dampak melalui pengembangan sumber daya manusia. Dunia kreatif memberi saya pemahaman mendalam tentang komunikasi dan kreativitas, sementara di dunia HR, saya melihat kesempatan untuk membangun hubungan kerja yang efektif dan membantu orang mencapai potensi mereka.
Apakah ada momen atau pengalaman tertentu yang menjadi titik balik dalam keputusan Anda untuk berganti karier?
Ada satu momen ketika saya menyadari betapa pentingnya lingkungan kerja yang mendukung perkembangan individu. Saat mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus sebagai penyiar, saya melihat bagaimana motivasi dan kepuasan kerja sangat mempengaruhi performa dan kesejahteraan seseorang. Momen itu membuat saya berpikir bahwa saya merasa bisa berkontribusi lebih banyak dalam bidang yang fokus pada kesejahteraan karyawan, dan itulah yang mendorong saya ke HR.
Tantangan apa saja yang Anda hadapi saat pertama kali terjun ke dunia HR dengan latar belakang yang berbeda?
Jujur, di awal masa saya bekerja sebagai HR tantangan terbesar yang saya rasakan adalah memahami aspek teknis HR, seperti regulasi ketenagakerjaan dan kebijakan perusahaan yang sifatnya lebih formal. Namun, Puji Tuhan saya dapat belajar dengan cepat terkait hal-hal tersebut, saya merasa hal itu dikarenakan keterampilan komunikasi dan adaptasi dari pekerjaan sebelumnya yang akhirnya dapat membantu saya memahami kebutuhan karyawan dengan baik.
Bagaimana Anda mengatasi perbedaan antara ekspektasi awal Anda dengan realitas bekerja di HR?
Saya sempat berpikir bahwa HR hanya soal rekrutmen dan administrasi belaka, tetapi kenyataannya, menurut saya peran HR ini sangat dinamis dan strategis. Menyadari bahwa HR juga bertanggung jawab atas kesehatan budaya perusahaan membuat saya lebih menghargai profesi ini dan meningkatkan motivasi untuk terus belajar kapanpun dan dari siapapun itu.
Keterampilan apa saja dari pengalaman sebelumnya (penyiar, music director, content writer) yang paling berguna dalam pekerjaan Anda sebagai HR saat ini?
Sebagai penyiar dan content writer, kemampuan berkomunikasi efektif sangat berguna bagi saya untuk mengelola hubungan karyawan dan menyampaikan informasi. Sementara di bidang musik, kemampuan saya dalam manajemen waktu dan pengambilan keputusan dalam waktu cepat sangat membantu saya dalam menangani banyak aspek HR yang juga memerlukan respons yang cepat.

Keterampilan baru apa yang harus Anda pelajari untuk bisa sukses di bidang HR?
Saya sadar bahwa saya masih harus belajar lebih dalam terkait analisis data karyawan dan hukum ketenagakerjaan. Menurut saya dua hal ini bisa dikatakan suatu hal yang dinamis, maka dari itu kedua keterampilan ini sangat penting untuk pengambilan keputusan yang informatif dan kepatuhan terhadap regulasi.
Bagaimana latar belakang pendidikan Sastra Indonesia Anda membantu atau justru menjadi tantangan dalam menjalankan peran sebagai HR?
Studi Sastra Indonesia melatih saya untuk berpikir kritis, mengapresiasi dan sadar akan keberagaman perspektif, juga peka terhadap komunikasi. Hal ini sangat membantu saya dengan pekerjaan saya saat ini di dunia HR, meskipun saya tetap harus beradaptasi dengan berbagai istilah bisnis dan konsep manajerial yang sebelumnya tidak terlalu akrab.
Keterampilan komunikasi dan menulis yang Anda dapatkan dari Sastra Indonesia, bagaimana penerapannya dalam pekerjaan Anda sekarang?
Keterampilan komunikasi dan menulis sangat saya gunakan, terutama dalam membuat kebijakan, training, dan materi komunikasi internal. Pengalaman di Sastra Indonesia juga membantu saya memahami pemilihan bahasa atau diksi, sehingga pesan yang ingin saya sampaikan menjadi lebih jelas dan dapat diterima oleh karyawan dengan lebih baik.
Bagaimana menurut Anda dinamika perekrutan dan dunia kerja telah berubah dalam beberapa tahun terakhir?
Digitalisasi besar-besaran telah mengubah cara perekrutan dan kerja. Di Yogyakarta, misalnya, sudah semakin banyak perusahaan yang mengadopsi platform online untuk merekrut karyawan, serta peningkatan fleksibilitas pekerjaan. Ini membuat kompetisi pencarian kerja semakin ketat, terutama untuk posisi yang bisa dilakukan secara remote.
Tantangan terbesar apa yang dihadapi oleh perusahaan dalam proses perekrutan saat ini, terutama di Yogyakarta?
Tantangan terbesar adalah menemukan kandidat yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga nilai atau visi yang sejalan dengan perusahaan. Menurut saya, Yogyakarta memiliki banyak lulusan yang sangat berbakat. Namun kembali lagi, saya merasa anak muda zaman sekarang bisa lebih realistis yang akhirnya banyak yang memilih bekerja di kota besar.
Menurut Anda, apa yang membuat iklim dunia kerja di Yogyakarta berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia?
Menurut saya iklim atau pola kerja di Yogyakarta cenderung lebih harmonis dan kurang kompetitif dibandingkan kota besar seperti Jakarta. Gaya hidup yang lebih santai dan komunal memengaruhi dinamika kantor. Namun, tantangannya adalah bagaimana perusahaan di sini dapat menarik dan mempertahankan talenta yang begitu banyak.

Apakah ada karakteristik khusus dari tenaga kerja di Yogyakarta yang perlu diperhatikan oleh perusahaan?
Saya merasa tenaga kerja di Yogyakarta umumnya memiliki etos kerja yang baik dan kuat dalam kolaborasi. Namun, banyak dari mereka juga lebih nyaman dalam budaya kerja yang kurang hierarkis dan lebih personal, jadi pendekatan yang terlalu formal bisa jadi kurang efektif untuk diterapkan.
Peluang dan tantangan apa saja yang dihadapi oleh para pencari kerja di Yogyakarta saat ini?
Peluang semakin terbuka di bidang teknologi dan kreatif, terutama karena banyak perusahaan yang berminat membuka kantor di sini. Namun, tantangannya adalah bagaimana mencocokkan keterampilan yang dimiliki dengan permintaan pasar yang terus berkembang.
Untuk Anda sendiri, bagaimana Anda memaknai perjalanan karier dan makna kerja dari sudut pandang personal?
Bagi saya, perjalanan karier adalah proses untuk terus belajar dan berkembang serta tidak hanya menemukan arti yang lebih dalam dari pekerjaan itu sendiri tetapi untuk pengembangan diri sendiri di masa depan. Istilah kerja bukan hanya soal pencapaian finansial semata, tetapi juga bagaimana kontribusi kita terhadap lingkungan dan masyarakat yang lebih luas.
Perjalanan karier dan perspektif dunia kerja dari kacamata profesional lainnya bisa Anda baca di Rubrik Profil Loker ID.