Dari Communications Manager ke Guru Yoga, Cerita Indiana Basitha Berbagi Pengalaman Passionnya
Ditulis olehTim Loker • Update 5 Desember 2024

Berkarier di lingkup bidang yang disenangi adalah suatu kebahagiaan luar biasa. Itulah yang sedang dijalani Indiana Basitha, seorang Communications Manager yang juga menjadi guru yoga. Kuncinya adalah membuka diri pada peluang dan tantangan. Indiana sendiri tidak pernah terpikirkan sebelumnya menjalani path yang ia lakoni sekarang. Dulunya ia menjadi copywriter, kemudian kesempatan untuk berkarier di bidang public relations datang dan ia sanggupi.
Tidak berhenti di satu destinasi, Indiana juga mengembangkan passion lain di bidang kesehatan--yoga. Bagaimana Indiana menjalani dua sisi kehidupannya yang seperti koin yang berbeda walau sejalan ini? Baca langsung inspirasinya di sini!
Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di bidang communications?
Awalnya saya bekerja sebagai copywriter dan editor di beberapa majalah lifestyle Indonesia. Pada dasarnya saya memang suka menulis. Ketika tawaran menjadi junior public relations di sebuah agency datang, saya tertarik mencoba. Ternyata malah akhirnya itu yang menjadi jalur karier saya karena saya bisa mengembangkan kemampuan menulis saya, dan bahkan melakukan hal-hal beyond penulisan, seperti belajar memikirkan sebuah program atau campaign komunikasi dari hulu hingga ke hilir.
Saat ini Anda bekerja sebagai Communications Manager di sebuah lembaga yang peduli terhadap lingkungan , seperti apa tugas dan tanggung jawab di sana, dan apa yang membedakannya dengan pekerjaan sebelumnya?
Sebelumnya saya datang dari perusahaan farmasi, kemudian saat ini pindah ke lembaga sosial masyarakat. Nature pekerjaannya cukup berbeda, di mana farmasi lebih mengedepankan sales, sehingga sebagai seorang communication personnel kami harus bisa berpikir kreatif untuk bisa memberikan dampak untuk sales (meskipun itu tidak menjadi objective utama pekerjaan kami), sedangkan bekerja di bidang lingkungan hidup lebih menitik beratkan pada content dan campaign dan bagaimana cara kami bisa menanamkan awareness kepada audiens kami yang sangat berlapis hingga ke tingkat tapak.
Isu lingkungan apa yang menurut Anda paling mendesak saat ini? Mengapa?
Menurut saya semua isu lingkungan mendesak, karena sangat berhubungan dengan keseharian kita dan makin ke sini dampaknya semakin nyata. Contohnya isu climate change yang membawa dampak cukup besar di tingkat tapak dan membuat musim tidak bisa terprediksi serta berpengaruh terhadap panen, tapi kita juga tidak bisa cuek terhadap isu polusi yang mempengaruhi kegiatan kita sehari-hari sebagai pekerja. Isu deforestasi juga menjadi masalah yang cukup mengakar di Indonesia, meskipun masyarakat di kota-kota besar tidak begitu merasakan, tetapi isu ini sangat berdampak buat daerah-daerah yang memiliki kekayaan hutan alam yang sangat luas.

Bagaimana perkembangan teknologi dapat membantu mengatasi masalah lingkungan?
Menurut saya mudahnya jalur komunikasi sangat membantu. Sekarang edukasi terkait lingkungan mudah kita lihat dimana-mana, just one click away. Hal ini memudahkan praktisi juga untuk mennyampaikan pesan dan menggapai orang-orang yang diinginkan.
Apa strategi komunikasi yang paling efektif menurut Anda untuk melibatkan generasi muda dalam isu lingkungan?
Organisasi tempat saya bekerja juga menitikberatkan pada peran orang muda dan program-program kami. Orang muda cenderung memiliki kreativitas yang tinggi, dan kreativitas ini sangat dibutuhkan untuk menyuarakan isu-isu lingkungan dengan pendekatan yang lebih soft dan fresh.
Bagaimana Anda mengukur keberhasilan kampanye komunikasi yang Anda jalankan?
Audiens kami cukup berlapis. Di tingkat pemerintah kabupaten, tolok ukurnya ketika bisa hadir sebuah kebijakan atau kesepakatan yang bisa mendorong tumbuhnya sistem ekonomi hijau di daerah. Di masyarakat pada umumnya kami berharap mereka bisa melihat kerja-kerja kabupaten untuk menghadapai masalah lingkunga. Hingga di tingkat tapak di mana kami bisa menilai dari lahirnya orang-orang muda sebagai penutur lokal atau ketika sebuah kabupaten sudah bisa berdaya (dan harapannya juga lestari) dengan program ekonomi hijau mereka sendiri.
Bagaimana Anda melihat peran media sosial dalam mengamplifikasi pesan lingkungan?
Saat ini cukup besar ya. Sangat mudah mencari dan mengirimkan pesan-pesan terkait lingkungan saat ini.
Oh, ya Anda juga berprofesi sebagai instruktur yoga, boleh ceritakan bagaimana yoga telah mengubah hidup Anda?
Saya memilih yoga karena yoga menjadi sebuah momen untuk saya terkoneksi dengan diri sendiri, di mana ketika practice hanya ada saya, nafas saya dan gerakan tubuh saya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak terlibat dengan banyak orang yang terkadang bisa membuat kita 'terseret' dalam berbagai masalah atau kegiatan, tidak semuanya sesuai dengan keinginan kita. Yoga menjadi salah satu jalan self-care di mana hanya ada saya dan diri saya.
Aliran yoga apa yang Anda tekuni? Mengapa memilih aliran tersebut?
Saya tidak terlalu memusingkan aliran. Dengan mengenal yoga dan terkoneksi dengan tubuh kita sendiri, kita jadi lebih mengerti apa yang kita butuhkan.
Bagaimana Anda melihat hubungan antara praktik yoga dan kesadaran lingkungan?
Saya mempraktikan yoga untuk diri saya sendiri dan mendorong saya untuk lebih stabil dalam menjalani hari, termasuk dalam bekerja. Jadi hubungannya dengan lingkungan tidak ada yang langsung.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai instruktur yoga?
Yang paling saya rasakan adalah juggling dengan pekerjaan. Menjadi instuktur yoga tidak hanya hadir di kelas dan go show tapi juga membutuhkan persiapan yang matang. Kami harus membuat sequence, menghafalkan sequence, kemudian kami juga harus hadir dalam kondisi tenang di dalam kelas. Hal ini kadang menjadi sebuah tantangan bagi load dan mobilitas pekerjaan saya yang cukup tinggi.
Bagaimana Anda menyesuaikan gaya mengajar Anda dengan kebutuhan siswa yang berbeda-beda?
Saya selalu mengediakan options dan challenge. Options menjadi pilihan bagi praktisi yoga tingkat beginner atau yang memiliki cedera supaya mereka lebih bisa nyaman berlatih dan tidak memaksakan badan masing-masing. Challenge menjadi pilihan bagi praktisi yang sudah terbiasa yoga dengan pose-pose yang lebih advanced. Saya juga mendorong orang untuk menggunakan alat bantu apabila dirasa pose yang diinginkan terlalu berat. Semudah duduk bersimpuh untuk beberapa orang dirasa sulit karena memberikan tekanan pada betis, tungkai dan area mata kaki, maka duduk bisa diganjal dengan balok.
Apa momen paling membanggakan selama menjadi instruktur yoga?
Saya belum lama menjadi instruktur, jadi yang paling membanggakan ya kelulusan saya dalam mengambil sertifikat. Saya mengambil training sambil bekerja, dan lelahnya luar biasa. Tidak hanya harus berlatih yoga dan teori setiap hari, tapi kami juga memiliki beberapa tugas yang harus kami lakukan. Itu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya.
Bagaimana Anda menyeimbangkan antara pekerjaan di bidang komunikasi dan hobi mengajar yoga?
Keduanya masih bisa berjalan berkesinambungan. Saat ini saya belum memiliki kelas tetap di studio, jadi saya mengajar di beberapa studio dalam kelas-kelas pop-up. Saya juga mengajar di tingkat corporate dan event. Hal ini sangat memudahkan saya karena fokus utama saya adalah pekerjaan utama di kantor.
Apakah ada kesamaan antara keterampilan komunikasi yang Anda gunakan dalam pekerjaan dan saat mengajar yoga?
Menjadi pengajar membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik dan skill public speaking. Kami harus bisa menyampaikan instruksi dengan sebaik dan seefektif mungkin agar mudah dimengerti. Dalam hal ini keduanya saling mengisi.
Apa tujuan jangka panjang Anda baik dalam karier maupun dalam praktik yoga?
Dalam karier saya ingin terus berkembang sebagai seorang praktisi komunikasi dalam bidang lingkungan, sedangkan sebagai guru yoga saya ingin terus berlatih dan mendalami proses sehingga memberikan ruang aman dan nyaman bagi teman-teman yang baru memulai yoga.
Ikuti terus Rubrik Profil untuk mendapatkan kisah inspiratif dari para expert!