Dara Wenti Farayasni : Skill Komunikasi dan Kemampuan Bahasa Inggris Modal Dasar Jadi Virtual Assistant

Berawal dari pengalaman pahit dirumahkan ketika pandemi COVID-19, Dara Wenti Farayasni memutuskan mencoba peruntungan baru. Peruntungan baru yang dimaksud adalah menitipkan CV ke teman-teman expat-nya. Beruntung, link yang baik membawa Dara pada kesempatan menjadi Virtual Assistant (VA). Karena pekerjaan ini cukup fleksibel, alumni Universitas Terbuka Jurusan Ilmu Komunikasi ini pun bisa mengambil beberapa pekerjaan--asal tetap profesional dan tidak mengganggu pekerjaan lainnya. Seperti apa perjalanan dan tantangan berkarier sebagai Virtual Assistant? Buat Anda yang tertarik menggeluti profesi ini, bisa simak cerita Dara!
Boleh diceritakan tentang diri Anda dan bagaimana Anda memulai karir sebagai Virtual Assistant?
Awal karier sebagai VA karena keterpaksaan dan kondisi saat itu, dimana pada tahun 2020 saya dirumahkan dari pekerjaan saya sebagai Front Office di sebuah hotel di Bali karena Pandemi COVID-19. Saya bekerja di hotel itu sudah 8 tahun tapi harus di berhentikan karena industri pariwisata saat itu benar benar mati. Ditengah masa masa terpuruk itu, saya menjadi pengangguran selama berbulan bulan. Lalu, saya mencoba untuk menghubungi teman-teman expat yang saya kenal. Saya mulai sounding ke mereka kalau saya sedang membutuhkan pekerjaan. Dengan skill bahasa Inggris saya yang bisa dibilang sudah advance, saya mencoba menitipkan CV ke teman-teman expat saya dan berharap ada yang bisa memberikan pekerjaan.
Lalu salah satu teman ada yang bilang kalau ada kolega dia sedang membutuhkan VA untuk sebuah brand pakaian renang (Makara) yang diproduksi di Bali. Jadi, saya diwawancara dan diterima. Itulah pekerjaan pertama saya sebagai VA di tahun 2020. Dan karena pekerjaan saya sebagai VA ini cukup fleksibel, saya diijinkan untuk menjalani job lain asalkan tidak mengganggu pekerjaan sebagai VA diperusahan baju renang ini. Saya kemudian dapat rekomendasi juga dari teman, dan memberanikan diri apply pekerjaan sebagai VA untuk perusahaan travel agent Belanda yang based di Bali (Bali Point of View). Saya bilang kalau saya juga bekerja di sebuah perusahaan pakaian renang, dengan harapan bisa mengatur waktu untuk menjalani double job tersebut. Perusahaan travel agent ini pun memberi respons positif dan menerima saya juga sebagai VA di perusahaan mereka.
Apa yang memotivasi Anda untuk masih memilih profesi ini?
Yang memotivasi saya adalah, saya ingin pekerjaan yang fleksibel dengan waktu dan memberikan saya keleluasaan untuk menjalani pekerjaan tanpa harus ke kantor dan menjalani kehidupan 9-5.
Pendidikan dan pelatihan apa yang Anda miliki yang relevan dengan pekerjaan sebagai Virtual Assistant?
Saya lulusan jurusan tourism di masa SMK, lalu saya ambil pendidikan D1 di jurusan sekretaris dan saya melanjutkan studi ke S1 Jurusan komunikasi. Kalo saya pikir sekarang, pendidikan yang saya lalui, berhubungan dengan semua pekerjaan yang saya jalani sekarang.
Apakah Anda memiliki pengalaman bekerja dengan klien dari berbagai negara dan zona waktu?
Bos saya sekarang keduanya domisili Eropa, jadi terkadang bila mereka tidak di Bali, saya harus mengikuti jam produktif mereka.
Ceritakan tentang beberapa pencapaian Anda yang paling membanggakan sebagai Virtual Assistant.
Menurut saya pencapaian saya sebagai VA adalah saya mampu meng-handle beberapa komplain dan masalah dengan tidak melibatkan atau merepotkan bos saya, tapi klien juga senang.
Menurut Anda, apa saja keterampilan dan kemampuan yang paling penting bagi seorang Virtual Assistant?
Menurut saya kemampuan terpenting adalah bahasa Inggris. Karena bahasa itu merupakan media untuk mengkomunikasikan sesuatu dan sebagai VA kita harus mampu mengkomunikasikan maksud, lalu memproses sesuatu dan memberikan feedback. Kemudian kita harus slalu meng-assist bos kita dan mengakomodasikan permintaan sehingga bahasa adalah modal dasar. Lalu, yang tidak boleh ketinggalan lainnya adalah keterampilan komunikasi yang aktif dan skill inisiatif. Karena, inisiatif akan melahirkan mental kerja productif yang akan mempermudah pekerjaan kita.
Bagaimana Anda mendeskripsikan gaya kerja Anda sebagai Virtual Assistant?
Saya cukup bisa bekerja dari mana saja asal saya ada laptop dan terhubung internet dengan waktu fleksibel, di hari libur, Sabtu dan Minggu. Target saya adalah 40 jam seminggu. Saya biasanya kerja dengan menyeimbangkan antara pekerjaan dan sosial life. Tidak ada waktu baku.
Bagaimana Anda membangun dan memelihara hubungan yang baik dengan klien Anda?
Saya berusaha seproduktif mungkin dengan mengkomunikasian segala sesuatu dengan lugas dan jelas. Kepercayaan terbangun dan didukung dengan mental kerja inisiatif yang saya punya, jadi mereka juga reliable ke kita.
Bagaimana Anda menggunakan teknologi untuk membantu Anda dalam pekerjaan Anda sebagai Virtual Assistant?
Teknologi adalah salah satu support terpenting karena pekerjaan yang bisa di lakukan dimana saja tidak akan bekerja jika tidak ada PC dan internet. Lalu apps yang kita gunakan untuk mempermudah semua pekerjaan, dan berkomunikasi. Seperti WA , email dan google calendar untuk scheduling--sangat penting.
Punya saran untuk profesional yang tertarik di profesi ini?
Sarannya, perbanyak relasi dan perlancar skill komunikasi karena itu menjadi dasar dr pekerjaan ini.