Christian Samosir: "Humas Bukan Hanya Modal Tampang Melainkan Seni Berkomunikasi dan Berelasi"

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 23 Juni 2024
Rubrik Profil

Christian-Samosir

Pengalaman magang sebagai Communication Specialist LAPOR! - Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat di Kantor Staf Presiden, secara tak sengaja membuat Christian Samosir--atau biasa dipanggil Tian--menemukan passionnya di bidang public relations terutama humas pemerintahan. Ketika itu alumni S1 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini berkesempatan menggantikan supervisornya sebagai pembicara seminar menjelaskan program LAPOR! di hadapan para mahasiswa. Bahkan saat itu, dia sampai diminta memberikan testimoni oleh salah satu media TV nasional.

"Dari pengalaman magang tadi, saya jadi semakin yakin untuk menjadi Humas Pemerintahan dan saya merasa suatu institusi pemerintahan itu perlu memiliki strategi komunikasi yang powerful agar program dan kebijakan yang sudah dibuat dapat tersampaikan dengan lebih efektif," tambahnya.

Sayangnya, perjalanan Tian untuk menjadi Humas Pemerintahan tidak semulus yang diharapkan. Tian harus mencoba seleksi CPNS sampai 4 kali, hingga akhirnya berhasil keterima di Biro Komunikasi Kemenparekraf. Fun fact-nya, Kementerian/Lembaga yang dipilihnya dari percobaan pertama sampai keempat juga berbeda-beda, "Tapi saya tetap yakin sih, ini adalah bagian dari proses untuk lebih jauh memantapkan panggilan bekerja," sambungnya.

Usaha yang tak putus membuahkan hasil. Sejak 2022, Tian aktif bekerja sebagai Tenaga Humas di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Untuk jabatan resminya sendiri sebagai Analis Penerapan Aplikasi dan Konten tetapi tugas sehari-hari sebagai Media Relations Kemenparekraf. Yuk, simak kisah inspiratif Christian Samosir di sini!

Pendidikan formal dan informal apa yang Anda tempuh untuk menunjang karir Anda di bidang PR?

Sebelum bekerja di Kemenparekraf, saya sempat bekerja sebagai konsultan PR di FleishmanHillard, salah satu Global PR and Marketing Agency, di Jakarta. Di tempat ini, saya banyak bertemu dengan para senior yang mengajarkan saya banyak ilmu PR mulai dari membuat siaran pers yang baik dan benar, menjalin relasi dengan stakeholders, media, dan key opinion leader, sampai menyiapkan grand design perencanaan komunikasi yang terukur.

Saya meyakini pengalaman bekerja sebagai konsultan turut memperlengkapi dan mempersiapkan saya untuk dapat bekerja secara maksimal sebagai Tenaga Humas di kantor saat ini. Sehingga saat saya bergabung dengan tim Relasi Media, saya sudah terbiasa menjalin komunikasi dengan teman-teman media atau ketika diminta menyiapkan talking points pimpinan untuk keperluan wawancara media ataupun konferensi pers.

Meskipun berlatar belakang S1 Ilmu Komunikasi, saya juga kerap membekali diri dengan mengikuti berbagai pelatihan di luar kantor seperti Public Speaking, Creators Bootcamp, Digital Public Relations, hingga baru-baru ini pengelolaan komunikasi krisis. Hal ini dilakukan untuk tetap bisa up to date dengan tren-tren komunikasi saat ini.

Menurut Anda, apa saja peran dan tanggung jawab utama seorang PR?

Bagi saya dalam konteks pemerintahan, Humas berperan strategis sebagai tulang punggung institusi dalam membangun citra positif lewat penyampaian kebijakan maupun program-program kerja yang dimiliki. Karena itu, penting untuk menjalin hubungan yang baik serta membangun rasa saling pengertian dengan seluruh stakeholders di institusi kita bekerja.

Bagaimana Anda membangun dan memelihara hubungan dengan media dan influencer?

Bagi saya formulanya hanya satu: PR itu itu identik dengan human relations, jadi peranannya harus dijalani dengan the power of human touch atau kekuatan sentuhan manusia. Karenanya, saya senantiasa menganggap rekan-rekan media seperti rekan kerja sekaligus teman sendiri.

Selain mengingat dan menyapa dengan nama, ketika mengundang teman-teman media dalam suatu acara, tidak melulu menyampaikan informasi ataupun data terkait institusi kita, lebih jauh, ada momen ice breaking yang kita hadirkan seperti dengan menanyakan kabar atau kesibukan sehari-hari.

Bisakah Anda ceritakan tentang proyek PR paling menantang yang pernah Anda tangani?

Bulan Maret 2024, saya diberikan tanggung jawab untuk menjadi PIC meng-handle konferensi pers kolaborasi Kemenparekraf dengan Kominfo dalam rangka penyampaian dukungan dan pengembangan sektor parekraf di IKN.

Tugas yang sangat menantang bagi saya terlebih karena harus in-charge dalam menyiapkan bahan talking points dan presentasi Bapak Menteri, serta intens berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan kesiapan acara.

Puji Tuhan, tak disangka-sangka, Konpers tersebut berjalan lancar bahkan berhasil menghadirkan Menparekraf sekaligus Menkominfo beserta para pejabat Kemenparekraf dan Kominfo dalam satu panggung.

Terlebih, jumlah pemberitaan yang mencapai hingga 200 pemberitaan dari media online maupun televisi menjadi angin segar atas jerih lelah yang sudah dilalui sejak beberapa bulan persiapan.

Apakah Anda pernah mengalami pengalaman yang memberikan pelajaran berharga dalam berkarir?

Bagi saya yang kalau dihitung-hitung sudah 8 tahun berkecimpung di dunia profesional, kata-kata motivasi yang selalu saya pegang adalah “Never give up on something you believe in. Keep trying and keep praying.” Karena terkadang untuk mencapai impian kita, tidak melulu jalannya lurus dan mulus, tetapi dari pengalaman pribadi, saya harus melewati jalan berkelok-kelok dulu.

Dan meskipun gagal beberapa kali di seleksi CPNS sebelumnya, saya tetap belajar dan berkarya seraya menyiapkan diri dengan bekerja di beberapa tempat, mulai dari menjadi pegawai honorer di Badan Ekonomi Kreatif hingga bekerja sebagai konsultan komunikasi di agency lokal hingga multinasional.

Kesemuanya itu apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh akan tetap berbuah manis dan selalu ada takeaways yang menjadi bekal seumur hidup, seperti bertemu dengan orang-orang inspiratif yang berujung menjadi mentor karir serta mengasah berbagai skills baru, yang akan esensial untuk diaplikasikan di pekerjaan.

Bisakah Anda ceritakan tentang beberapa pencapaian karir yang paling Anda berkesan selama berprofesi sebagai PR?

Salah satu yang paling berkesan adalah ketika nama saya dikutip oleh salah satu media nasional yang sedang membahas sosok humas di balik institusi pemerintahan. Bagi saya, mendapatkan apresiasi dipandang sebagai insan humas yang hangat di mata rekan-rekan media adalah suatu pencapaian pribadi sekaligus pemantik untuk terus senantiasa bekerja maksimal menjadi penyambung lidah institusi ke stakeholders.

Di tahun 2023 lalu, saya juga berkesempatan mewakili Kemenparekraf menjadi salah satu delegasi pada ASEAN Tourism Crisis Communication Forum dan ASEAN Tourism Crisis Communication Team (ATCCT) Special Meeting ke-3 yang diselenggarakan di Melaka, Malaysia. Tentunya, pengalaman berjejaring dengan tim komunikasi Kementerian Pariwisata dari berbagai negara anggota ASEAN menjadi momen yang berharga dan tak terlupakan.

Selain itu, terlibat dalam tim komunikasi dan media di berbagai event internasional seperti G20, KTT ASEAN, sampai AIS Forum dimana Indonesia sebagai host country juga pengalaman yang sangat berkesan sebagai pekerja PR.

Bagaimana Anda mengukur efektivitas kampanye PR yang Anda jalankan?

Biro Komunikasi Kemenparekraf dalam menjalankan tugas dan fungsinya memiliki Indikator Kinerja Utama atau IKU yang harus dicapai. Untuk unit kerja saya yakni kelompok kerja Hubungan Masyarakat bidang Relasi Media, indikator berupa terwujudnya citra positif Kemenparekraf di media nasional dan internasional serta rasio berita positif terkait Kemenparekraf yang dipublikasikan pada media nasional dan internasional menjadi sangat krusial.

Kami sendiri melalui Tim Media Monitoring Biro Komunikasi Kemenparekraf selalu memantau jumlah sebaran pemberitaan terkait Parekraf baik harian, mingguan, hingga bulanan. Dan di setiap bulannya, selalu ada rapat rutin bersama pimpinan guna membahas hasil capaian pemberitaan sekaligus mengevaluasi untuk peningkatan kinerja kedepannya.

Strategi apa yang Anda gunakan untuk mengelola krisis dan reputasi perusahaan?

Bekerja di sektor yang rentan dengan berbagai isu serta krisis, membuat Biro Komunikasi Kemenparekraf selalu aktif memantau sentimen publik di media. Kemenparekraf memiliki buku panduan komunikasi krisis dengan tagline SURE BRO atau Surveillance, Response, dan Broadcast dalam mengelola krisis komunikasi. Sehingga, adapun serangkaian hal yang dilakukan seperti rutin mengecek laporan crisis detection analysis dan media monitoring guna memantau pemberitaan sektor parekraf yang berpotensi krisis, yang nantinya menjadi bahan acuan bagaimana Kemenparekraf akan meresponi dan mengamplifikasinya kepada stakeholders.

Perihal menjaga reputasi, Kemenparekraf senantiasa mengedepankan strategi komunikasi yang multiplatform lewat kanal Layanan Informasi dan Pengaduan (PPID), sinergi dan bekerjasama dengan unsur pentahelix (Pemerintah/Lembaga, Industri/Asosiasi Parekraf, Komunitas/Masyarakat, Akademisi, dan Media), amplifikasi melalui owned media yakni kanal-kanal resmi Kemenparekraf seperti website, media sosial, dan lainnya, serta pendekatan paid media dengan bekerjasama dengan media.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri PR di Indonesia saat ini?

Menurut saya, dengan tren media yang semakin beragam saat ini, hal-hal strategis yang perlu diamplifikasi Tim PR dalam mengorkestrasi komunikasi suatu institusi atau organisasi adalah senantiasa “menjadi berbeda”. Sehingga pendekatan komunikasi yang multiplatform dan multidimensi dengan angle, pendekatan, dan ide-ide segar menjadi kunci untuk bisa dekat dengan audiens.

Karena itu, meskipun kami bekerja sebagai humas pemerintahan, gaya komunikasi yang kami suguhkan juga tidak kaku dan lebih dinamis. Misalnya saja, bagaimana konten-konten media sosial Kemenparekraf yang suka riding the wave mengikuti isu yang sedang tren dan disesuaikan kembali dengan sektor parekraf.

Apa saja peluang dan tantangan yang dihadapi profesional PR di era digital?

Bagi saya, profesional PR di era digital sekarang semakin dipermudah di mana akses untuk mengikuti berbagai pelatihan semakin banyak, peluang untuk berjejaring semakin diperluas, bahkan keberadaan tools digital seperti Chat GPT dan sejenisnya bisa membantu kita untuk lebih kreatif menyiapkan sebuah konten.

Di sisi lain, tuntutan menjadi PR yang serba bisa di era saat ini jadi tantangan tersendiri bagaimana PR yang ideal diharapkan harus serba bisa - menulis siaran pers, menjalin relasi dengan media, hingga mampu menghasilkan konten-konten video yang viral.

Padahal menurut saya, pekerjaan PR juga berkaitan dengan teamwork sehingga kolaborasi tim sangat diperlukan dan masing-masing insan PR memiliki specialty yang bila disatupadukan dapat menghasilkan output yang jauh lebih impactful.

Menurut Anda, apa yang diperlukan untuk menjadi seorang PR yang andal?

Menurut saya, menjadi PR yang andal itu harus adaptif, inovatif, dan kolaboratif. Adaptif artinya mau senantiasa belajar mengikuti perkembangan terkini, inovatif dengan tidak cepat puas akan program-program yang itu-itu saja, serta kolaboratif yakni dengan bersikap harmonis ketika berhadapan dengan rekan satu tim bahkan para stakeholders.

Apa pesan Anda untuk para profesional muda yang tertarik berkarir di bidang ini?

Buat kamu yang ingin memulai karir di Public Relations. Anggapan kalau Humas itu hanya modal penampilan wajah yang keren itu salah besar, lebih dari itu Humas erat kaitannya dengan seni berkomunikasi dan pribadi yang mau terus belajar.

Dan, jangan lupa selain mempelajari skill-skill Humas seperti writing dan relationship management, penting juga untuk menggali isu yang diminati, sehingga bisa menentukan ingin berkarir sebagai PR di pemerintahan, korporasi, brand, atau sebagai konsultan. Good Luck!