Cerita Reddy Suzayzt Pindah Jalur dari Editor Tulisan ke Chiropractor

Buat Reddy Suzayzt, bekerja sebagai chiropractor memiliki kesamaan dengan profesi sebelumnya sebagai penulis dan editor; sama-sama memperbaiki dan merevisi. Hanya saja, medianya saja yang berbeda. Sebagai editor/penulis, alumni Universitas Negeri Yogyakarta ini bergelut dengan bentuk tulisan, kalimat, merevisi struktur kata dan tata bahasa. Nah, sebagai chiropractor, tugas Reddy memperbaiki sendi, otot, dan tulang belakang. Menarik kan?
Meski mengaku masih mencintai dunia kepenulisan, namun untuk saat ini, fokusnya adalah ber-chiropractic. Seperti apa perjalanan Reddy pindah jalur dari menulis ke dunia terapis? Yuk, baca ceritanya di sini!
Boleh diceritakan bagaimana pengalaman kepenulisan dan apa yang dikangenin dari menulis?
Saya mulai belajar menulis itu kira-kira waktu masih semester 4. Awal senang menulis tentunya karena berawal dari kegemaran saya membaca buku. Dan yang pertama kali membukakan "jendela" saya adalah buku Pramoedya A. Toer, Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Sobat saya, Irwan Apriansyah (dia juga penulis/penyair), yang menyodorkan buku itu. "Baca, Red. Kau akan menemukan suatu hal dari novel ini." Kira-kira begitulah redaksinya, haha.
Kemudian apa yang menjadi alasan utama Anda memutuskan untuk beralih dari dunia kepenulisan ke bidang kesehatan, khususnya chiropractic? (Apakah ada pengalaman pribadi, minat yang lebih mendalam, atau faktor lain yang memicu peralihan ini?)
Sebenarnya bukan beralih, saya masih punya minat untuk menulis. Namun, untuk saat ini belum memulai penulisan kreatif lagi. Adapun untuk kegiatan terapi/pengobatan, sebenarnya sudah sejak lama saya tekuni. Hanya saja sejak pandemi, saya diberi kesempatan untuk mendalami teknik chiropractic/terapi sendi dan tulang belakang. Minat saya di bidang pengobatan juga bisa dikatakan karena faktor keturunan, sebab kakek-nenek dan leluhur saya juga terkenal sebagai penyembuh.
Bagaimana keluarga dan teman-teman Anda merespons keputusan Anda untuk beralih karier yang cukup drastis ini?
Respons mereka baik-baik saja hehehe...bahkan menyambut baik, karena saya malah sering diminta mereka buat nerapi.
Bagaimana proses Anda mendapatkan sertifikasi chiropractic? Boleh diceritakan dimana dan seperti apa proses pelatihan yang dilakukan sampai akhirnya mendapatkan sertifikat?

Adakah mata pelajaran atau keterampilan yang paling menantang selama proses belajar chiropractic? Boleh diceritakan kesulitannya seperti apa?
Proses belajar ini menurut saya sepenuhnya menantang dan tidak mudah. Karena yang dihadapi adalah tubuh manusia. Meskipun teknik-tekniknya terlihat sederhana, tetapi ternyata sewaktu praktik tidak semudah yang dibayangkan. Tapi selama 6 bulan, trainer selalu memberikan pendampingan sampai kami menguasai teknik terapi.
Bagaimana Anda menyeimbangkan antara tanggung jawab sebagai penulis/editor dengan kegiatan belajar chiropractic?
Tantangan apa yang paling Anda hadapi saat pertama kali memulai praktik sebagai chiropractor? Bagaimana Anda mengatasi tantangan-tantangan tersebut?
Tantangan yang paling besar di awal adalah menghadapi keraguan. Sebab, waktu terjun langsung ke masyarakat, saya mendapatkan banyak masalah/keluhan yang beragam bahkan anomali. Belum lagi bertemu dengan klien-klien yang "di luar nalar" misalnya klien yang meminta layanan ++, tidak hanya perempuan, bahkan laki-laki. Saat menghadapi hal tersebut, sebisa mungkin saya terapkan strategi yang aman. Kontrol emosi dan cara menolak yang tidak menyinggung menjadi hal yang perlu dikuasai.
Apa pelajaran paling berharga yang Anda dapatkan selama perjalanan karier Anda, baik sebagai penulis/editor maupun sebagai chiropractor?
Apa ya, saya banyak mendapatkan insight positif justru saat saya nerapi. Banyak juga klien-klien yg diskusi dengan saya tentang banyak hal; tentang pandangan hidup dll.
Bagaimana Anda mendapatkan klien pertama Anda sebagai chiropractor?
Klien pertama saya justru teman-teman dan saudara saya. Dari mereka, selanjutnya datang orang-orang lain (teman mereka) yang minta terapi.
Kisah menarik apa yang pernah Anda alami selama berinteraksi dengan klien?
Bagaimana Anda melihat perbedaan antara bekerja sebagai penulis/editor dan sebagai chiropractor dalam hal interaksi dengan orang lain?
Ada benang merah yang menyambungkan dua profesi tsb, sebenarnya, yaitu interaksi. Tapi saya lebih merasakan interaksi yg berbeda ketika saya terjun sebagai terapis. Karena saat nerapi, rasa simpati dan empati saya lebih aktif.

Apakah ada keterampilan yang Anda peroleh sebagai penulis/editor yang berguna dalam praktik chiropractic Anda?
Bagaimana Anda menggabungkan perspektif holistik dari chiropractic dengan keterampilan analisis yang Anda miliki sebagai penulis/editor?
Jika sebelumnya saya mereposisi kata atau kalimat yang tidak pada tempatnya, sebagai terapis saya juga harus membaca tubuh, persendian, tulang belakang, dan sumbatan-sumbatan energi dalam diri mereka. Bukankah dalam hal ini saya sama-sama menganalisis? Hehehe..
Apa tujuan jangka panjang Anda sebagai seorang chiropractor?
Bagi pribadi saya, saya tidak menafikan tujuan finansial. Bahkan saya tidak malu mengatakan jika itu tujuan nomor satu. Selanjutnya barulah tujuan sosial, membantu orang lain. Tapi saya punya cita-cita sih, jika sudah tidak punya tanggungan finansial/cukup, saya mau membantu orang tanpa menetapkan tarif/suka-suka.
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada orang-orang yang ingin beralih karier atau memulai bisnis di bidang kesehatan?
Sebaiknya tidak usah. Untuk bidang yang satu ini (kesehatan), tidak semua orang bisa melakukan. Menurut saya ini terkait dengan cetak biru dalam diri manusia. Jika memang hanya ingin mencapai keuntungan finansial, lebih baik berdagang.
Oia, adakah rencana untuk menuliskan pengalaman sebagai chiropractor atau terapis ini dalam sebuah tulisan atau buku?
Tentu ada. Semoga saya bisa memulainya, ya. Sepertinya saya harus kembali melatih kuda-kuda dan jurus-jurus yang pernah saya mainkan dulu hohoho...
Itu tadi pengalaman switch karier Reddy. Yuk, baca pengalaman karier dari expert lainnya di Rubrik Profil Loker ID!