Cerita Banting Setir Larasati Pramudyaningrum dari Recruiter jadi Wirausaha Mie Ayam

Dari recruiter banting setir jadi wirausaha mie ayam. Itulah yang dilakukan Larasati Pramudyaningrum. Cerita punya cerita, ternyata pengalaman sebagai recruiter dan dinamika dunia kerja saat ini membuat Larasati mencari peluang lain untuk bekerja dan berkarya. Peluang itu adalah dengan membuka usaha Mie Ayam Sadean.
"Saya memulai petualangan recruiter di bidang tech industri, melihat tech industri mulai redup maka saya harus menjadi sesuatu yang bisa lebih sustain," jelas alumni Jurusan Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata ini. Seperti apa pengalaman dan perjalanan Larasati? Langsung simak ceritanya!
Bisa Anda ceritakan sedikit tentang perjalanan karir Anda sebagai freelancer recruiter? Apa yang membuat Anda tertarik dengan bidang ini?
Awal menjadi recruiter ini sebenarnya karena ketika kuliah mengikuti BEM dan menjadi recruiter untuk beberapa kepanitiaan. Di sana saya mulai menikmati peran recruiter karena menurut saya menjadi recruiter ini bisa banyak tahu perspektif masing-masing orang. Lalu, saya jadi tahu banyak point of view setiap orangnya terhadap satu hal yang sama. Di situlah awal ketertarikan saya menjadi recruiter. Ada satu momen yang sampai sekarang masih suka saya ceritakan ke orang-orang, ketika itu saya bertanya ke kandidat “Dalam skala 1-10, seberapa komitmenmu untuk masuk di kepanitiaan ini?” kemudian dia menjawab “Delapan kak”. Pertanyaaannya, mengapa delapan? Lalu, dia menjelaskan bahwa angka 8 itu seperti infinity maka dari itu dia memiliki komitmen 8/10 untuk kepanitiaan tersebut.
Sejak itu, saya mulai fokus untuk bidang recruitment mulai dari mengambil magang pada bidang ini, pekerjaan, hingga akhirnya ada beberapa tawaran freelance recruiter. Singkatnya, saya menyukai bidang ini karena jadi bisa mengetahui POV setiap orang dengan beberapa case dan tidak jarang pula mengetahui informasi yang penting hingga tidak begitu penting melalui wawancara recruitment ini. Bagi saya, fase wawancara ini adalah fase diskusi antara saya sebagai HR Recruitment dengan kandidat.
Apa saja tantangan terbesar yang Anda hadapi selama menjadi freelancer recruiter, terutama di era digital seperti sekarang?
Menurut saya, tantangan untuk freelance recruiter era digital ini kurang lebih sama ya di era non digital. Lowongan pekerjaan sangat banyak, namun kandidat yang compitable untuk bekerja tidak cukup banyak. Bahkan di era digital sekarang ini, masih banyak orang-orang yang tidak memiliki sosial media seperti Linkedin untuk mempermudah reach out kandidat atau profile linkedin yang kurang informatif sehingga recruiter cukup sulit untuk mengetahui apakah orang tersebut bisa untuk di-approach terkait lowongan yang tersedia.
Keterampilan apa saja yang menurut Anda paling penting untuk dimiliki oleh seorang freelancer recruiter agar bisa sukses?
Bagi saya, recruiter adalah marketing di bidang human resources. Di mana skill marketing yang dimiliki kurang lebih sama seperti marketing pada bidang sales. Kita sebagai recruiter harus pintar-pintar “menjual” atau branding company agar kandidat tersebut tertarik untuk apply atau bahkan menerima offering yang recruiter berikan. Selain itu, berwawasan luas juga dibutuhkan untuk menjadi freelance recruiter. Hal ini dikarenakan terkadang freelance recruiter diberi tugas untuk mencari kandidat yang dimana posisi tersebut masih asing. Maka dari itu, up to date atau sering membaca hal-hal di luar bidang yang ditekuni juga diperlukan agar bisa menyesuaikan lawan bicara dalam hal ini kandidat.
Bagaimana menurut Anda perubahan lanskap dunia kerja, terutama dalam hal perekrutan, selama beberapa tahun terakhir ini? Apa peran teknologi dalam hal ini?
Menurut saya, hal yang paling signifikan terlihat adalah proses rekrutmen itu sendiri. Jika dahulu untuk psikotes, kandidat diharuskan untuk datang langsung ke perusahaan yang bersangkutan sekarang untuk mengurangi cost kandidat serta memperluas cakupan chance kandidat luar daerah maka sekarang kebanyakan perusahaan sudah beralih menjadi online psikotes. Hal ini juga memudahkan perusahaan dalam menyimpulkan data psikotes dikarenakan terkadang bisa langsung sinkron ke sistem perusahaan. Recruiter tidak memperlukan penginputan manual untuk hasil dari psikotes tersebut. Selain itu, untuk membagikan lowongan kerja maupun mengundang kandidat pun bisa melalui sosial media perusahaan maupun pribadi recruiter itu sendiri.
Hal ini cukup menguntungkan perusahaan maupun meringankan pekerjaan recruiter karena era digital ini informasi dibagikan secara cepat dan mudah. Pengumpulan berkas CV kandidat pun tidak menjadi tumpukan sampah di perusahaan karena CV dapat dikirimkan melalui website perusahaan maupun email jadi kandidat tidak mengeluarkan uang untuk print dan kirim CV, perusahaan juga tidak memiliki tumpukan kertas yang banyak. Apalagi CV merupakan data yang cukup rahasia dan tidak dapat dibuang sembarangan.
Apa tren terbaru dalam dunia perekrutan yang menarik perhatian Anda?
Mungkin bukan tren terbaru ya, lebih ke peralihan tech ke non tech. Banyak orang yang sekarang mulai consider untuk kembali ke non tech industry di mana tech industry sekarang sedang mengalami winter tech. Tech industry mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan saat pandemi. Maka dari itu, most of people berpikir untuk kembali ke non tech industry atau bahkan goverment untuk safe place mereka dalam mencari mata pencaharian. Hal ini menjadinya tech industry cukup kesulitan untuk mencari kandidat dan begitu sebaliknya kandidat untuk pindah ke tech industry lainnya juga cukup sulit.
Keterampilan apa saja yang menurut Anda perlu dikuasai oleh generasi muda agar bisa bertahan di dunia kerja saat ini?
Agile, inovatif, dan kreatif. Di era digital yang serba cepat ini, terkadang kita perlu duduk sejenak untuk melihat celah mana yang bisa diambil. Celah-celah yang tidak dapat disadari ketika kita ikut serba cepat-nya kehidupan ini. Maka dari itu, duduk sejenak dan melamun kadang diperlukan untuk menguasai ketiga keterampilan itu tadi. Untuk menjadi inovatif dan kreatif kita juga harus agile, karena mencoba hal-hal baru, hal-hal yang tidak orang lain lakukan, dan sejenisnya akan melewati banyak rintangan yang mengharuskan kita bakoh kalau dalam bahasa Jawa.

Apa yang mendorong Anda untuk beralih dari menjadi freelancer recruiter menjadi membuka usaha mie ayam?
Melihat celah itu tadi, saya mulai dari keresahan pribadi yang saya miliki. Lalu, keresahan itu diteliti lebih dalam lagi, apakah memungkinkan untuk menjadi sebuah peluang? Jika memungkinkan, maka lakukanlah. Dari awal memang sudah niat tidak terus-menerus mencari lowongan kerja tapi cita-cita saya adalah membuat lowongan kerja. Awalnya hanya asal bicara di tongkrongan bareng temen-temen, tapi ternyata terwujud juga. Freelance recruiter masih saya kerjakan jika memang ada tawaran yang masuk, namun bukan menjadi hasil utama saya lagi. Saya memulai petualangan recruiter di bidang tech industri, maka kembali lagi dengan fenomena yang sudah sempat saya singgung tadi bahwa tech industri mulai redup maka saya harus menjadi sesuatu yang bisa lebih sustain. Mie Ayam saya pilih karena saya suka makan mie ayam dan keresahan saya tadi yaitu tidak adanya mie ayam di tempat saya membuka lapak sekarang. Di mana tempat tersebut adalah universitas saya berkuliah dulu. Singkatnya, berawal dari keresahan, melihat peluang, lalu laksanakan.
Bagaimana proses peralihan dari dunia rekrutmen ke bisnis kuliner, terutama mie ayam? Apa saja kendala yang Anda hadapi?
Tidak sedikit orang yang bertanya hal ini kepada saya, jawaban saya adalah tetap sama, SDM. Empowering masih menjadi kendala saya hingga saat ini. Cukup sulit untuk kandidat yang cocok dan capable bekerja dengan value yang saya miliki. Banyak sekali kandidat yang asal mendaftar, tidak bisa dihubungi, atau bahkan keluar mendadak. Ini masih menjadi tantangan saya sejak awal buka usaha. Mencari SDM untuk usaha UMKM lebih sulit dibandingkan saat mencari kandidat untuk perusahaan. UMKM masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, maka dari itu ini kendala yang masih saya benahi terus-menerus.
Apa yang menjadi motivasi utama Anda untuk memilih bisnis kuliner, khususnya mie ayam?
Pada dasarnya, sejak SD saya sudah suka berjualan, apa saja saya jual. Namun, jika ditarik secara garis besar, jualan saya kebanyakan ada di bidang kuliner. Dulu untuk mendapatkan uang saku, saya jualan pisang caramel dan roti bakar dari bekal yang diberikan orang tua. Jadi, bekal itu saya jual untuk membeli jajan yang saya inginkan waktu itu hehe. Long story short, ketika libur SMA menunggu jadwal masuk kuliah, saya bekerja menjadi dessert barista di salah satu kedai dessert di Semarang. Setelahnya pun di akhir perkuliahan saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi HR Generalist pada salah satu kafe di Semarang. Berawal dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya akhirnya berpikir untuk terjun langsung di dunia kuliner ini. Tidak sedikit pula keluarga yang juga berbisnis di bidang kuliner, bersamaan dengan itu dukungan keluarga juga motivasi utama saya untuk akhirnya memutuskan berbisnis mie ayam.
Apa visi Anda untuk bisnis mie ayam ini ke depannya? Apakah ada rencana untuk mengembangkannya lebih besar lagi?
Visi saya adalah mengembangkan mie ayam ini untuk mahasiswa Unika Soegijapranata dan masyarakat semarang, sejauh ini saya belum ada keinginan untuk buka cabang atau mengepakkan sayap lebih besar. Saya ingin warung kecil-kecilan namun larisnya besar-besaran.

Bagaimana Anda melihat perpaduan antara pengalaman Anda sebagai recruiter dengan bisnis kuliner yang Anda jalankan saat ini?
Jelas ada, ketika saya bilang recruiter adalah marketing di bidang human resources maka saya juga terapkan cara “marketing HR” itu di warung saya. Bagaimana cara untuk engange dan branding warung agar memiliki identitas yang tidak dimiliki warung mie ayam lainnya. Sama halnya ketika saya menjadi recruiter, saya juga menerapkan hal yang sama. Saya melihat celah atau concern apa yang dimiliki dari kandidat, maka saya coba berikan penawaran solusi atau malah menjadi diskusi menarik ketika interview berlangsung. Terbiasa menjadi recruiter juga menjadikan saya terbiasa untuk ngobrol dengan orang lain, itu yang menjadi skill saya sejauh ini ketika menjamu pelanggan. Sesekali saya juga membuka ruang diskusi tentang apapun yang bisa menjadi bahasan saya dan pelanggan.
Menurut Anda, apa saja tantangan terbesar yang dihadapi oleh wirausaha muda saat ini?
Kebanyakan orang masih terlalu banyak berpikir tapi tidak eksekusi. Teman-teman perlu tau bahwa yang memiliki ide tidak cuma kamu, jadi selama sudah ada ide, peluang, dan modal jalan aja dulu. Kalau menunggu benar-benar siap, nyatanya juga ketika berjalan banyak hal yang diluar prediksi. Maka dari itu, jalanin aja dulu.
Apa pesan Anda untuk anak muda yang ingin memulai usaha sendiri?
Lakukan saja dulu, selama persiapan sudah setengah sampai ¾ matang, maka jalan aja dulu. Perihal nantinya di jalan ada rintangan atau memang tidak sesuai prediksi, bisa learning by doing saja. Jangan takut untuk salah, jangan takut untuk mencoba, jangan takut untuk bertanya. Perbanyak diskusi dengan teman sejawat. Banyak eksplor. Usaha apapun, pelayanan adalah nomor satu. Beranilah minta feedback ke customer apalagi ketika sudah menjadi repeat customer, makin enak buat diajak diskusi.
Simak terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan cerita pengalaman para profesional di dunia karier.