Bukan Hanya Perusahaan, Karyawan Juga Suka Ghosting, Cek Faktanya di Sini!

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 21 September 2024
Dunia Kerja

karyawan-melakukan-ghosting-ke-perusahaan-tahun-2024

Selama ini istilah ghosting alias pengabaian lebih akrab dilakukan perusahaan ke karyawan. Misalnya, perusahaan yang tidak menginfokan kalau Anda tidak lolos dalam wawancara atau HR yang banyak nanyak tapi diterima kagak...nah situasi ini kita sebut dengan ghosting. Tunggu dulu,  jangan mengeluh kalau perusahaan suka ghosting sementara Anda sendiri juga suka nge-ghosting perusahaan, ups!

Ghosting merupakan masalah yang kompleks dan membutuhkan perhatian dari semua pihak. Baik karyawan maupun perusahaan perlu bertanggung jawab atas tindakan mereka dan berusaha untuk membangun hubungan yang profesional dan saling menghormati. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Kan idealnya begitu...

Terkhusus ghosting yang dilakukan karyawan ke perusahaan tidak hanya berdampak dalam hal biaya rekrutmen dan gangguan operasional, tetapi juga dapat merusak reputasi perusahaan sebagai tempat kerja yang menarik. Kalau tak percaya, baca informasi selengkapnya di sini!

Bentuk-Bentuk Ghosting yang Dilakukan Karyawan 

Ghosting dalam dunia kerja tidak hanya sebatas menghilang tanpa kabar setelah wawancara. Berikut adalah beberapa bentuk ghosting yang sering terjadi:

1. Tidak Muncul di Hari Pertama Kerja

Bentuk ghosting yang paling umum adalah ketika calon karyawan yang telah menerima tawaran kerja dan menandatangani kontrak tidak muncul di hari pertama kerja tanpa memberikan pemberitahuan sebelumnya. Tentu saja sangat merugikan perusahaan karena telah melakukan persiapan untuk menyambut karyawan baru.

2. Mengundurkan Diri Tanpa Pemberitahuan

Karyawan yang sudah bekerja di perusahaan juga bisa melakukan ghosting dengan tiba-tiba berhenti bekerja tanpa memberikan surat pengunduran diri atau pemberitahuan sebelumnya. Operasional perusahaan bisa terganggu terutama jika posisi yang ditinggalkan bersifat krusial.

3. Tidak Menanggapi Komunikasi

Ini terjadi ketika karyawan yang telah menerima tawaran kerja, sedang dalam proses rekrutmen, atau bahkan sudah bekerja, secara sengaja mengabaikan semua bentuk komunikasi dari perusahaan. Tidak membalas email, panggilan telepon, atau pesan instan. Perilaku ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ketidakpuasan terhadap penawaran kerja, menerima tawaran yang lebih baik, atau sekadar ingin menghindar dari konfrontasi. Akibatnya, perusahaan mengalami kesulitan dalam melanjutkan proses rekrutmen atau menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan karyawan tersebut.

4. Mengabaikan Janji Wawancara

mengabaikan-janji-wawancara-tahun-2024

Calon karyawan yang telah dijadwalkan untuk mengikuti wawancara, namun tanpa alasan yang jelas membatalkan atau tidak hadir tanpa konfirmasi, dapat dikategorikan sebagai ghosting. Perilaku ini tidak hanya menunjukkan kurangnya profesionalisme, tetapi juga dapat merugikan perusahaan.

Cobalah memandang dari sisi perusahaan. Ketika wawancara sudah dijadwalkan itu berarti perusahaan telah mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan wawancara, termasuk mengatur jadwal, menyiapkan materi wawancara, dan mungkin juga mengundang calon karyawan lain. Ketika calon karyawan mengabaikan janji, hal ini dapat mengganggu proses rekrutmen dan menyebabkan penundaan dalam mengisi posisi yang kosong. Selain itu, tindakan ini juga memberikan kesan negatif terhadap calon karyawan tersebut dan dapat merusak reputasinya.

5. Mengambil Cuti Sakit Berlebihan

Biasanya, karyawan yang ingin menghilang dari pekerjaan akan mengajukan cuti sakit berulang kali tanpa disertai bukti medis yang jelas. Setelah beberapa waktu, mereka kemudian menghilang tanpa kabar. Perilaku ini dapat merugikan perusahaan karena mengganggu kelancaran operasional dan produktivitas tim.

Selain itu, perusahaan juga harus menanggung biaya tambahan untuk mencari pengganti sementara atau mengatur ulang tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh karyawan tersebut. Meskipun alasan yang diajukan adalah sakit, namun jika tidak didukung oleh bukti yang valid, maka dapat disimpulkan bahwa karyawan tersebut sedang menghindari tanggung jawabnya di tempat kerja.

6. Mengubah Nomor Kontak

Dengan mengubah nomor kontak, perusahaan menjadi kesulitan untuk menghubungi karyawan tersebut. Ini adalah bentuk penghindaran yang disengaja dan dapat ditafsirkan sebagai upaya untuk memutus komunikasi. Tujuan utama dari tindakan ini adalah untuk menghindari konfrontasi atau tanggung jawab terkait pekerjaan. Perusahaan yang tidak dapat menghubungi karyawannya akan kesulitan dalam menyelesaikan masalah atau memberikan informasi penting. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya diselesaikan bersama-sama menjadi terhambat.

Selain itu, mengubah nomor kontak juga dapat menimbulkan kecurigaan bahwa karyawan tersebut sedang menyembunyikan sesuatu. Misalnya, mereka mungkin memiliki masalah terkait kinerja atau perilaku yang tidak ingin dihadapi. Dengan demikian, mengubah nomor kontak menjadi cara yang mudah untuk menghindari konsekuensi dari tindakan mereka.

7. Menghapus Akun Media Sosial

Dalam era digital saat ini, media sosial sering digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi sosial, termasuk dalam lingkungan kerja. Dengan menghapus akun media sosial, karyawan seolah-olah menghilang dari pandangan dan sulit dilacak. Tindakan ini dapat mengindikasikan keinginan karyawan untuk menghindari kontak dengan perusahaan, baik karena alasan pribadi maupun profesional. Selain itu, menghapus akun media sosial juga dapat menjadi cara untuk memutus hubungan dengan rekan kerja yang mungkin dapat memberikan informasi tentang keberadaan atau aktivitas karyawan tersebut.

8. Berhenti Mengakses Sistem Perusahaan

Sistem perusahaan, seperti email perusahaan, aplikasi internal, atau database, merupakan alat yang vital dalam menjalankan tugas sehari-hari. Ketika seorang karyawan tiba-tiba berhenti mengakses sistem ini tanpa pemberitahuan, dapat diasumsikan bahwa mereka sedang menghindari tanggung jawab dan ingin memutus hubungan dengan perusahaan.

Ini adalah bentuk-bentuk ghosting karyawan kepada perusahaan, informasi mengenai per-ghosting-an di dunia kerja bisa dibaca di artikel Sering Kena Ghosting HRD Mungkin Ini Penyebabnya.

Mengapa Karyawan Melakukan Ghosting?

mengapa-karyawan-melakukan-ghosting-tahun-2024

Ada akibat ada sebab. Tidak mungkin hujan tiba-tiba datang tanpa ada mendung--walau kadang-kadang mendung tanpo udan! Berikut ini adalah penjelasan mengapa seorang calon karyawan atau juga karyawan bisa sampai melakukan ghosting!

1. Ketidakpuasan terhadap Penawaran Kerja

Calon karyawan yang telah menerima tawaran kerja mungkin akan melakukan ghosting jika setelah mempertimbangkan kembali, mereka merasa penawaran tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Hal ini bisa terkait dengan gaji, benefit, atau deskripsi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi dan pengalaman mereka. Ketidakpuasan ini mendorong mereka untuk mencari peluang lain yang lebih menarik.

2. Menerima Tawaran yang Lebih Baik

Salah satu alasan paling umum adalah adanya tawaran pekerjaan yang lebih baik dari perusahaan lain. Tawaran ini bisa berupa gaji yang lebih tinggi, posisi yang lebih strategis, atau benefit yang lebih menarik. Dalam situasi seperti ini, calon karyawan akan cenderung memilih opsi yang dianggap lebih menguntungkan bagi mereka.

3. Ketakutan akan Konfrontasi

Beberapa karyawan mungkin merasa sulit untuk menyampaikan alasan mereka secara langsung kepada perusahaan. Mereka mungkin khawatir akan menimbulkan konflik atau mendapatkan penilaian negatif dari atasan atau rekan kerja. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menghilang secara diam-diam sebagai cara untuk menghindari konfrontasi.

4. Masalah Pribadi

Masalah pribadi yang serius, seperti masalah keluarga, kesehatan, atau keuangan, dapat menjadi alasan mengapa seseorang melakukan ghosting. Dalam situasi seperti ini, karyawan mungkin merasa tidak mampu untuk fokus pada pekerjaan dan memilih untuk menghilang sementara waktu.

5. Lingkungan Kerja yang Tidak Kondusif

Lingkungan kerja yang toxic atau tidak menyenangkan juga dapat mendorong karyawan untuk melakukan ghosting. Itulah sebabnya mengapa adab dan etika itu penting di dunia kerja. Jika seorang karyawan merasa tidak dihargai, tidak nyaman, atau merasa tertekan di tempat kerja, mereka mungkin akan mencari cara untuk keluar dari situasi tersebut, termasuk dengan cara menghilang.

Memahami alasan-alasan di balik ghosting dapat membantu perusahaan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang positif, memberikan penawaran yang kompetitif, dan membangun hubungan yang baik dengan karyawan, perusahaan dapat mengurangi risiko terjadinya ghosting.

Yuk, berhenti saling ghosting, cukup si dia saja yang di-ghosting hehehe... Dan untuk informasi mengenai lowongan kerja anti ghosting dan tepercaya bisa Anda cek di loker.id. Gas langsung...