Benarkah Masyarakat Kelas Menengah Indonesia Rentan Mengalami PHK?

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 21 September 2024
Dunia Kerja

masyarakat-kelas-menengah-rentan-diphk-tahun-2024

Sering mendengar istilah kelas menengah? Masih bingung dengan pengertiannya? Kelas menengah adalah kelompok sosial yang berada di antara kelas atas dan kelas bawah. Mereka umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pekerjaan yang stabil, dan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta membeli barang dan jasa yang dianggap sebagai simbol status sosial.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional(PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan kalau kelas menengah selama ini merupakan tulang punggung ekonomi suatu negara. Disebutkan begitu karena mereka adalah kelompok konsumen terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi dan investasi. Ketika kelas menengah mengalami kesulitan, maka akan berdampak langsung pada perekonomian secara keseluruhan. Mengapa masyarakat kelas menengah Indonesia disebut rentan mengalami PHK? Penjelasannya bisa dibaca selengkapnya di sini!

Apa Itu Masyarakat Kelas Menengah?

Sebelum memahami lebih jauh kaitan antara masyarakat kelas menengah dan PHK, ada baiknya kita pahami dulu apa itu masyarakat kelas menengah. Kelas menengah adalah kelompok sosial yang berada di antara kelas atas dan kelas bawah. Mereka umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pekerjaan yang stabil, dan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta membeli barang dan jasa yang dianggap sebagai simbol status sosial.

Seperti apa ciri-ciri masyarakat kelas menengah?

  • Pendidikan: Biasanya memiliki pendidikan formal yang lebih tinggi, baik sarjana maupun pascasarjana.
  • Pekerjaan: Bekerja di sektor formal dengan posisi yang cukup stabil, seperti pegawai negeri, karyawan perusahaan swasta, atau profesional.
  • Pendapatan: Memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk biaya pendidikan anak, kesehatan, dan rekreasi.
  • Gaya Hidup: Memiliki gaya hidup yang cenderung konsumtif, menyukai merek-merek tertentu, dan mengikuti tren terbaru.
  • Nilai-nilai: Menghargai pendidikan, kesehatan, dan stabilitas hidup. Seringkali memiliki kesadaran sosial yang tinggi dan terlibat dalam kegiatan sosial.
  • Konsumen Utama: Kelas menengah merupakan kelompok konsumen yang besar dan memiliki daya beli yang tinggi. Mereka menjadi target utama bagi berbagai produk dan jasa.
  • Penggerak Ekonomi: Kelas menengah berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi karena mereka cenderung lebih banyak mengkonsumsi dan berinvestasi.
  • Pemilih yang Strategis: Dalam konteks politik, kelas menengah menjadi kelompok pemilih yang sangat strategis karena jumlahnya yang besar dan kesadaran politik yang tinggi.

Masyarakat Kelas Menengah Rentan Mengalami PHK

phk-pada-masyarakat-kelas-menengah-tahun-2024

Perubahan zaman yang begitu cepat, ditandai dengan disrupsi teknologi dan persaingan global yang semakin ketat, membuat masyarakat kelas menengah yang selama ini dianggap aman dari ancaman kehilangan pekerjaan, kini harus waspada. PHK tidak lagi menjadi momok bagi pekerja kerah biru, namun juga menjadi ancaman nyata bagi mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan yang stabil. Mengapa demikian?

1. Disrupsi Teknologi

Otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) telah menggantikan banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, terutama yang bersifat repetitif dan membutuhkan keterampilan manual. Selain itu, munculnya platform digital dan ekonomi gig telah menciptakan persaingan yang semakin ketat di berbagai sektor. Akibatnya, banyak pekerja kelas menengah yang memiliki keahlian spesifik namun tidak mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, sehingga berisiko tinggi kehilangan pekerjaan dan digantikan oleh mesin atau pekerja lepas yang lebih murah dan fleksibel.

2. Globalisasi

Globalisasi telah menciptakan persaingan bisnis yang semakin ketat di tingkat internasional. Perusahaan-perusahaan besar kini dapat dengan mudah memindahkan produksi ke negara-negara dengan biaya tenaga kerja yang lebih murah, sehingga mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja di negara asal. Selain itu, perjanjian perdagangan bebas memungkinkan produk dari negara lain masuk ke pasar domestik dengan lebih mudah, sehingga perusahaan lokal harus bersaing dengan produk impor yang seringkali lebih murah. Akibatnya, banyak perusahaan melakukan efisiensi biaya dengan mengurangi jumlah karyawan, termasuk mereka yang berada di posisi menengah. Hal ini membuat masyarakat kelas menengah yang sebelumnya merasa aman dalam pekerjaannya, kini harus menghadapi risiko PHK.

3. Restrukturisasi Perusahaan

Proses penggabungan departemen, pengurangan lini produk, atau otomatisasi pekerjaan dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja secara massal. Meskipun restrukturisasi bertujuan untuk memperbaiki kinerja perusahaan, namun bagi karyawan yang terkena dampak, hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian dan kesulitan dalam mencari pekerjaan baru, terutama jika mereka memiliki keterampilan yang spesifik dan sulit untuk diterapkan di bidang lain.

4. Perubahan Kebutuhan Pasar

Perubahan kebutuhan pasar yang dinamis dan cepat seringkali memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan cepat. Ketika preferensi konsumen berubah, perusahaan harus mengubah strategi bisnis mereka, termasuk lini produk atau layanan yang ditawarkan. Hal ini dapat mengakibatkan beberapa posisi pekerjaan menjadi tidak relevan dan harus dihapus. Masyarakat kelas menengah, yang seringkali bekerja di posisi yang terkait langsung dengan produksi atau pemasaran produk atau layanan tertentu, menjadi sangat rentan terhadap PHK akibat perubahan kebutuhan pasar. Jika keterampilan dan pengalaman mereka tidak lagi sesuai dengan tuntutan pasar, mereka akan kesulitan untuk bersaing dengan kandidat lain yang memiliki keahlian yang lebih relevan.

5. Beban Utang

Tekanan finansial yang semakin besar akibat menumpuknya utang dapat menyebabkan stres yang tinggi dan mengganggu produktivitas kerja. Dalam situasi yang mendesak, individu yang terlilit utang mungkin terpaksa mengambil keputusan yang tidak rasional, seperti mengabaikan pekerjaan atau bahkan melakukan tindakan yang melanggar hukum. Akibatnya, mereka bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga menghadapi risiko reputasi yang buruk dan kesulitan dalam mencari pekerjaan baru.

Bagaimana PHK Masyarakat Kelas Menengah Memengaruhi Roda Ekonomi Nasional

roda-ekonomi-tahun-2024

Menurut data dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, jumlah kelas menengah di Indonesia adalah 66,35% dari penduduk Indonesia. Kelompok masyarakat ini menguasai 81,49% dari total konsumsi  di Indonesia. Ini merupakan indikator kalau masyarakat kelas menengah merupakan penopang utama ekonomi domestik. Ketika masyarakat kelas menengah gonjang-ganjing karena PHK ini bisa berdampak pada kestabilan roda ekonomi nasional.

Selain itu, penurunan pendapatan masyarakat kelas menengah juga akan mengurangi penerimaan pajak negara, yang pada akhirnya dapat membatasi kemampuan pemerintah dalam memberikan pelayanan publik dan menjalankan program-program pembangunan. Uraian selengkapnya bisa dibaca dalam poin-poin ini:

1. Penurunan Daya Beli

Masyarakat kelas menengah merupakan kelompok konsumen terbesar. Ketika mereka kehilangan pekerjaan dan pendapatannya berkurang, daya beli mereka akan menurun drastis. Hal ini akan berdampak pada penurunan permintaan terhadap berbagai jenis barang dan jasa, mulai dari barang konsumsi sehari-hari hingga barang-barang mewah. Penurunan permintaan ini akan memaksa produsen untuk mengurangi produksi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan PHK di sektor produksi.

2. Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi

Penurunan konsumsi masyarakat kelas menengah akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Konsumsi merupakan komponen utama dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB). Jika konsumsi masyarakat menurun, maka pertumbuhan PDB pun akan melambat.

3. Berkurangnya Investasi

Masyarakat kelas menengah juga merupakan kelompok investor yang penting. Dengan berkurangnya pendapatan, mereka akan cenderung mengurangi investasi, baik dalam bentuk investasi langsung maupun investasi portofolio. Penurunan investasi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

4. Penurunan Penerimaan Pajak

Pemerintah memperoleh sebagian besar pendapatannya dari pajak. Ketika pendapatan masyarakat kelas menengah menurun, maka penerimaan pajak pun akan ikut menurun. Penurunan penerimaan pajak ini akan membatasi kemampuan pemerintah dalam membiayai berbagai program pembangunan, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

5. Meningkatnya Ketimpangan Sosial

PHK massal di kalangan masyarakat kelas menengah akan memperbesar ketimpangan sosial. Kelompok kaya akan semakin kaya, sedangkan kelompok miskin akan semakin miskin. Peningkatan ketimpangan sosial dapat memicu berbagai masalah sosial, seperti kriminalitas, konflik sosial, dan ketidakstabilan politik.

Dengan membaca uraian di atas kita bis amenyadari bersama kalau PHK yang akhir-akhir ini terjadi bukanlah isu personal melainkan isu nasional dan tidak bisa didiamkan begitu saja. Perlu ada penanganan lebih lanjut dan serius untuk mengatasinya. Punya opini berbeda terkait hal ini? Yuk, share komen Anda dan dapatkan informasi lowongan kerja di loker.id!