Benarkah Gaji Perempuan Lebih Rendah?

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 21 September 2024
Perencanaan Karir

benarkah-perempuan-gajinya-lebih-rendah-tahun-2024

Tanggal 18 September diperingati sebagai Hari Kesetaraan Upah Internasional (International Equal Pay Day). Hari ini menjadi momen penting untuk menyoroti perjuangan panjang dalam mencapai kesetaraan upah antara perempuan dan laki-laki. Faktanya, hingga saat ini, perempuan di banyak negara masih menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk pekerjaan yang setara. Perbedaan upah ini dikenal sebagai gender pay gap.

Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang ketidakadilan ini dan mendorong upaya-upaya untuk menutup kesenjangan tersebut. Dengan memperingati Hari Kesetaraan Upah, kita diingatkan bahwa setiap individu, terlepas dari gendernya, berhak mendapatkan imbalan yang adil atas kerja keras dan kontribusinya. Benarkah gaji perempuan lebih rendah? Baca penjelasannya di sini!

Penyebab Gaji Perempuan Lebih Rendah

penyebab-gaji-perempuan-lebih-rendah-tahun-2024

Tidak hanya di Indonesia, kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki adalah masalah global yang kompleks dan berakar pada berbagai faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Dilansir dari artikel The Conversation berjudul Riset: Ada Kesenjangan Upah Antar Gender di Indonesia Terutama Bagi Perempuan di Bawah 30 Tahun, disebutkan perempuan mendapatkan upah 21,64% lebih rendah dibanding laki-laki. Hanya saja, untuk perempuan berusia 30 tahun ke atas cenderung mendapatkan upah yang setara dengan catatan memiliki pengalaman kerja yang sama.

Meskipun banyak kemajuan telah dicapai dalam kesetaraan gender, namun perempuan masih seringkali menghadapi ketidakadilan dalam dunia kerja, salah satunya adalah dalam hal remunerasi. Berikut adalah beberapa faktor utama yang berkontribusi pada fenomena ini:

1. Stereotipe Gender

Sejak dini, masyarakat seringkali mengajarkan peran gender yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Stereotipe ini mengakar kuat dalam budaya dan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kemampuan dan minat profesional perempuan. Akibatnya, pekerjaan yang didominasi perempuan seringkali dianggap kurang bernilai dan dibayar lebih rendah dibandingkan pekerjaan yang didominasi laki-laki, meskipun tingkat pendidikan dan tanggung jawabnya sama.

2. Beban Pekerjaan Rumah Tangga

Perempuan secara tradisional lebih banyak memikul beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Beban ganda ini membatasi waktu dan energi yang dapat dialokasikan perempuan untuk karier mereka. Akibatnya, perempuan cenderung memilih pekerjaan yang lebih fleksibel atau paruh waktu, yang seringkali dibayar lebih rendah.

3. Diskriminasi

Diskriminasi gender masih terjadi di banyak tempat kerja. Perempuan seringkali menghadapi bias gender dalam proses rekrutmen, promosi, dan penentuan gaji. Hal ini dapat berupa diskriminasi langsung, seperti menolak mempekerjakan perempuan karena gendernya, atau diskriminasi tidak langsung, seperti memberikan tugas yang kurang menantang kepada perempuan. Informasi mengenai diskriminasi di ruang kerja bisa Anda baca di artikel 10 Tanda Perusahaan Melakukan Diskriminasi dalam Bekerja.

4. Interupsi Kariernego

Ketika seorang perempuan mengambil cuti melahirkan atau mengurangi jam kerja untuk mengurus anak, hal ini dapat menyebabkan mereka kehilangan pengalaman kerja, peluang promosi, dan jaringan profesional yang berharga. Akibatnya, perempuan cenderung kembali ke pekerjaan dengan posisi yang lebih rendah atau gaji yang lebih kecil dibandingkan rekan laki-laki mereka yang terus bekerja tanpa interupsi.

Selain itu, interupsi karier juga dapat membuat perempuan merasa kurang percaya diri dan kurang kompetitif dalam dunia kerja. Secara keseluruhan, interupsi karier memperkuat siklus ketidaksetaraan gender dan memperbesar kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam hal pendapatan dan kemajuan karier.

5.  Sektor Pekerjaan

Secara historis, perempuan cenderung berkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu seperti pendidikan, kesehatan, dan jasa yang seringkali dikaitkan dengan pekerjaan yang lebih bersifat merawat dan dianggap kurang strategis. Sektor-sektor ini umumnya memiliki tingkat upah yang lebih rendah dibandingkan sektor-sektor yang didominasi laki-laki seperti teknologi, keuangan, dan konstruksi.

Konsentrasi gender dalam sektor pekerjaan ini memperkuat stereotip gender dan memicu diskriminasi dalam penentuan gaji. Selain itu, nilai sosial yang berbeda terhadap pekerjaan yang didominasi perempuan juga berkontribusi pada kesenjangan upah. Sebagai contoh, pekerjaan perawatan anak seringkali dianggap kurang bernilai secara ekonomi dibandingkan pekerjaan di sektor keuangan, meskipun keduanya sama-sama penting bagi masyarakat.

6. Kurangnya Representasi Perempuan dalam Posisi Pengambilan Keputusan

Ketika posisi-posisi penting dalam perusahaan, seperti direksi atau manajer, didominasi oleh laki-laki, maka kebijakan dan keputusan yang diambil cenderung lebih menguntungkan laki-laki. Hal ini dapat tercermin dalam struktur gaji, peluang promosi, dan alokasi sumber daya. Perempuan yang berada dalam posisi yang lebih rendah dalam hierarki perusahaan seringkali memiliki suara yang lebih kecil dalam menentukan nilai dan kompensasi untuk pekerjaan mereka.

Akibatnya, gaji yang ditawarkan kepada perempuan cenderung lebih rendah dibandingkan laki-laki, meskipun mereka melakukan pekerjaan yang sama atau bahkan lebih baik. Selain itu, kurangnya representasi perempuan juga dapat menghambat adanya kebijakan yang mendukung kesetaraan gender di tempat kerja, seperti cuti melahirkan yang lebih panjang atau program mentoring bagi perempuan.

7. Kurangnya Negosiasi Gaji

Perempuan cenderung kurang percaya diri dalam menegosiasikan gaji dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti norma sosial yang mengajarkan perempuan untuk bersikap lebih rendah hati, kurangnya pengalaman dalam negosiasi, dan takut dianggap agresif.

Tips Biar Pede Negosiasi Gaji, Terkhusus Buat Karyawan Perempuan

tips-nego-gaji-untuk-karyawan-perempuan-tahun-2024

Merasa percaya diri untuk menegosiasikan gaji, terutama bagi karyawan perempuan, seringkali menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan persiapan yang matang dan strategi yang tepat, Anda bisa melakukannya. Kuncinya adalah memahami nilai diri, melakukan riset yang cukup, dan bersikap tegas namun sopan. Dengan begitu, Anda dapat mencapai kesepakatan gaji yang adil dan sesuai dengan kontribusi Anda. Buat yang lagi bingung gimana cara nego gaji--terutama para ladies, cek tips ini:

1. Kenali Nilai Diri

Sebelum memulai negosiasi, penting untuk mengetahui dengan jelas apa saja yang menjadi nilai tambah Anda bagi perusahaan. Buatlah daftar pencapaian, keterampilan, dan proyek-proyek penting yang telah Anda selesaikan. Dengan memahami nilai diri, Anda akan lebih percaya diri dalam menyampaikan ekspektasi gaji.

2. Lakukan Riset Gaji

Sebelum negosiasi, lakukan riset mendalam tentang rentang gaji untuk posisi yang sama di industri Anda. Anda bisa mencari informasi melalui situs pencarian kerja, platform gaji online, atau bertanya kepada teman atau kenalan yang bekerja di bidang yang sama. Dengan mengetahui kisaran gaji yang umum, Anda akan memiliki data yang kuat untuk mendukung negosiasi Anda.

3. Latih Komunikasi

Latihlah cara menyampaikan pendapat dan argumen Anda dengan jelas, tegas, dan sopan. Hindari menggunakan bahasa yang terlalu pasif atau merendah. Berlatihlah di depan cermin atau dengan teman untuk meningkatkan kepercayaan diri Anda.

4. Siapkan Daftar Pertanyaan

Selain menyampaikan ekspektasi gaji, persiapkan juga beberapa pertanyaan yang ingin Anda tanyakan kepada pihak perusahaan. Misalnya, tanyakan tentang peluang pengembangan karier, benefit tambahan, atau struktur kenaikan gaji di perusahaan. Dengan mengajukan pertanyaan, Anda menunjukkan minat dan keseriusan Anda terhadap posisi tersebut.

5. Fokus pada Kontribusi, Bukan Gender

Hindari mengaitkan negosiasi gaji dengan isu gender. Fokuslah pada kontribusi Anda terhadap perusahaan dan hasil kerja yang telah Anda capai. Dengan demikian, Anda akan terlihat profesional dan kompeten.

Ingatlah, negosiasi gaji adalah proses yang wajar dan tidak perlu ditakuti. Dengan persiapan yang matang dan sikap yang percaya diri, Anda dapat mencapai hasil yang terbaik. Semangat negosiasi dan jangan lupa cek-cek peluang kerja di loker.id!