Angga Pradipta : "Mimpi untuk Diwujudkan Bukan Cuma Jadi Wacana!"

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 28 Oktober 2024
Rubrik Profil

angga-owner-resto-bersama-teman-teman-tahun-2024

Dari butcher sampai akhirnya membagun restonya sendiri, itulah yang dilakoni Angga Pradipta. Ketika skill dan mimpi bertemu dengan circle yang tepat, sedikit demi sedikit Angga bisa mewujudkan mimpinya. @kedaikotiam adalah wujud dari mimpi, hobi, dan pencapaiannya selama  bertahun-tahun bekerja di kitchen. Bagaimana Angga merintis karier dan usahanya? Baca ceritanya di sini!

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda dan perjalanan karier Anda hingga memutuskan untuk membuka restoran?

Saya yang sejak kecil selalu ada di dapur untuk memperhatikan nenek masak, memang sejak usia dini rasanya sudah tertarik dengan dunia masak memasak. Sejak SD sudah menyiapkan sarapan dan bekal sendiri. Masak nasi goreng sendiri yang sampai sekarang jadi makanan kesukaan saya.

Singkat cerita, saya melanjutkan jenjang akademis di salah satu akademi perhotelan di Kota Bogor dengan jurusan spesifik F&B Production. Dan melanjutkan kerja di bidang F&B di beberapa rumah makan dan beberapa hotel di Bogor maupun di luar Bogor. Sampai akhirnya saya merasa apa yang saya punya rasanya bisa membangun sesuatu yang dari saya untuk saya dan orang-orang di sekeliling saya. Dari situ saya memutuskan untuk membuka usaha kuliner kecil-kecilan.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk terjun ke dunia kuliner, khususnya membuka restoran?

Saya merasa dunia F&B akan selalu berkembang dari masa ke masa. Mungkin tidak akan ada habisnya selama matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat. Dan dengan sedikit banyaknya pengalaman saya di dunia kuliner, membuat saya memiliki selera atau khayalan soal rasa yang rasanya harus saya bagi ke orang lain. Salah satu jalannya adalah membuka sebuah tempat makan.

Apa yang paling Anda ingat dari pengalaman bekerja sebagai staff kitchen di hotel di Bogor?

Awal karir saya memulai di sebuah hotel international chain di Yogyakarta. Berawal dari masa job training, lalu lanjut bekerja selama dua tahun di hotel yang sama. Awal berkarier saya ditempatkan di butcher (salah satu bagian dapur yang bertugas menyiapkan segala jenis daging). Mungkin buat sebagian orang divisi ini kurang menyenangkan karena bau dan terkesan jorok, tapi buat saya divisi dapur ini menyenangkan. Dan seorang rekan kerja yang memang sudah ahli di divisi ini mengajarkan banyak hal ke saya, dan saya mendapatkan banyak ilmu ketika bekerja di bagian butcher.

tips-membuka-usaha-angga-pradipta-tahun-2024

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat bekerja di lingkungan hotel?

Ketika berkerja di sebuah hotel yang terdiri dari banyak departemen dan terbagi jadi banyak bagian lagi, otomatis kita akan bekerja sama dengan banyak orang. Buat saya, di situlah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa bekerja di dalam tim yang terdiri dari banyak orang dengan isi kepala yang berbeda satu dengan yang lain. Terkhusus di dunia F&B, meski kita harus bekerja dengan suhu dapur dan tekanan kerja yang tinggi, kita harus tetap tenang dan fokus untuk mengerjakan tugas yang tidak sedikit dengan waktu yang terbatas.

Keterampilan apa yang Anda dapatkan selama bekerja di hotel yang berguna untuk bisnis restoran Anda sekarang?

Banyak hal yang akhirnya yang bisa saya gunakan untuk menjalankan usaha yang kini saya jalankan. Seperti di awal saya harus menghitung food cost. Hal yang terkesan tidak penting. Tapi ketika perhitungannya salah, kita harus kembali ke awal untuk menghitung modal setiap masakan yang mana itu akan menentukan harga jual.  Setelah itu, sistem pembelanjaan dan mengatur stok bahan agar semua produk bisa terjual dengan standar yang sudah di tentukan. Semua ilmu tersebut saya dapatkan dari pengalaman yang saya jalankan selama saya bekerja di hotel.

Apa yang membedakan pengalaman bekerja di Yogyakarta dengan di Bogor? 

Rasanya hampir tidak ada perbedaan yang mencolok dari segi pekerjaan. Karena saya memulai di bagian yang sama (butcher). Bedanya, ketika di Yogyakarta saya jadi member kitchen yang termuda, tapi di Bogor saya bekerja dengan tim dengan level usia yang tidak jauh dengan usia saya, sehingga pola pikirnya tidak jauh berbeda. Rasanya komunikasi bisa lebih terjalin lebih baik selama bekerja di Bogor, sehingga saya bisa mengeksplor di bagian kitchen yang lain (hot kitchen) yang bertugas mematangkan bahan dan menyajikan ke tamu.

Adakah hal-hal unik atau menarik yang Anda pelajari dari industri kuliner Yogyakarta yang kemudian Anda terapkan di restoran Anda?

Yang pasti Yogyakarta adalah kota pertama saya merasakan kerasnya dunia kerja. Namun, karena sambutan tim yang hangat membuat saya tidak sulit untuk menerima ilmu yang diberikan oleh tim. Saya seperti mendapatkan keluarga baru setelah melewati satu bulan proses penyesuaian tinggal di kota orang.

Lantas, apa yang memotivasi Anda dan teman-teman untuk membuka restoran sendiri?

Rasanya di tengah perkembangan dunia kuliner di Kota Bogor dan memiliki teman-teman dengan pengalaman bisnis, sayang rasanya ketika hobi memasak saya tidak dimanfaatkan. Berawal dari mendapatkan tempat yang strategis di tengah Kota Bogor, lalu kami memulai pembicaraan yang awalnya sekadar khayalan lalu berubah jadi serius. Mulai membahas konsep, tema dan menu-menu apa yang akan disajikan. Lanjut dengan mencoba beberapa menu akhirnya kami sepakat untuk ikut bersaing secara sehat di kancah kuliner Kota Bogor.

Apa visi dan misi yang ingin Anda capai dengan restoran ini?

Selain ikut meramaikan pertumbuhan kuliner di Kota Bogor, kami ingin mengembalikan marwah kopitiam yang sebenarnya adalah kedai kopi yang bisa dinikmati semua kalangan usia mau pun semua lapisan ekonomi. Hangatnya sarapan bersama keluarga, makan siang bersama rekan kerja atau ngopi malam hari bersama teman, sahabat atau pasangan.

Tantangan apa yang Anda hadapi saat mempersiapkan pembukaan restoran?

Tantangannya adalah bagaimana kami menentukan sebuah tema, makanan, minuman yang tidak keluar dari jalur. Kami tidak hanya memikirkan keuntungan semata. Tapi kami memikirkan target pasar yang bisa ke berbagai kalangan. Dengan variasi menu yang bisa dinikmati setiap hari. Mendengar saran dan masukan dari orang-orang terdekat untuk mendapatkan keputusan yang matang. Walaupun tidak ada yang sempurna, tapi kami selalu berusaha untuk menjadi baik.

angga-pradipta-memulai-karier-sebagai-butcher-tahun-2024

Bagaimana rasanya menjalankan restoran sendiri selama 7 bulan ini?

 Belum genap satu tahun kami berjalan, kami belajar dari sedikit banyaknya cerita suka duka. Rasanya seperti yakin, lalu dijatuhkan lalu bangkit lagi. Saran dan cerita-cerita dari teman-teman yang juga menapaki usaha kuliner dengan pengalaman jam terbang yang lebih matang membuat kami selalu mendapatkan semangat baru. Belum lagi dari tamu-tamu akhirnya jadi pelanggan, membuat kami tidak pernah menyerah dan tetap bersemangat.

Apa yang menjadi suka dan duka terbesar selama menjalankan bisnis ini?

Dari mulai berganti supplier satu ke supplier yang lain karena bahan tidak sesuai dengan standar. Mengubah rupa menu dan mendapatkan keluhan dari pelanggan. Keluar masuk pegawai lama dengan yang baru juga membuat kami harus berkonsentrasi lebih untuk menjaga standar pelayanan.  Setelah beberapa bulan penyesuaian akhirnya kami mendapatkan supplier yang bisa memenuhi kebutuhan kami.

Setelah itu diiringi juga dengan cerita suka yang sedikit-sedikit menghampiri, kami mulai memiliki pelanggan tetap yang hampir setiap pagi sarapan di tempat kami, setiap akhir minggu berkumpul di tempat kami, dan mulai bertambah dari hari ke harinya.

kondisi-kotiam-angga-tahun-2024

Tantangan apa saja yang masih Anda hadapi saat ini?

Ketika kita memutuskan membuka usaha di bidang kuliner, risikonya adalah harus mengikuti perkembangan yang tidak ada habisnya. Hampir setiap bulan selalu ada sesuatu yang baru yang mau tidak mau kami pun harus membuat sesuatu yang baru pula. Entah menambah menu baru atau promo menarik untuk menjaga tamu-tamu langganan atau mendatangkan tamu-tamu baru.

Apa rencana Anda untuk mengembangkan restoran ini ke depannya?

Dalam rangka mengembangkan tempat ini, kami menginginkan tempat ini jadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas yang ada di Kota Bogor. Membuat acara yang sekiranya bisa mengundang banyak orang. Jadi kami sedang membuka komunikasi untuk bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang ada di Kota Bogor.

Keterampilan apa yang menurut Anda paling penting untuk dimiliki oleh seorang pengusaha restoran?

Yang utama adalah kepekaan dalam membaca situasi perkembangan yang ada. Setelah itu adalah kerja sama tim untuk menjalin komunikasi yang baik. Karena ketika komunikasi tidak terjalin dengan baik, itu adalah awal dari sebuah masalah. Setelah komunikasi, keterampilan fisik juga diperlukan untuk membantu menopang operasional sehari-hari kalau-kalau ada bagian kosong di tim, supaya operasional tetap stabil.

Apa pesan Anda untuk orang-orang yang ingin memulai bisnis restoran?

Jangan pernah memulai sebelum perbekalan Anda siap. Karena ketika sudah maju, sebisa mungkin jangan berpikir untuk mundur lagi. Soalnya, modal yang mungkin tidak sedikit yang sudah dikeluarkan. Jadi persiapkan seluruhnya dengan teliti, baru Anda memulai usaha dengan amunisi yang telah dipersiapkan dengan matang.

Selain hal baik yang Anda dapatkan setelah usaha berjalan untuk mendorong semangat, Anda juga harus memikirkan setiap risiko masalah yang cepat atau lambat bisa jadi Anda alami. Pikirkan juga jalan keluar dari setiap kemungkinan masalah, dan bagaimana cara Anda harus bangkit lagi. Setelah itu adalah eksekusi. Itu salah satu yang terpenting. Karena di saat Anda sedang diskusi tentang sesuatu yang menurut Anda ide bagus, di saat yang bersamaan mungkin ada belasan bahkan puluhan orang yang sedang berdiskusi sama seperti Anda. Maka, setelah hasil diskusinya matang, baiknya langsung eksekusi.

Buat Anda yang butuh inspirasi karier dari expert-nya, langsung gas Rubrik Profil Loker ID ya!