Anandito Reza Bangsawan: Tentang Perjalanan Karier Dari Di-layoff sampai Kerja Palugada

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 9 Juli 2024
Rubrik Profil

Anandito-Reza-Bangsawan

Dunia kerja saat ini memang penuh perjuangan. Layoff, persaingan kerja antara lulusan baru dengan pekerja lama, membuat mendapatkan pekerjaan bukanlah perkara mudah saat ini. Tapi percaya saja, kalau kita tidak berhenti mencoba, meningkatkan skill, berserah kepada Yang Maha Kuasa, akan selalu ada jalan dalam setiap kesulitan.

Seperti yang dialami Anandito Reza Bangsawan atau biasa dipanggil Reza. Setelah 9 bulan penantian, akhirnya alumni S1 Sosiologi Universitas Negeri Jakarta ini bekerja sebagai Digital Marketing Staff di salah satu anak perusahaan BUMN pengembang properti di Indonesia. Bagaimana perjalanan insipiratif dan penuh semangat Reza? Baca penuturannya di sini!

Boleh diceritakan secara singkat bagaimana perjalanan karier Anda, sampai akhirnya menjadi Digital Marketing?

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, saya memutuskan untuk berjualan es capuccino cincau dengan berbagai varian rasa yang saat itu lagi viral. Lokasi saya berjualan hanya 50 meter dari rumah. Waktu awal berjualan es capucino cincau ada pro dan kontra dari keluarga karena hanya aku saja lulusan sarjana yang berjualan, sedangkan kakak kandung bekerja kantoran.

Dari hasil jualan es Capucino Cincau ini saya berhasil menikahi kekasih saya lho, hahahhaha. Setelah menikah, saya memutuskan untuk bekerja kantoran karena profit penjualan es cappucino cincau menurun drastis tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian, saya bekerja di penerbitan buku pelajaran sekolah untuk mata pelajaran sosiologi kelas 10 sampai 12 dan berkontribusi sebagai proofreader untuk mata pelajaran PKN, Ekonomi, Sejarah, Geografi, dan IPS.

Saya melakoni pekerjaan sebagai Editor buku sekolah ini selama 1 tahun 4 bulan. Setelah itu, saya diterima bekerja sebagai Editor di Divisi Marketing Online dalam Departemen Marketing Halodoc. Saya di Halodoc memanajemen 4 sampai 5 penulis konten artikel dengan berbagai karakter dan spesialisasi tulisan. Saya sangat nyaman bekerja di Halodoc karena sesuai dengan passion, pengalaman, dan keahlian saya.

Setelah dari Halodoc saya sempat bekerja sebagai Content Editor dalam Divisi Care di Hello Sehat dengan jobdesk dari meriset kata kunci, membuat conten planning artikel selama sebulan, sampai membuat deskripsi dokter umum dan spesialis di rumah sakit dan klinik rekanan.

Ibarat pepatah mengatakan untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, saya yang saat itu statusnya sudah karyawan tetap dan menjalani kerja selama 9 bulan tiba-tiba mengalami lay off di Hello Sehat pada tahun 2023. Syukurnya, tak lama kemudian saya diterima menjadi freelance in house sebagai pemimpin konten selama 3 bulan di salah satu agensi digital marketing di wilayah Kebayoran Baru. Setelahnya saya sempat bekerja sebagai Personal Asisten pemilik usaha katering, roti, kue kering dan basah bernama Topoppie. Sampai akhirnya alhamdulillah saya diterima bekerja sebagai digital marketing staff di salah satu anak perusahaan BUMN properti untuk proyek pembangunan perumahan di wilayah Sentul.

Seperti apa jobdesk Digital Marketing?

Jobdesk saya sebagai digital marketing staff cukup banyak alias palugada. Mulai dari membuat content plan reels dan feed di Instagram selama sebulan, reporting digital marketing campaign, review dan refreshment content, mensurviy konten media sosial dari kompetitor, monitoring leads dari Google Ads dan Meta Ads, sampai mendokumentasi foto dan video kegiatan branding dan promosi perusahaan.

Apa tantangannya dan bagaimana cara Anda mengatasinya?

Saya merasa kesemua tugas dan kewajiban tersebut sangat menantang karena saya harus belajar cepat bidang baru dari kesehatan ke pembangunan perumahan. Untungnya kesemua tugas tersebut berkolaborasi dan bekerjasama dengan rekan-rekan kerja lainnya seperti desain grafis, data analyst, dan seterusnya.

Sebelum akhirnya menjadi Digital Marketing di perusahaan sekarang, perjalanan karier Anda lebih kepada meng-handle content di website, seperti apa adaptasi yang Anda lakukan?

Awalnya saya mempelajari product knowledge kemudian secara bertahap mengerjakan tugas-tugas baru yang sebelumnya di-handle oleh rekan kerja dialihkan ke saya. Ketika saya kesulitan mengerjakan tugas, saya meminta bantuan atas dan rekan kerja meminta diajarkan sampai saya paham dan mengerti caranya.

Setelah 9 bulan pencarian kerja, akhirnya Anda bisa bekerja lagi, apa yang Anda lakukan supaya tetap semangat dan tidak putus asa?

Agar tetap semangat dan tidak putus asa, saya biasanya selalu bersyukur kepada Allah karena sampai saat ini masih banyak pencari kerja dari fresh graduate sampai old jobseeker yang kesulitan mendapatkan pekerjaan saat ini. Saya juga rutin berolahraga agar tidak stres lalu mendalami digital marketing agar bisa semakin cepat mengejar ketertinggalanku di bidang ini.

Sejauh ini, pengalaman kerja dimana yang paling berkesan dan tidak bisa dilupakan?

Yang paling berkesan saat bekerja di Halodoc. Dia ibarat mantan terindah yang Jauh di Mata Dekat di Hati.

Selama pencarian kerja, punya pengalaman yang tidak bisa dilupakan saat melakoni wawancara kerja?

Wahh banyak banget, saya punya pengalaman saat wawancara kerja dari yang hasilnya tidak dikabarkan sama sekali sampai ditawarin gaji jauh di bawah UMK dengan alasan perusahaan lagi rugi karena banyak produk impor dari China, sampai bertemu user perusahaan di yang interview saya via online setelah setahun. Hahahhaha..

Bagaimana Anda memandang dunia kerja di Indonesia setelah pandemi COVID-19?

Menurut saya dunia kerja di Indonesia setelah pandemi COVID-19  mengalami perubahan. Perusahaan sangat selektif dalam mencari kandidat dan pencari kerja juga dituntut multiskill dan bisa multitasking dengan salary yang alakadarnya. Ibaratnya kerjanya serius bayarannya main-main. Apalagi pencari kerja saat ini semakin membanyak karena banyaknya PHK massal, baik perusahaan rintisan maupun perusahaan besar.

Punya harapan untuk sistem perekrutan kerja ideal untuk Indonesia?

Harapan saya untuk sistem perekrutan kerja ideal untuk Indonesia itu menghapuskan batasan usia maksimal 30-35 tahun karena sangat diskriminasi bagi para pencari kerja yang di atas usia tersebut. Selain itu, tidak lagi melihat pencari bekerja berdasarkan asumsi watak dan karakter generasinya.