Amajida Pangesti Imanda: Social Media Planner Tidak Sekadar Scrolling Medsos

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 7 September 2024
Rubrik Profil

perkembangan-profesi-social-media-executive2-tahun-2024

Wah...Loker ID mendapat banyak sekali insight ketika ngobrolin perkembangan dunia perkontenan dengan Amajida Pangesti Imada--atau biasa dipanggil Manda, yang berprofesi sebagai Social Media Executive. Kerjaan Social Media Planner memang terkesan "main-main", seperti scrolling medsos, tapi bukan sekadar scrolling harus dianalisis dan diambil kesimpulan untuk menentukan konten selanjutnya. Tidak ada yang pasti di dalam pembuat konten, namun justru disitu letak keseruannya. Selalu ada celah untuk membuat konten viral. Baca cerita Manda untuk tahu cerita lebih jelasnya!

Anda bergerak di bidang creative content planner, bagaimana Anda memandang perkembangan digital saat ini serta pengaruhnya terhadap konten?

Dunia digital terutama social media menurutku predict unpredictable ya, kenapa begitu karena setiap hari membuat konten dan berusaha drive with social media trend baik based on report analytic atau tools sosial media listening, tapi setiap hari pula selalu ada konten yang menjadi janggal dan susah untuk ditemukan penyebab kejanggalannya. 

Menurut aku, daripada media sosial yang mempengaruhi konten justru konten lah yang mempengaruhi sosial media. Sebagai contoh, lately sedang banyak reels yang dibuat 1 detik saja. Ini datang karena algoritma sosial media (perlu banyak views untuk masuk ke FYP) sendiri menuntut creator berpikir kreatif bagaimana membuat konten yang engaging sekaligus memenuhi kriteria algoritma sosial media.

Hal ini menjadi challenge juga setiap harinya untuk keep up dengan data analytics media sosial yang disambungkan dengan ide kreatif sehingga baru timbul trend di media sosial.

Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda?

Untuk beberapa orang mungkin menganggap pekerjaan ini seperti bermain karena setiap hari harus scrolling media sosial. Namun dari perspektif Social Media Planner sendiri sebenarnya kami dituntut untuk belajar setiap hari. Seperti saat scroll Instagram misalnya, otak tidak pernah berhenti untuk menganalisis setiap konten yang kami lihat.

Karena aku juga menganggap diriku adalah long life learner, aku enjoy dengan keadaan itu. Setiap hari otak ‘dipaksa’ untuk berpikir dan selalu ada challenge baru membuat pekerjaan ini tidak membosankan karena akan selalu ada pembaharuan pada kurun waktu tertentu.

Apa yang membedakan pembuatan konten di media sosial dengan konten di media lainnya?

Kalau menurut aku yang membedakan media sosial sekarang dengan media lain secara konvensional (TV, blog/artikel) ada 3 hal yaitu:

1. Format dan Panjangnya Konten

Seperti yang kita tahu dan telah dibuktikan dalam penelitian juga, tingkat fokus audience saat ini cenderung pendek. Hal itu yang mempengaruhi format sosial media konten sekarang lebih compact dan to the point. Dibandingkan media conventional yang butuh context panjang, audience cenderung untuk kurang berminat pada konten seperti ini. Terlebih, sekarang kita semakin punya banyak pilihan yang mana media konvensional masih menggunakan cara lama (spoonfeed) sehingga audience cenderung meninggalkan dan berpindah ke media yang lebih agile untuk menyaring sendiri informasi yang mereka butuhkan (mulai terbentuknya FYP di setiap platform media sosial).

2. Interaktivitas

Audience pada dasarnya selalu mempunyai pendapat lain akan suatu hal, dengan adanya media sosial yang memungkinkan audience berinteraksi secara langsung (like, komen, balas DM, retweet, dsb) audiens merasa lebih bisa berekspresi dan mengutarakan pendapat.

Berbeda dengan media konvensional, media tersebut sering kali tidak bisa menilai bagaimana perspektif audience akan konten mereka. Seperti halnya TV yang hanya bisa dinilai dari rating tapi tidak bisa dinilai dari perspektif. Di media sosial (new media) sebuah brand atau channel tertentu bisa langsung menilai bagaimana perspektif audience dari interaksi yang didapatkan (sering kali dari komen dan like) sehingga sebuah brand/channel tersebut bisa lebih agile untuk mengambil next step dalam pembaharuan pembuatan konten.

3. Frekuensi dan Konsistensi

Perbedaan media sosial dan media konvensional paling besar terlihat dari bagaimana audience disuguhkan konten. Ketika di media konvensional hanya menyuguhkan konten dan ‘memaksa’ audience untuk melihat konten tersebut, lain halnya dengan media sosial. Dalam praktiknya media sosial mempunyai banyak sekali saingan konten karena audience terus memilih. Hal ini menjadi tantangan baru untuk produksi frekuensi dan konsistensi konten lebih tinggi dibanding media konvensional. 

Untuk media sosial , dibutuhkan frekuensi upload konten yang lebih banyak untuk meraih broader audience. Konsistensi juga dibutuhkan untuk membangun pondasi pada analytics algoritma setiap platformnya. Kedua hal ini tidak bisa dilewatkan karena akan berimbas pada performance media sosial yang kurang bagus baik pada audience interaction atau algoritma platform.

perkembangan-sosial-media-tahun-2024

Apa saja tantangan paling mendasar sebagai social media executive dan bagaimana tips Anda mengatasinya?

Seperti namanya, Social Media Executive diharapkan bisa mengeksekusi banyak hal terkait dengan media sosial. Mulai dari analisis report melalui platform atau social media tools, membuat konten plan yang telah disesuaikan dari report, mengeksekusi konten plan mulai dari desain, copywriting, storyline, campaign, video, dsb yang disesuaikan dengan kebutuhan brand/akun media sosial , sampai pada akhirnya konten tersebut ter-upload dan menunggu interaksi dari audience.

Tantangannya adalah kami tidak bisa berhenti, sekali berhenti maka akan banyak hal yang tertinggal karena perputaran trend dan algoritma yang sangat cepat. Terkadang ini menjadi faktor yang membosankan, melelahkan, dan membuat sebagian orang akan sering burn out

Jika dari aku, cara mengatasinya adalah take times untuk istirahat dari any screen time. Karena semua pekerjaan ini bertaut dengan screen time, terkadang anxiousness terpancing dan menjadi burn out. Menjauh dari screen time (hp, laptop, any social media, any digital media) bisa sangat membantu untuk menenangkan diri sekaligus menambah perspektif baru. Hal yang paling sering aku lakukan adalah membaca buku atau hang out serta ngobrol dengan teman.

Skill apa saja yang dibutuhkan seorang social media executive, terutama di era perputaran digital yang semakin cepat ini?

Tentunya kemauan yang besar untuk mengeksekusi. Tantangan terbesarnya adalah rasa malas untuk mengeksekusi apa yang telah direncanakan (termasuk content plan), karena banyaknya faktor yang harus diperhatikan.

Kemauan untuk selalu belajar trend baru, bergerak untuk mengeksekusi apa yang telah direncanakan, dan secara aktif membuat ide-ide kreatif baru yang bisa diimplementasikan pada channel/brand media sosial atas data yang diambil dari report analytics.

Seperti apa tips yang biasa Anda lakukan untuk membuat konten yang menarik dan sesuai dengan target audiens?

Pertama-tama, kenali audiens dengan baik. Pahami siapa mereka berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi, minat, dan kebutuhan mereka. Cobalah membuat persona audiens yang menggambarkan karakteristik dan preferensi mereka, jika tertarik untuk belajar lebih jauh menggunakan Brand Archetype untuk membuat persona audience dari brand lalu menempatkan diri brand sebagai salah satu audience tersebut. Ini akan sangat membantu dalam menyesuaikan gaya dan jenis konten yang akan dibuat.

Manfaatkan data dan analitik. Gunakan alat analitik untuk memahami bagaimana audiens berinteraksi dengan konten/akun sosial media. Data seperti tingkat keterlibatan dan demografi bisa memberi insight untuk konten plan selanjutnya. Berdasarkan data tersebut, sesuaikan strategi konten untuk hasil yang lebih baik, seperti strategi waktu, pendekatan story telling, durasi panjang video, dsb. Aku sendiri menarik data paling banyak dari sosial media listening tools seperti Hootsuite dan Fanpagekarma (ada banyak tools lain yang bisa disesuaikan).

Buatlah konten yang memecahkan masalah atau memberikan nilai tambah. Konten yang bisa menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan audiens akan lebih bermanfaat dan menarik. Selain itu, gunakan storytelling untuk membuat konten yang emosional dan relevan. Cerita yang menyentuh hati atau menginspirasi sering kali lebih mudah diingat dan dibagikan. Pastikan juga untuk menyertakan call-to-action (CTA) yang jelas. Berikan instruksi yang menarik agar audiens tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, apakah itu mendaftar, membeli, atau berbagi konten. CTA yang jelas dan sesuai dengan tujuan konten sangat penting.

Beradaptasilah dengan platform yang kamu gunakan. Sesuaikan format dan gaya konten dengan karakter masing-masing platform. Misalnya, video pendek lebih cocok untuk TikTok, sementara artikel panjang bisa lebih tepat untuk LinkedIn. Manfaatkan tren terbaru dan hashtag yang relevan untuk meningkatkan visibilitas dan keterlibatan.

Terlibat secara aktif dengan audiens. Luangkan waktu untuk merespons komentar dan pertanyaan mereka. Keterlibatan aktif ini bisa membangun hubungan yang lebih baik dan loyalitas dari audiens. Eksperimen dengan berbagai format dan gaya konten. Coba hal-hal baru untuk melihat apa yang paling efektif. Konten yang unik dan kreatif sering kali lebih menonjol. Dan terakhir, mempertahankan konsistensi dalam branding dan jadwal posting. Konsistensi membantu audiens mengenali dan mengingat brand/akun.

tim-social-media-executive-tahun-2024 (1)

Bagaimana Anda memanfaatkan algoritma  Instagram, Facebook, dan TikTok  untuk meningkatkan jangkauan konten?

Seperti yang aku udah jelaskan di atas, penarikan data dari sosial media listening tools dan algoritma sangat menentukan bagaimana strategi planning konten selanjutnya. Tidak hanya dari jenis kontennya, tapi detail lainnya yang lebih kompleks seperti copywriting apa yang audience suka, seberapa lama audience menonton video akun kami, jam berapa audience lebih aktif di sosial media, bagaimana visual yang diinginkan audience, font apa yang work best for audience, etc. 

Membaca data di sosial media listening tools tidak sama dengan membaca data angka analytics saja, tapi juga harus membuka pikiran untuk menganalisis dari hati bagaimana konten kami ditempatkan di antara audience tersebut. 

Apa yang Anda lakukan ketika sebuah postingan tidak mendapatkan respon yang baik?

Langkah utamanya adalah belajar. Semua hal ini tidak akan terjadi dan berkembang jika kita tidak belajar dan berbenah. Untuk konten sendiri, akan selalu ada konten eksperimental yang kadang berhasil, kadang juga tidak. Jika tidak berhasil, jangan berhenti untuk bereksperimen di konten-konten selanjutnya. Ada banyak fasilitas yang bisa digunakan untuk menambah ide baru sekarang, social media tools, buku, platform reference, AI, dsb.

Punya cara untuk menjaga konten tetap relevan dan menarik bagi audiens?

Posisikan brand sebagai manusia, sebagai teman dari audience. Buat brand persona yang menyerupai manusia. Posisikan brand/akun sebagai teman dari audience dengan cara menirukan bagaimana audience tersebut berperilaku, berbicara, bercerita, dsb. Punya ketertarikan yang sama dan bahas ketertarikan tersebut tidak hanya dari problem saja tapi juga penyelesaian masalahnya. 

Bagaimana Anda beradaptasi dengan tren media sosial yang terus berubah?

Aku sendiri merupakan orang yang mudah beradaptasi, mungkin karena sudah lama di industri yang agile jadi tidak pernah menjadi permasalahan dengan perkembangan teknologi dan trend media sosial sendiri. 

Mungkin ini tidak terlalu bisa dijadikan tips untuk orang lain karena kecepatan setiap orang berbeda, namun setiap orang selalu bisa meluangkan waktu 1-2 jam per hari untuk mempelajari hal baru. Dengan begitu, tantangan perubahan secepat apapun masih bisa terkejar.

Pernahkah Anda berpikir untuk switch career? Kalau iya atau pun tidak boleh dijelaskan alasannya?

Pernah. Karena awalnya aku bibliophile dan sempat menulis di Wattpad (saat masih kuliah dulu), aku selalu terbuka dengan opportunity sebagai penulis. Di sini aku sangat tertarik dengan tulisan-tulisan fiksi dan masih terus belajar untuk menyempurnakan tulisanku. Semoga suatu saat bisa berkesempatan menerbitkan tulisanku sendiri menjadi sebuah buku. Aku sih kepengen banget jadi   representative Indonesia seperti RF. Kuang menjadi penulis representative China di industri buku dunia. 

Cerita inspiratif lainnya dari para profesional muda yang expert di bidangnya bisa Anda baca di Rubrik Profil Loker ID.