Akhlis Purnomo: Life is Larger than Just a Career!

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 8 November 2024
Rubrik Profil

akhlis-purnomo-guru-goya-writer-tahun-2024

Itu yang disampaikan Akhlis Purnomo ke Loker ID, ketika ditanyakan mengenai rencana dan harapan untuk perjalanan karier ke depannya. "Bukan berarti saya sudah tidak punya ambisi mengenai karier, tetapi saya lebih terbuka dengan segala kemungkinan asal masih sesuai dengan nilai dan prinsip hidup yang saya jalani," demkian kata Akhlis.

Obrolan Loker ID dan Akhlis seru sekali, mulai dari membicarakan mengenai perjalanan karier, situasi paceklik kerja, pentingnya upgrade skill, sampai attitude gen z yang kerap disebut-sebut problematik. Yuk, baca sampai tuntas obrolan karier kali ini, dijamin Anda pasti akan menemukan perspektif baru mengenai hidup, pekerjaan, dan passion!

Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karir Anda dari mulai menjadi penulis, editor, hingga menjadi editor in chief di media gen Z? Apa yang membuat Anda tertarik dengan dunia menulis dan media?

Sejak kecil saya sudah tertarik dengan bahasa. Saya suka pelajaran bahasa Indonesia. Lalu saat saya di kelas 6 SD, saya ikut les bahasa Inggris juga di luar jam sekolah. Lain dari sekarang, semasa itu bahasa Inggris belum dimasukkan dalam kurikulum SD.  Dari SD itu, nilai-nilai rapor untuk pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris juga sepanjang SMP dan SMA lumayan bagus. Tapi saat penjurusan kelas 3 SMA, saya dimasukkan wali kelas saya ke jurusan IPA, yang saya tidak sukai meski ya kalau dipaksa juga bisa.

Tapi saat itu saya sudah ingin fokus ke dunia bahasa saja saat kuliah nanti jadi saya ke ruang guru BP dan minta dipindahkan ke jurusan IPS (karena jurusan bahasa tidak ada karena kuotanya tak terpenuhi). Karena ada ambisi juga jadi diplomat, saya ingin masuk ke jurusan Hubungan Internasional di UGM tapi ternyata saya dinyatakan berhasil masuk Sastra Inggris di Unnes tanpa ikut UMPTN (istilah SMPTN dulu).

Daripada mempertaruhkan yang tak pasti dan menganggur setahun (gap year), saya pun memilih yang sudah pasti saja. Haha. Setelah lulus dari Unnes tahun 2005, setahun kemudian (2006) saya meneruskan studi ke Program Magister Ilmu Susastra Undip Semarang sembari mengajar di universitas di kota asal saya selama 3,5 tahun sebagai dosen paruh waktu. Lalu karena saya merasa tiada masa depan di sana akibat gajinya yang kecil sekali, tahun 2010 saya ke Jakarta dan bekerja sebagai seorang web content writer, yang ternyata berkembang job description-nya menjadi rangkap reporter, penerjemah, admin medsos perusahaan (karena Twitter dan Facebook saat tahun 2010-an sedang booming).

Tahun 2015 saya resign dari kantor pertama saya di Jakarta dan sempat bekerja lepas sebagai penulis buku, editor, ghostwriter, lalu menerjemahkan buku ensiklopedia dalam Program LitRi (program bantuan pendanaan penerjemahan yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional (KBN)).

Sempat juga jadi copywriter khusus business writing di agensi di Tebet dan kemudian pernah bekerja sebagai bilingual copywriter di sebuah institusi pendidikan skala internasional di Pancoran. Singkat kata, kemudian tahun 2020 sehabis layoff di institusi pendidikan swasta tadi saya sempat mengajar yoga 9 bulan hingga kemudian mendapat tawaran bekerja sebagai seorang editor in-chief di media gen Z tersebut. Kebetulan ada teman lama yang pernah tahu tulisan-tulisan saya dulu saat bekerja di perusahaan pertama. Dia tahu saya passionate soal tulis-menulis dan ia meminta saya merintis website untuk agensi yang ia punya.

Yang membuat saya tertarik dengan dunia menulis dan media adalah kekuatannya yang bisa menyihir dan memengaruhi pikiran banyak orang. Kemampuan menulis dan mengembangkan media hingga bisa berpengaruh luas dan menghasilkan duit adalah sebuah soft superpower menurut saya. Nggak sedahsyat senjata nuklir memang sekilas, tapi kalau dipakai dengan taktik dan strategi yang pas, bisa dahsyat juga seperti nuklir. Menulis dan media bukan sesuatu yang kelihatan "wow" tapi bisa menentukan dan ikut mengarahkan perkembangan masyarakat dan membawa perubahan (baik positif dan negatif) bagi siapapun yang membaca dan mengkonsumsi kontennya. Kalau orang dulu bilang "You are what you eat", sekarang kita bisa bilang "You are the content that you consume every day".

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat memulai karir sebagai penulis? Bagaimana Anda mengatasinya?

Tantangan besar saya dulu saat merintis pastinya adalah jejaring dan koneksi yang masih sedikit. Dari situ, saya belajar untuk mengembangkan jejaring dengan berkenalan dengan sebanyak mungkin orang baru. Ini sangat susah karena saya secara alami tipe introvert. Menghadiri event atau acara yang pesertanya ramai adalah siksaan di satu sisi tapi di sisi lain bisa membawa saya ke pintu peluang baru. Jadi saya paksakan diri saya ikut acara dan event apapun selama itu berkaitan erat dengan dunia yang saya geluti ini.

Pentingnya koneksi ini sudah saya sadari sejak bekerja tahun 2010 di perusahaan pertama karena saya tak mau cuma bekerja di sana saja sampai pensiun nanti. Saya pun ikut workshop-workshop untuk memperkaya skills sekalian dan berteman dengan kenalan-kenalan hebat yang kerja di korporasi dan startup terkenal. Lama-lama saya bisa juga menikmatinya. Kalaupun saya capek karena social battery sudah habis, saya selalu menyemangati diri bahwa ini akan ada gunanya suatu saat nanti kok. Hehe. Dan memang begitu.

Pernah bekerja di dua era--media cetak dan digital-menurut Anda apa kelebihan dan kekurangan masing-masing era?

Saya memang pernah mencicipi pekerjaan jadi penulis dan editor majalah dan editor buku. Entah bagaimana pengalaman saya di dunia majalah agak kurang mengenakkan. Sebab saat itu tingkat stresnya tinggi, tenggat waktu sempit bukan main, harus rela lembur dan begadang supaya semua beres tepat waktu sebelum naik cetak. Itu masih ditambah dengan atasan dan coworkers yang agak kurang cocok. Belum lagi saat memburu narasumber, eh ada yang sudah didatangi ke rumah malah ujungnya nggak mau diwawancarai. Bayangkan sudah keluar duit transportasi semahal itu dan hasilnya nihil. Crazy! Tapi saat saya bekerja di media digital, irama kerjanya lebih bersahabat untuk irama sirkadian badan saya (di sini saya sudah mulai sadar pentingnya jaga kesehatan). Ada sih lembur sesekali tapi tidak terus-menerus juga. Tekanan kerjanya pun masih bisa dikelola dengan baik.

Apa pengalaman paling berkesan selama berkarier di dunia media, khususnya saat menjabat sebagai editor in chief?

Saat saya bekerja di media Gen Z sebagai editor in-chief, saya menjadi orang yang paling tua yang ada di tempat saya bekerja. Semua orang menghormati saya sedemikian rupa bahkan direktur dan owner. Di tim saya sendiri, saya memimpin 3 orang penulis muda. Tentu saja mereka masih umur 20-an alias Gen Z. Meskipun saya sangat sering mendengar keluhan soal Gen Z yang berperilaku aneh-aneh, demanding, susah diatur tetapi saat mengamati semua teman kerja saya di agensi itu, saya kurang sepakat. Mereka bekerja dengan baik, produktif, dan relatif disiplin.

Saya mencoba untuk memahami cara berpikir mereka, apa ambisi-ambisi mereka dan kecemasan-kecemasan mereka, bahkan hingga cara mereka mengekspresikan diri melalui kata, fashion, konten media sosial. Saya jadi teringat dengan Generasi Millennial yang sempat juga dijadikan bulan-bulanan saat tahun 2010-an saat mereka baru masuk ke dunia kerja. Kami generasi Millennial juga disebut-sebut mau seenaknya sendiri, sudah diatur, dsb. Ya sudahlah, saya pikir itu hanya pola zaman yang berputar. Generasi tua selalu mencerca generasi muda tapi toh dunia masih belum kiamat juga kalau anak-anak muda itu berperilaku tak sesuai ekspektasi kolot orang tua. Dengan cara pandang yang penuh empati dan less judgmental begitu, rasanya komunikasi dan kerjasama antargenerasi bisa kok diwujudkan.

Makanya saya merasa bahwa pekerjaan saya di sana sebagai editor bisa menjembatani generasi pendahulu untuk bisa memahami anak muda Gen Z ini lebih baik lagi agar tidak ada kesalahpahaman. Intinya semua masalah kan bisa dikomunikasikan dengan baik-baik. Masalahnya anak Gen Z sekarang kemampuan berkomunikasi tatap mukanya tak seperti generasi dulu. Siapa tahu dengan artikel-artikel, orang tua itu bisa lebih paham isi kepala anak muda Gen Z dan Gen Z bisa menyampaikan aspirasi mereka tanpa harus bercakap-cakap langsung.

Apa yang mendorong Anda untuk beralih menjadi penulis lepas dan guru yoga setelah tidak lagi terikat bekerja di perusahaan media terakhir? Bagaimana proses adaptasi Anda dengan perubahan karier ini?

Sudah sejak 2010 saya juga punya ketertarikan dengan yoga dan menekuninya hingga menjalani pelatihan mengajar yoga di tahun 2013. Begitu lulus tahun 2014 saya sudah dapat side job mengajar yoga sehabis jam kantor. Jadi saya sebenarnya sudah lama juga merencanakan karier kedua saya di dunia yoga ini jauh-jauh hari. Saya menyukainya, melakoninya hampir tiap hari selama 14 tahun ini, jadi kenapa tidak saya bisa menjadikannya sebagai sumber penghasilan kedua? Dan bahkan jika yoga tak menghasilkan uang pun saya masih akan melakukannya sebab dampak positifnya bagi kesehatan fisik dan mental saya begitu terasa. Kalau saya ditanya profesi dan passion saya, saya jawab dua: menulis dan yoga. Jadi tidak ada perubahan sebenarnya karena keduanya saling melengkapi dan mendukung. Saat menulis sepi, yoga masih bisa menghasilkan. Begitupun sebaliknya. Apalagi sekarang ini ekonomi begini, punya satu pekerjaan saya rasanya belum cukup kan? Hehe.

pengalaman-akhlis-beryoga-tahun-2024

Bagaimana Anda membandingkan pengalaman bekerja di perusahaan media dengan menjadi penulis lepas? Apa saja kelebihan dan kekurangan masing-masing?

Sebelum ini saya juga sudah beberapa kali pernah jadi penulis lepas saat tidak mengabdi pada satu organisasi atau institusi tertentu. Dari pengalaman-pengalaman saya selama ini sebagai penulis in-house dan lepas, saya bisa simpulkan bahwa sebagai penulis di perusahaan, saya harus dituntut serba bisa (bahkan jika itu di luar job description semula). Itu bagus untuk yang masih pemula jadi bisa memperbanyak pengalaman. Pemasukan juga rutin masuk ke rekening jadi tak ada kegelisahan soal uang dan biaya hidup. Ruginya, gajinya ya biasanya ala kadarnya dan sisi kreativitas 'kering kerontang'. Sementara itu, penulis lepas bisa lebih kreatif, inovatif, dan bebas dalam berekspresi. Irama kerja dan volume pekerjaan bisa disesuaikan dengan kemampuan. Tetapi ya minusnya harus pintar-pintar kelola pemasukan karena kadang bisa paceklik. Makanya manajemen keuangan pekerja lepas itu mesti bagus. Apalagi sekarang bakal dipangkas berbagai macam pajak, Tapera, BPJS, dsb.

Bagaimana menurut Anda perkembangan industri kepenulisan, terutama dengan adanya media sosial dan platform digital?

Menurut saya, industri kepenulisan masih akan terus bertahan dan berevolusi dengan cara-caranya sendiri sebab menulis itu adalah fitrah Homo Sapiens. Manusia bisa disebut beradab dan masuk ke zaman sejarah begitu mereka mengenal aksara dan bisa menulis. Kalau industri kepenulisan disandingkan dengan media sosial dan platform digital, saya pikir sudah lewat masa perdebatan itu karena sekarang sudah ada kisah sukses The New York Times, surat kabar AS yang dulu cuma media cetak tapi sekarang bisa bertahan dan berkembang pesat sebagai media daring juga.

Jadi dari sana, kita tahu bahwa bisa kok jurnalisme dan industri kepenulisan bertahan di tengah media sosial dan internet. Pertanyaan yang lebih aktual mungkin seharusnya adalah "bagaimana kita sebagai penulis dan jurnalis bisa bertahan di tengah era AI?" Karena jujur saat ini AI masih seperti rimba belantara yang gelap gulita. Bukan cuma soal cara pakainya tetapi juga bagaimana menentukan batas-batas etika penggunaannya dan kita menjadi makin mempertanyakan integritas kita sendiri sebagai penulis. Apakah dengan memakai AI, kita bakal menjadi penulis yang levelnya lebih rendah?

Bagaimana Anda melihat persaingan di dunia kepenulisan saat ini? Apa yang membuat seorang penulis bisa bertahan dan sukses di tengah persaingan yang ketat?

Persaingan saat ini makin ketat. Bagaimana tidak, angkatan kerja Gen Z membanjiri pasar tenaga kerja dunia. Skills mereka sudah lumayan, ditambah dengan polesan ikut workshop dan bootcamp, mereka sudah bisa menyaingi para senior. Plus, stamina mereka lebih baik dan kreativitas juga demikian. Kalau generasi Millennials segan upgrade skills, ya memang bisa dilibas. Dari yang saya amati, kalau mau bertahan dan sukses di dunia menulis saat ini, kita harus banyak memperbarui keterampilan dan jejaring juga. Itulah kenapa saya kembali memaksa diri untuk mengikuti workshop, training dan kursus apapun yang masih dalam jalur passion saya. Lebih bagus lagi kalau event itu offline jadi saya bisa kenalan tatap muka dengan orang baru. Kalau pengetahuan/ hard skills sih bisa dipelajari dari baca juga bisa tapi kalau ikut event jadi bisa dapat hard skills plus menambah koneksi.

Menurut Anda, apa saja keterampilan yang paling penting bagi seorang penulis di era digital ini? Bagaimana cara meningkatkan keterampilan tersebut?

Karena sekarang sudah era AI, saya pikir yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya belajar menggunakan AI untuk membuat proses menulis jadi lebih efisien dan efektif dengan tetap memegang teguh integritas dan etika sebagai penulis dan jurnalis. Kalau memang ditanya orang apakah kita pakai AI saat menulis atau tidak, ya harusnya mengaku. Atau setidaknya kalau memang mau transparan, bisa saja cantumkan pernyataan bahwa proses penulisan artikel Anda melibatkan AI. And that is fine, menurut saya. Kompas dan media besar asing juga sudah melakukannya (penggunaan AI dalam menulis dan proses jurnalistik). Yang haram itu, yang pakai AI tapi bohong dan menyangkal. Akhirnya semua berpulang ke masing-masing individu. Jangan salahkan AI, karena ia diciptakan manusia juga. Saya paling kesal saat manusia mengkambinghitamkan ciptaannya sendiri. That is just stupid.

Bagaimana Anda melihat kesulitan mencari pekerjaan saat ini, terutama bagi mereka yang baru lulus atau ingin berganti karier?

Dari pengamatan saya, sebenarnya ada begitu banyak faktor yang berkontribusi pada fenomena sulitnya mencari pekerjaan akhir-akhir ini. Yang utama dan pertama adalah faktor makroekonomi global dan domestik yang memang masih belum pulih benar dari dampak pandemi 2020. Lalu ditambah faktor ketegangan geopolitik, yang berupa 'bibit-bibit' Perang Dunia III di Rusia, Ukraina, Palestina, Iran dan Lebanon. Dengan kata lain, bak petinju yang sudah babak belur, belum bangun tapi dihajar lagi sampai terkapar. Jadi untuk Anda yang fresh graduate atau pekerja paruh baya yang memutuskan jadi career shifters, bersabar saja. Jangan kebanyakan bengong, melamun,  menyalahkan diri sendiri sampai merasa diri yang paling menderita sedunia. Jalani apa yang ada sebisa mungkin . Fokus pada bagaimana membantu orang lain memecahkan masalah hidup mereka dengan kemampuan, passion, skills dan talenta Anda. Dari situ, uang akan mengalir dengan sendirinya.

pentingnya-upgrade-skill-dan-upskill-menurut-akhlis-tahun-2024

Apakah benar "pemain lama" aka generasi milenial kehilangan posisi tawarnya di industri kerja saat ini? Bagaimana Anda memandang fenomena ini? 

Saya percaya bahwa apapun yang kita pikirkan bisa termanifestasi menjadi kenyataan jika kita ulang-ulang terus dalam benak kita dan perkataan serta perbuatan kita. Untuk kasus ini, saya memilih untuk tidak percaya karena itu semua berpulang ke individu yang bersangkutan. Makanya sangat penting untuk tetap memelihara semangat belajar hingga ke liang lahat. Jangan merasa cepat berpuas diri dengan skills yang ada. Selalu update dan upgrade. Pekerja millennials bisa kok tetap berkarya dan mencari nafkah di tengah gempuran tenaga kerja Gen Z asal realistis juga ya. Masak skills sudah usang tapi minta gaji melebihi gen Z yang skills-nya lebih up-to-date? Justru pekerja millennials harusnya lebih cerdas dan bijak dengan lebih banyaknya pengalaman hidup yang mereka punya, bukan? Saya pikir juga tidak realistis jika pekerja millennials masih melamar kerja di entry level yang seharusnya diisi gen Z tapi mau digaji lebih tinggi. Maka dari itu, pekerja millennials harus punya kelebihan. Apakah itu berupa leadership skills (sehingga ia bisa qualified menjadi manajer atau head atau direktur) atau dengan menjadi specialist yang punya rare skills yang diburu banyak orang sehingga nilai karyanya lebih tinggi atau a set of skills yang kombinasinya langka. Masalahnya tak semua pekerja millennials mau (atau belum ada kesempatan?) untuk upgrade dan update skills.

Bagaimana Anda melihat pentingnya terus belajar dan mengembangkan diri di era yang terus berubah?

Lifelong learning ability atau kemampuan untuk terus belajar selama kita hidup sudah selayaknya kita tanamkan pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita jika mau terus bertahan dan berkembang di muka bumi yang populasinya sekarang sudah 8,2 miliar jiwa. Tingkat persaingan antarmanusia sudah makin tinggi saat ini, bahkan sudah ke taraf yang di luar nalar. Bayangkan saja jumlah mulut yang butuh makanan makin banyak, sementara sumber daya alam makin habis dikuras oleh segelintir orang saja, dan harga-harga kebutuhan makin mahal dan langka. Jadi jika kita merasa dunia makin kejam, menurut saya benar adanya. Tapi kita harus optimistis bisa bertahan dengan kemampuan belajar dan beradaptasi.

Tentang yoga sendiri, bagaimana perjalanan passion Anda akhirnya membawa Anda menjadi praktisi/pengajar yoga? 

Sebagaimana saya sudah singgung di atas, saya sudah mulai latihan yoga begitu bekerja di Jakarta tahun 2010 karena merasa perlu berolahraga di tengah aktivitas kerja yang padat. Saya lalu memutuskan untuk mengikuti yoga teacher training tahun 2013 dan mulai mengajar secara profesional tahun 2014. Murid yoga saya yang pertama adalah seorang ekspatriat yang kebetulan membaca tulisan soal yoga di blog pribadi saya. Kebetulan saat itu saya tengah rajin menuliskan pengalaman saya belajar yoga di sekolah yoga yang saya ikuti di blog pribadi. Ia menghubungi saya via email dan akhirnya saya mengajarnya selama beberapa waktu hingga akhirnya ia meninggalkan negara ini karena purna tugas. Saya terus menekuni profesi guru yoga ini di sela kesibukan sebagai penulis dan jurnalis hingga detik ini. Untuk terus meng-upgrade skills, saya juga belajar mandiri dan ikut workshop dan training lagi. Terakhir, saya baru ikut Mat Pilates Training untuk melengkapi skills.

Bagaimana yoga membantu Anda dalam menjalani kehidupan sebagai seorang penulis dan pekerja kreatif?

Yoga membantu saya tetap sehat dan waras secara fisik, mental, spiritual hingga finansial. hehe. Hal ini tidak mengada-ada sebab saya sudah membuktikan selama pandemi Covid-19 lalu. Saat itu saya sebagaimana banyak orang juga merasa stres akibat penyebaran virus ini. Dari ketakutan terkena virus hingga PHK dan tiada pemasukan bulanan, rasanya lengkap sudah penderitaan di masa pandemi itu dulu. Tapi syukurnya Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk beryoga dan mendapatkan pemasukan yang lumayan dari mengajar yoga meski kondisi dunia saat itu penuh kecemasan. Saya masih terus mensyukuri momen-momen itu setiap hari setiap saya latihan yoga sekarang.

Apa harapan dan rencana Anda untuk perjalanan karier ke depannya?

Sebagai bagian dari kaum milennials, saya yang sudah menginjak kepala 4 ini juga makin menyadari bahwa life is larger than just a career. Bukan berarti saya sudah tak punya ambisi lagi di jalur karier saya tetapi saya lebih bersikap terbuka dan menyambut segala kemungkinan dalam hidup. Saya akan menerimanya asalkan masih sesuai dengan nilai dan prinsip hidup yang saya yakini. Nah, di sinilah kaum millennials punya kelebihan dari gen Z karena di usia yang paruh baya millennials sudah punya lebih banyak pengalaman hidup, lebih tahu nilai dan prinsip yang ia harus pegang teguh di segala kondisi dan tantangan hidup sebab ia telah mengenal dirinya sendiri lebih baik.

Kalau boleh saya mengutip J.K. Rowling di dokumenter ini, saya juga ingin dikenang nantinya sebagai seseorang yang melakukan hal yang terbaik yang ia bisa lakukan dengan menggunakan bakat yang ia miliki.

Itu tadi cerita karier Akhlis Purnomo. Buat Anda yang ingin membaca cerita karier lainnya, gas langsung Rubrik Profil Loker ID!