Ahmad Rosid: Dari Lampung untuk Mendunia, Indahnya Kerja Remote!

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 29 November 2024
Rubrik Profil

ahmad-rosid-kerja-remote-tahun-2024

Tentunya bukan sembarang indah gaes. Ahmad Rosid meraihnya dengan perjuangan dan semangat yang tak putus. Upgrade dan update skill itu wajib. "Saya membutuhkan waktu begitu banyak untuk mengejar ketertinggalan saya, seperti skill codingskill komunikasi, dan skill problem solving saya, dan masih banyak yang lain. Dulu awal-awal kerja itu ya sampai sakit," cerita Ahmad.

Tapi akhirnya semua perjuangan itu berbuah manis. Sekarang Ahmad bisa tinggal di kampung halamannya di Lampung namun kerjanya di US. Pun, Ahmad kerap diundang ke kota-kota lain di Indonesia untuk coaching dan sharing pengalaman kerja remote dan profesinya sebagai technical writer. Seperti apa perjalanan karier Ahmad? Untuk Loker ID dan Anda, Ahmad membaginya di sini!

Bagaimana Anda memulai karir sebagai pekerja remote? Apa yang memotivasi Anda untuk memilih gaya kerja ini?

Pertama kali saya kerja remote itu di perusahaan di Amerika, saya dapet informasi dari teman di Facebook, kebetulan teman ini dulu pernah kerja bareng satu kantor dengan saya. Akan tetapi kita sudah lama enggak bekerja bersama, lalu dia nge-share lowongan itu dan saya mencoba untuk melamar. Dan alhamdulillah setelah mengikuti beberapa tes, saya lolos.

Yang memotivasi saya untuk bekerja remote itu, dulu saya pernah kerja di Jakarta, saya on site, sekitar 8 bulan. Tetapi hidup di Jakarta itu tidak mudah, karena biaya hidup di sana sangat mahal. Kebetulan pada saat itu, saya baru mendapatkan anak pertama kami. Saya dengan istri tidak bisa tinggal di Jakarta, karena gaji yang saya dapat tidak cukup untuk biaya kebutuhan hidup di Jakarta. Tahu sendiri kan, hidup di Jakarta mahal sekali.

Maka dari itu, bekerja remote adalah pilihan terbaik untuk saya, karena pada akhirnya saya bisa pulang ke kampung, tinggal di kota metro Lampung, yang mana biaya hidup di sana jauh lebih murah dibandingkan saya harus hidup di Jakarta.

pengalaman-ahmad-jadi-pekerja-remote-tahun-2024

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat pertama kali bekerja remote, dan bagaimana Anda mengatasinya?

Tantangan pada saat pertama bekerja itu ada dua sebenarnya. Yang pertama itu bahasa Inggris, yang kedua waktu kerja. Kalau untuk bahasa Inggris, sebenarnya hanya sulit di awal saja. Karena dulu memang saya masuk kerja di situ, saya tuh belum bisa ngomong bahasa Inggris sama sekali.

Jadi saya harus memaksa diri saya untuk belajar ngikutin teman-teman agar bisa ngomong pada saat meeting. Nah proses belajarnya itu enggak terlalu lama ya. Saya ngerasa selama tiga bulan saya fokus melatih speaking bahasa Inggris saya. Sudah bisa lancar, ikut meeting sudah enggak bingung lagi harus ngomong apa. Bahkan berani untuk berdebat masalah pekerjaan di meeting.

Masalah yang kedua itu adalah waktu kerja ya, dulu pernah kerja meeting dari jam 11 malam sampai jam 3 pagi. Kan kalau di Amerika di sini kita jam 7 pagi, disana jam 7 malam.

Saya harus mengatur waktu, mau enggak mau saya siang tidur, malamnya bekerja. Tapi untungnya itu enggak selalu setiap hari seperti itu, biasanya ya sebulan sekali atau jika ada meeting-meeting yang sangat kritikal saja.

Bagaimana Anda mengatur waktu dan menjaga produktivitas saat bekerja dari rumah?

Wah, awal-awal kerja sangat sulit sekali, karena benar-benar kebiasaannya itu diubah. Dan saya membutuhkan waktu begitu banyak untuk mengejar ketertinggalan saya, seperti skill coding, skill komunikasi, dan skill problem solving saya, dan masih banyak yang lain. Dulu awal-awal kerja itu ya sampai sakit.

Salah satu solusi yang saya temukan, yaitu dengan membuat rencana pekerjaan untuk hari esok, di malam hari. Jadi, setelah saya selesai bekerja, malam-malam saya akan menulis to do list untuk hari esok.

Sehingga besok saya memulai kerja tanpa harus mikir lagi. To do list itu termasuk misalnya saya ingin belajar bahasa Inggris, atau belajar coding, atau belajar apapun. Jadi, hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti belajar hal baru, itu akan saya masukkan ke todo dan dihitung sebagai kerja.

Apa tips Anda untuk tetap fokus dan termotivasi dalam lingkungan kerja yang terisolasi?

Untuk bisa tetap fokus dan termotivasi itu menurut saya kita harus punya mentor. Saya beruntung sekali pada saat saya bekerja di US waktu itu saya punya mentor yang benar-benar bisa membantu saya gimana caranya mengelola jam kerja.

Saya juga sering minta sesi dengan mentor saya untuk memecahkan masalah-masalah seputar pekerjaan seperti bagaimana menulis kode yang efektif, bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadiri meeting, bagaimana presentasi, dan semacamnya.

Kebetulan saya ini orangnya yang sangat introvert ya, maka bagi saya diam di rumah, sunyi, tidak ketemu banyak orang itu malah membuat saya bahagia. Kalau saya butuh ketemu orang, saya punya anak istri, saya punya saudara, saya punya adik, saya punya orang tua. Mereka lah yang memberikan suntikan semangat ketika saya sedang lagi bosan atau sedih.

Bagaimana Anda menjaga komunikasi yang efektif dengan tim Anda yang berada di zona waktu yang berbeda?

Dulu waktu pertama kerja remote sama tim US, saya sering telat meeting gara-gara salah convert timezone. Sampai akhirnya bikin whiteboard khusus di rumah buat nulis jadwal meeting dalam WIB, karena capek diingetin terus.

Yang saya pelajari:

1. Jadwal meeting harus fix. Kalau tim di US jam 9 pagi, berarti kita jam 9 malam. Nggak bisa molor.

2. Async communication itu kunci. Update progress di Slack/Trello tiap pagi, biar tim lain bisa lanjut kerja pas kita tidur.

3. Overlapping time itu emas. Kalau cuma 2-3 jam ketemu online sama tim, manfaatin buat sync kerjaan yang butuh diskusi.

Yang penting konsisten dan respect sama waktu orang lain. Karena kerja remote itu bukan cuma soal coding, tapi juga gimana kita bisa diandalkan walau nggak ketemu langsung.

Alat dan teknologi apa yang paling membantu Anda dalam berkolaborasi dengan tim secara remote?

Tools yang dipake di kantor dulu:

- Slack buat komunikasi.

- Jira buat tracking kerjaan.

- Github buat version control.

- Google Workspace buat email.

- Google Meet buat meeting.

- Google Translate buat bantuin bahasa Inggris (belum ada ChatGPT waktu itu!).

ahmad-pekerja-remote-dengan-skill-mumpuni-tahun-2024

Bagaimana menurut Anda perubahan dalam industri teknologi, khususnya dalam hal remote work, telah mempengaruhi peran seorang technical writer?

Remote work itu yang bikin saya bisa dapet kesempatan nulis blog tech di perusahaan US. Dulu mungkin perusahaan cuma cari penulis lokal, sekarang? Yang penting kontennya bagus, nggak peduli penulisnya di mana.

Saya sendiri awalnya cuma nulis di sosmed dan blog pribadi, sharing pengalaman jadi programmer. Ternyata ada perusahaan US yang baca dan tertarik sama cara saya menyampaikan cerita teknikal ke audience.

Yang menarik, remote work bikin konten blog tech jadi lebih beragam. Karena penulis dari berbagai negara bisa kontribusi, pembaca dapet perspektif yang beda-beda. Kayak pengalaman saya sendiri - bisa share sudut pandang programmer dari Indonesia ke audience global.

Intinya, remote work membuka kesempatan untuk technical writer kayak saya buat nembus pasar international. Yang penting konsisten bikin tulisan yang berkualitas, peluang pasti datang sendiri.

Bagaimana Anda melihat peran AI dalam mengubah cara kita bekerja, terutama dalam bidang penulisan teknis?

AI emang bisa nulis, tapi nggak bisa gantiin "rasa" tulisan kita. Contohnya? Waktu saya nulis tentang teknologi baru, AI masih blank karena memang belum diajarin.

Tapi bukan berarti kita nggak bisa manfaatin AI. Saya sendiri udah bikin voicebot yang ngerti gaya nulis saya. Jadinya AI ini bisa bantu urusan teknis kayak struktur sama SEO, sementara saya fokus ke kontennya.

Intinya, AI itu kayak asisten - bukan pengganti. Makin cepet kita adaptasi, makin efektif kerjaan kita.

Keterampilan apa saja yang menurut Anda paling penting bagi seorang technical writer di era digital saat ini?

Dulu waktu nulis dokumentasi pertama kali, yang penting asal jalan. Sekarang? Beda cerita. Technical writer di era sekarang butuh skill yang lebih kompleks:

1. Riset yang dalam

Nggak cukup cuma tau cara pakainya. Harus paham kenapa pakai ini, alternatifnya apa, plus minus tiap approach.

2. Simplifikasi konsep

Inget waktu pertama belajar Docker? Bingung kan sama istilahnya? Technical writer yang bagus bisa bikin konsep rumit jadi sesimpel "angkot - container yang bawa penumpang dari A ke B".

3. Visual thinking

Dokumentasi bukan cuma text. Kadang 1 diagram flow lebih ngejelasin daripada 1000 kata. Minimal harus bisa bikin diagram basic.

4. Testing mindset

Jangan percaya dokumentasi yang belum dicoba. Saya pernah malu gara-gara nulis tutorial yang ternyata ada step yang skip. User bingung, kita yang kena.

5. User perspective

Yang baca dokumentasi kita bukan cuma senior developer. Bisa jadi freshgrad, bisa QA, bisa PM. Tulisan kita harus bisa dipahami semua level.

Yang paling penting? Konsistensi update. Teknologi berubah tiap hari, dokumentasi yang outdated = misleading.

skill-mumpuni-sebagai-pekerja-remote-ahmad-rosid-tahun-2024

Bagaimana Anda terus mengembangkan keterampilan Anda untuk tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi?

Inget nggak waktu pertama kali pake smartphone? Bingung kan sama fitur-fiturnya? Sekarang udah jadi kebiasaan. Nah, di dunia teknologi, kita harus terus beradaptasi kayak gitu.

Saya sendiri punya sistem sederhana:

1. Eksperimen kecil tiap hari

Nggak perlu muluk-muluk. Kadang cuma nyoba tools baru 30 menit. Kayak dulu waktu pertama kali pake Canva - awalnya cuma bikin poster simple, lama-lama jadi lancar.

2. Belajar dari masalah sehari-hari

Misal waktu kerja remote, komunikasi jadi tantangan. Daripada ngeluh, saya malah explore tools meeting yang lebih efektif. Dari Zoom, sampai akhirnya nemuin yang cocok.

3. Gabung komunitas

Belajar sendiri itu kayak main game tanpa guide - bisa, tapi lebih lama. Makanya saya aktif di grup-grup teknologi. Sharing pengalaman, dapet insight baru.

Yang penting konsisten. Kayak gym - mending 30 menit tiap hari daripada 5 jam seminggu sekali. Teknologi emang berubah cepet, tapi kita nggak perlu kuasai semuanya. Pilih yang relevan sama kerjaan kita aja.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh technical writer saat ini, dan bagaimana Anda melihat peluang yang muncul dari tantangan tersebut?

Pernah nggak sih nonton YouTube tutorial masak, tapi pas praktek hasilnya beda jauh? Padahal udah ikutin step by step.  Nah, ini yang jadi tantangan penulis teknis sekarang. Kita kayak chef yang harus ngajarin orang masak - tapi lewat tulisan, tanpa bisa ngeliat langsung prosesnya.

Tantangan utamanya:

1. Attention span pendek

Orang sekarang maunya cepet dapet hasil. Kalau tutorialnya kepanjangan, pada skip. Tapi kalau kependekan, pada bingung.

2. Level pemahaman beda-beda

Ada yang baru pertama kali pegang komputer, ada yang udah expert. Gimana cara nulis yang bisa dipahami dua-duanya?

3. Teknologi berubah terus

Ibarat resep masak yang tiap minggu ganti bahan. Belum kelar nulis artikel, udah ada update baru.

Tapi ini justru kesempatan emas. Yang dibutuhin sekarang:

- Content yang bisa dipahami sambil ngopi.

- Penjelasan yang bikin "klik" di kepala.

- Guide yang bisa di-scan cepat, tapi tetep lengkap.

- Bantuan troubleshooting yang praktis

Intinya, kita nggak cuma nulis tutorial. Kita nulis solusi yang bikin orang berhasil di percobaan pertama.

tips-menjadi-technical-writer-andalan-ahmad-rosid-tahun-2024

Bagaimana Anda melihat masa depan profesi technical writer?

Saya tidak bisa prediksi masa depan, karena realitanya seringkali berbeda dari ekspektasi. Contoh nyatanya dari pengalaman pribadi - dulu saya tidak menyukai aktivitas menulis dan membaca, namun sekarang justru berkarir sebagai technical writer.  Yang menarik, saya justru mendapatkan kesempatan sebagai technical writer ketika ChatGPT mulai populer. Meski banyak yang mengkhawatirkan AI akan menggantikan peran penulis, saya lebih memilih fokus mengembangkan passion di bidang ini.

Ini yang sering terlewatkan - banyak yang mengejar profesi menulis semata-mata untuk penghasilan. Padahal ketika kita fokus menjadi ahli dan menghasilkan konten yang benar-benar membantu menyelesaikan masalah, peluang kerja akan datang dengan sendirinya.

Bagaimana fleksibilitas dalam bekerja remote membantu Anda mengeksplorasi berbagai minat dan karir?

Kerja remote itu sama aja 8 jam sehari kayak kerja kantoran. Bedanya? Nggak buang waktu buat commuting. Waktu yang harusnya dipake macet-macetan bisa dipake buat hal produktif lain.

Tapi yang lebih penting sebenernya bukan remote atau nggaknya, tapi gimana kita konsisten nyisihin waktu buat explore hal baru. Saya sendiri malah banyak belajar hal baru waktu masih kerja offline dulu.

Apakah Anda memiliki rencana untuk mengembangkan karier Anda lebih lanjut di masa depan?

Saat ini saya melakukan karir coaching kepada teman-teman yang ingin mencoba masuk ke kerja remote, ingin mendapatkan pekerjaan remote pertama mereka.  Untuk kedepannya pun saya akan tetap melakukan hal ini, tapi memang cita-cita saya dari dulu adalah memiliki bisnis sendiri. Saya sudah membuat beberapa produk sedang merintis kerja sambil belajar membuat produk, kedepannya saya akan fokus untuk mengerjakan bisnis ketika produk - produk saya sekarang sudah bisa menghasilkan income yang stabil.

Gas langsung cerita karier profesional lainnya di Rubrik Profil Loker ID!