Agnes Natalia Sibarani: Menghapus Stigma Gen Z Lewat #GenZTalk

Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda sebagai marketing executive dan bagaimana Anda mulai membuat konten di TikTok dan Instagram?
Awalnya, saya bekerja sebagai Content Marketing Support di sebuah agency yang bekerja sama dengan salah satu mall terkenal di Jakarta Selatan. Sejak kuliah semester akhir saya sangat suka membuat konten tetapi tidak beberapa lama saya berhenti bekerja di agency tersebut karena alasan pribadi.
Setelah itu saya dapat tawaran pekerjaan melalui LinkedIn, karena saat itu saya juga sedang mencari opportunity baru jadi saya terima saja tawarannya. Banyak hal yang harus saya pelajari sendiri di pekerjaan saya saat ini, terutama terkait dunia proyek dan teknik, yang sama sekali baru bagi saya sebagai lulusan ekonomi. Namun, saya tetap ingin membuktikan bahwa saya bukan bagian dari stereotip "Gen Z yang lemah dan pilih-pilih pekerjaan."
Sebenarnya sebelum ini, saya sudah mulai membuat konten di TikTok yang membahas dunia kampus dan perkuliahan pada waktu saya semester 8 (masa skripsi). Namun, fokus pada "Gen Z Talk" baru saya mulai pada Desember 2024 lalu karena banyaknya stigma tentang Gen Z yang saya dengar dan terima khususnya dari pacar saya yang sering kali melabeli saya dengan kalimat "Kamu ini Gen Z banget sih" haha. Sejujurnya tujuan saya ingin berbagi insight dan pov dari Gen Z agar gen Z dan gen sebelumnya bisa sama-sama beradaptasi dan stigma-stigma tentang gen z itu tidak digeneralis.
Apa yang mendorong Anda untuk fokus pada topik Gen Z dan menggunakan hashtag #genztalk?
Semua ini bermula karena pacar saya sering kali melontarkan kalimat, "Kamu emang Gen Z banget sih," haha. Cara saya berbicara, berpikir dan memutuskan sesuatu dinilai terlalu Gen Z untungnya dia selalu mau mengarahkan saya jika sedikit melenceng haha. Karena sering mendapatkan label "Gen Z banget," saya mulai mengevaluasi diri dan bertanya-tanya, "Sebenarnya Gen Z banget itu seperti apa ya? dan kenapa saya merasa dibedakan sampai diberi label seperti itu?" Dari situ, saya mulai belajar dan mengumpulkan berbagai stigma tentang Gen Z dan mengaitkannya dengan diri saya. Namun, semua tulisan saya tentang Gen Z tidak hanya berdasarkan sudut pandang pribadi, melainkan juga didukung oleh penelitian yang menentang atau mendukung stigma tersebut.
Kalau ditanya, "Kenapa Gen Z Talk?" Jawabannya adalah karena saya sendiri adalah bagian dari Gen Z, dan saya ingin bersuara bahwa label-label yang diberikan kepada Gen Z itu sebenarnya ada alasannya bukan serta merta Gen Z lahir dengan stigma seperti itu. Tapi, ini bukan berarti saya anti kritik. Justru melalui konten-konten saya, saya berharap dapat membuka ruang diskusi dan bertukar pandangan dengan generasi lain sehingga kita bisa saling memahami tanpa saling menyalahkan tiap-tiap generasi.
Menurut Anda, apa karakteristik utama yang membedakan Gen Z dari generasi sebelumnya?
Bagaimana Anda melihat evolusi budaya Gen Z dari waktu ke waktu?

Apa yang menurut Anda menjadi kekuatan terbesar dari Gen Z? Dan kelemahannya?
Kekuatan terbesar Gen Z terletak pada kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi. Saya sih berharap kami para gen z menjadi generasi yang inovatif dan kreatif, mampu menciptakan solusi baru untuk tantangan yang ada. Selain itu, keberanian Gen Z dalam menyuarakan pendapat, terutama terkait ketidakadilan atau hal-hal yang mengganggu mereka, saya melihat ini menunjukkan bahwa genz memiliki kepedulian sosial yang tinggi. DItambah lagi kemampuan multitasking yang dimiliki juga menjadi nilai tambah, memungkinkan gen z untuk menjalankan berbagai tugas secara bersamaan dengan efisiensi.
Tapi, di sisi lain, Gen Z tentunya menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan diri, terutama karena kecenderungan membandingkan diri dengan apa yang mereka lihat di media sosial jadinya gen z akan menolak realita karena selalu mengkonsumsi konten2 yang kelihatan 'instan". Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri mereka atau jadi gampang insecure. Selain itu, kemampuan multitasking ini kalau tidak dimanage dengan baik sepertinya akan berpotensi menimbulkan kesulitan dalam menjaga fokus pada satu hal secara mendalam.
Bagaimana Anda menggambarkan mentalitas Gen Z secara umum? Apakah ada mitos atau kesalahpahaman umum tentang Gen Z yang ingin Anda luruskan?
Mitos yang sering saya dengar:
1. Gen Z kurang empati.
2. Gen Z terlalu individualis.
Saya ingin coba meluruskan semoga bisa dipahami oleh gen sebelumnya. Saya merasakan sendiri mentalitas Gen Z secara umum bisa digambarkan sebagai adaptif, empati, dan vokal terhadap isu-isu yang mereka anggap penting. Meski sering distereotipkan sebagai generasi yang "Lack of Empathy" karena kesibukan gen z dengan ponsel dan media sosial, kenyataannya justru sebaliknya. Gen Z menunjukkan empati dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya—mereka tahu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk peduli dan bertindak.
Sebagai contoh, Gen Z sering menggunakan media sosial untuk menciptakan tren, hashtag, dan kampanye digital yang bertujuan menyuarakan dukungan atau keprihatinan terhadap isu tertentu. Pada kasus seperti tukang penjual es yang dihina di acara kajian agama, misalnya, Gen Z dengan cepat bersatu melalui media sosial untuk menunjukkan rasa empati dan ketidaksetujuan terhadap perlakuan yang tidak adil. Ini membuktikan bahwa meski banyak yang menganggap mereka sibuk dengan dunia digital, tindakan mereka tetap didorong oleh kepedulian yang tulus.
Apa yang menurut Anda menjadi tantangan terbesar yang dihadapi oleh Gen Z saat ini?
Menurut saya tantangan terbesar yang dihadapi Gen Z saat ini adalah menemukan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tekanan sosial yang muncul dari kehidupan digital yang begitu dominan. Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, Gen Z memiliki banyak pilihan dan peluang untuk mengekspresikan diri mereka. Tapi ternyata, kebebasan ini sering kali disertai dengan tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan tren, ekspektasi masyarakat, atau standar yang terlihat di media sosial. Jadi, kembali lagi mereka akan selalu membandingkan diri dan mengikuti tren yang ada.
Tekanan semacam ini dapat membuat Gen Z merasa sulit untuk benar-benar memahami jati diri mereka sendiri di tengah banjirnya informasi dan pengaruh digital yang ada membuat perjalanan gen z untuk menemukan identitas personal bisa menjadi lebih rumit dan melelahkan.
Tapi harapan saya, tantangan ini juga bisa menjadi peluang bagi Gen Z untuk membangun kesadaran diri yang lebih kuat, dengan cara melatih refleksi, menetapkan batasan digital, dan fokus pada nilai-nilai yang mereka yakini.
Bagaimana Gen Z berinteraksi dengan teknologi dan media sosial? Apa dampaknya terhadap cara mereka berpikir dan berperilaku?
Gen Z memiliki cara unik dalam berinteraksi dengan teknologi dan media sosial. Karena sudah terbiasa disuguhkan konten singkat dan dinamis, mereka lebih menyukai interaksi yang cepat, visual, dan to the point. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts, dengan format konten yang cepat berganti, sangat cocok dengan pola konsumsi gen z. Jadi, tidak mengherankan jika penelitian menunjukkan bahwa rata-rata attention span Gen Z cenderung lebih pendek dibandingkan generasi sebelumnya.
Tapi, preferensi terhadap konten singkat ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya negatif kalau menurut saya. Ini mencerminkan adaptasi mereka terhadap dunia modern yang serba cepat, di mana informasi harus disampaikan secara efektif dalam waktu yang singkat. Tantangannya, paparan yang terlalu dominan terhadap konten semacam ini dapat membuat Gen Z terbiasa memproses informasi dengan cepat, jadinya kurang terlatih untuk menghadapi tugas atau masalah yang membutuhkan fokus dan pemikiran mendalam.
Bagaimana proses Anda dalam menciptakan konten yang relevan dan menarik bagi Gen Z?
Proses saya dalam menciptakan konten yang relevan dan menarik bagi Gen Z sebenarnya cukup sederhana kalau menurut saya. Jadi, setiap kali saya membuat konten, saya selalu mulai dengan sesuatu yang “meresahkan” atau isu yang saya rasa perlu dibahas. Setelah itu, saya pelajari lebih lanjut untuk memahami penyebab, dampak, dan solusinya. Di sini, saya juga sangat memanfaatkan AI untuk membantu saya membuat konten dengan lebih efisien, misalnya untuk mengoreksi kalimat yang saya susun agar tidak rancu. Saya percaya bahwa setiap keresahan pasti ada sebab dan akibatnya, dan tujuan saya adalah menciptakan konten yang tidak hanya mengangkat keresahan tersebut, tetapi juga menawarkan solusi yang relevan untuk audiens saya.
Opini saya sih metode yang saya pakai ini bisa memungkinkan saya tetap terhubung dengan audiens Gen Z yang sangat dinamis di luaran sana, sambil memastikan konten yang saya buat tetap menarik dan juga bermanfaat.
Platform mana yang menurut Anda paling efektif untuk menjangkau audiens Gen Z? Mengapa?
Kalau untuk menjangkau audiens Gen Z, TikTok memang jadi pilihan yang paling mudah untuk viral. Pengguna TikTok sangat banyak, dan platform ini punya potensi besar untuk menjangkau audiens secara cepat. Tapi, kalau saya pribadi, meskipun TikTok efektif untuk views, saya lebih suka menganalisis target pasar terlebih dahulu. Karena saya membahas tentang Gen Z di dunia kerja, saya merasa LinkedIn juga cukup berpotensi walaupun saya juga mencoba di Instagram dan Tiktok.
Di LinkedIn, banyak Gen Z yang baru memulai perjalanan karier mereka, dan juga ada banyak profesional senior yang sudah berpengalaman. Ini bisa menjadi wadah yang bagus untuk saling bertukar pandangan, berdiskusi, dan berbagi wawasan. Jadi, meskipun TikTok keren untuk viral, LinkedIn bisa memberikan ruang yang lebih dalam untuk membangun hubungan dan berbagi konten yang lebih relevan dengan karier teman-teman Gen Z di luar sana.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam membuat konten tentang Gen Z?
Bagaimana Anda menjaga agar konten Anda tetap segar dan relevan?
Untuk menjaga konten tetap segar dan relevan, saya sering tanya-tanya teman-teman terdekat. Terkadang mereka punya ide-ide yang segar dan sering membuat saya dapat perspektif baru. Selain itu, saya juga tidak lupa untuk selalu ngecek media sosial, karena di sana banyak banget isu-isu terbaru yang bisa jadi bahan inspirasi. Jadi, tetap mengikuti tren dan mendengarkan orang di sekitar saya jadi kunci agar konten saya tetap up-to-date dan relate dengan apa yang sedang terjadi.
Bagaimana Anda melihat peran Gen Z dalam membentuk masa depan?
Industri apa saja yang menurut Anda akan paling terpengaruh oleh Gen Z?
Menurut saya, Gen Z itu tidak bisa dibatasi oleh satu industri tertentu. Selama suatu industri bisa menawarkan lingkungan kerja yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan mereka, mereka pasti bisa beradaptasi dan berkembang. Karena, Gen Z bukan menolak pekerjaan tetapi menolak lingkungan yang tidak sehat bagi kesehatan mental mereka. Saya rasa bukan hanya Gen Z tapi siapapun pasti mencari tempat yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja, fleksibilitas, dan kesempatan untuk berkembang. Jadi, menurut saya, Gen Z akan terus mengeksplorasi berbagai industri dan berusaha membuat perbedaan di dalamnya.