Agnes Natalia Sibarani: Menghapus Stigma Gen Z Lewat #GenZTalk

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 20 Maret 2025
Rubrik Profil

content-creator-agnes-membahas-stigma-gen-z-tahun-2025

Pasti bukan sekali saja Anda mendengar stigma mengenai gen z, mulai dari mental lemah, banyak maunya, kutu loncat, pilih-pilih kerjaan, males balas pesan, dan yang lainnya. Adalah Agnes Natalia Sibarani seorang content creator yang berusaha membongkar stigma mengenai gen z dan membagikan perspektif mengenai the real gen z sesungguhnya.

"Gen Z lebih vokal dan terbuka dalam membahas kesehatan mental. Mereka menganggap penting untuk mengungkapkan perasaan mereka dan mencari dukungan ketika diperlukan, yang berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung menghindari pembahasan ini secara terbuka," kata Agnes membagikan perspektifnya.

Ingin tahu lebih lanjut bedah konsep gen z versi Agnes? Gas langsung di sini!

Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda sebagai marketing executive dan bagaimana Anda mulai membuat konten di TikTok dan Instagram?

Awalnya, saya bekerja sebagai Content Marketing Support di sebuah agency yang bekerja sama dengan salah satu mall terkenal di Jakarta Selatan. Sejak kuliah semester akhir saya sangat suka membuat konten tetapi tidak beberapa lama saya berhenti bekerja di agency tersebut karena alasan pribadi.

Setelah itu saya dapat tawaran pekerjaan melalui LinkedIn, karena saat itu saya juga sedang mencari opportunity baru jadi saya terima saja tawarannya. Banyak hal yang harus saya pelajari sendiri di pekerjaan saya saat ini, terutama terkait dunia proyek dan teknik, yang sama sekali baru bagi saya sebagai lulusan ekonomi. Namun, saya tetap ingin membuktikan bahwa saya bukan bagian dari stereotip "Gen Z yang lemah dan pilih-pilih pekerjaan."

Sebenarnya sebelum ini, saya sudah mulai membuat konten di TikTok yang membahas dunia kampus dan perkuliahan pada waktu saya semester 8 (masa skripsi). Namun, fokus pada "Gen Z Talk" baru saya mulai pada Desember 2024 lalu karena banyaknya stigma tentang Gen Z yang saya dengar dan terima khususnya dari pacar saya yang sering kali melabeli saya dengan kalimat "Kamu ini Gen Z banget sih" haha. Sejujurnya tujuan saya ingin berbagi insight dan pov dari Gen Z agar gen Z dan gen sebelumnya bisa sama-sama beradaptasi dan stigma-stigma tentang gen z itu tidak digeneralis.

Apa yang mendorong Anda untuk fokus pada topik Gen Z dan menggunakan hashtag #genztalk?

Semua ini bermula karena pacar saya sering kali melontarkan kalimat, "Kamu emang Gen Z banget sih," haha. Cara saya berbicara, berpikir dan memutuskan sesuatu dinilai terlalu Gen Z untungnya dia selalu mau mengarahkan saya jika sedikit melenceng haha. Karena sering mendapatkan label "Gen Z banget," saya mulai mengevaluasi diri dan bertanya-tanya, "Sebenarnya Gen Z banget itu seperti apa ya? dan kenapa saya merasa dibedakan sampai diberi label seperti itu?" Dari situ, saya mulai belajar dan mengumpulkan berbagai stigma tentang Gen Z dan mengaitkannya dengan diri saya. Namun, semua tulisan saya tentang Gen Z tidak hanya berdasarkan sudut pandang pribadi, melainkan juga didukung oleh penelitian yang menentang atau mendukung stigma tersebut.

Kalau ditanya, "Kenapa Gen Z Talk?" Jawabannya adalah karena saya sendiri adalah bagian dari Gen Z, dan saya ingin bersuara bahwa label-label yang diberikan kepada Gen Z itu sebenarnya ada alasannya bukan serta merta Gen Z lahir dengan stigma seperti itu. Tapi, ini bukan berarti saya anti kritik. Justru melalui konten-konten saya, saya berharap dapat membuka ruang diskusi dan bertukar pandangan dengan generasi lain sehingga kita bisa saling memahami tanpa saling menyalahkan tiap-tiap generasi.

Menurut Anda, apa karakteristik utama yang membedakan Gen Z dari generasi sebelumnya?

Gen Z lebih vokal dan terbuka dalam membahas kesehatan mental. Mereka menganggap penting untuk mengungkapkan perasaan mereka dan mencari dukungan ketika diperlukan, yang berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung menghindari pembahasan ini secara terbuka. Dan di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, Gen Z tidak ragu menyuarakan pendapat dan keinginan mereka. Mereka lebih cenderung meminta apa yang mereka butuhkan dan memperjuangkan hak-hak mereka, yang sering kali berbeda dari pendekatan generasi sebelumnya yang lebih konservatif.

Bagaimana Anda melihat evolusi budaya Gen Z dari waktu ke waktu?

Karena gen Z adalah generasi yang akrab dengan digital dan teknologi saya melihat kemungkinan Gen Z akan menjadikan mereka pelopor inovasi-inovasi yang berbau digital seperti ekonomi digital, pekerjaan berbasis teknologi atau remote worker ditambah lagi saat ini sudah ada AI.

Kemungkinan besar Gen Z akan cenderung mengubah norma tradisional dalam bekerja dengan lebih mengutamakan fleksibilitas dan kebebasan waktu dan tempat bekerja. Tapi ini juga akan menjadi evolusi yang butuh tantangan karena akan membuat Gen Z merasa terisolasi tapi harapannya Gen Z akan lebih pintar me-manage waktunya untuk bersosial.

Bukan hanya itu saya juga melihat  sebagai generasi yang memperjuangkan kesehatan mental, Gen Z bisa menciptakan budaya kerja dan sosial yang lebih empati dan inklusif di masa depan. Mereka mungkin akan menjadi pembuat kebijakan atau pemimpin yang lebih peduli pada keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan pribadi (work-life balance).

tentang-menghapus-stigma-gen-z-tahun-2025

Apa yang menurut Anda menjadi kekuatan terbesar dari Gen Z? Dan kelemahannya?

Kekuatan terbesar Gen Z terletak pada kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi. Saya sih berharap kami para gen z menjadi generasi yang inovatif dan kreatif, mampu menciptakan solusi baru untuk tantangan yang ada. Selain itu, keberanian Gen Z dalam menyuarakan pendapat, terutama terkait ketidakadilan atau hal-hal yang mengganggu mereka, saya melihat ini menunjukkan bahwa genz  memiliki kepedulian sosial yang tinggi. DItambah lagi kemampuan multitasking yang dimiliki juga menjadi nilai tambah, memungkinkan gen z untuk menjalankan berbagai tugas secara bersamaan dengan efisiensi.

Tapi, di sisi lain, Gen Z tentunya menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan diri, terutama karena kecenderungan membandingkan diri dengan apa yang mereka lihat di media sosial jadinya gen z akan menolak realita karena selalu mengkonsumsi konten2 yang kelihatan 'instan". Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri mereka atau jadi gampang insecure. Selain itu, kemampuan multitasking ini kalau tidak dimanage dengan baik sepertinya akan berpotensi menimbulkan kesulitan dalam menjaga fokus pada satu hal secara mendalam.

Bagaimana Anda menggambarkan mentalitas Gen Z secara umum? Apakah ada mitos atau kesalahpahaman umum tentang Gen Z yang ingin Anda luruskan?

Mitos yang sering saya dengar:

1. Gen Z kurang empati.

2. Gen Z terlalu individualis.

Saya ingin coba meluruskan semoga bisa dipahami oleh gen sebelumnya. Saya merasakan sendiri mentalitas Gen Z secara umum bisa digambarkan sebagai adaptif, empati, dan vokal terhadap isu-isu yang mereka anggap penting. Meski sering distereotipkan sebagai generasi yang "Lack of Empathy" karena kesibukan gen z dengan ponsel dan media sosial, kenyataannya justru sebaliknya. Gen Z menunjukkan empati dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya—mereka tahu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk peduli dan bertindak.

Sebagai contoh, Gen Z sering menggunakan media sosial untuk menciptakan tren, hashtag, dan kampanye digital yang bertujuan menyuarakan dukungan atau keprihatinan terhadap isu tertentu. Pada kasus seperti tukang penjual es yang dihina di acara kajian agama, misalnya, Gen Z dengan cepat bersatu melalui media sosial untuk menunjukkan rasa empati dan ketidaksetujuan terhadap perlakuan yang tidak adil. Ini membuktikan bahwa meski banyak yang menganggap mereka sibuk dengan dunia digital, tindakan mereka tetap didorong oleh kepedulian yang tulus.

Apa yang menurut Anda menjadi tantangan terbesar yang dihadapi oleh Gen Z saat ini?

Menurut saya tantangan terbesar yang dihadapi Gen Z saat ini adalah menemukan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tekanan sosial yang muncul dari kehidupan digital yang begitu dominan. Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, Gen Z memiliki banyak pilihan dan peluang untuk mengekspresikan diri mereka. Tapi ternyata, kebebasan ini sering kali disertai dengan tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan tren, ekspektasi masyarakat, atau standar yang terlihat di media sosial. Jadi, kembali lagi mereka akan selalu membandingkan diri dan mengikuti tren yang ada.

Tekanan semacam ini dapat membuat Gen Z merasa sulit untuk benar-benar memahami jati diri mereka sendiri  di tengah banjirnya informasi dan pengaruh digital yang ada membuat perjalanan gen z untuk menemukan identitas personal bisa menjadi lebih rumit dan melelahkan.

Tapi harapan saya, tantangan ini juga bisa menjadi peluang bagi Gen Z untuk membangun kesadaran diri yang lebih kuat, dengan cara melatih refleksi, menetapkan batasan digital, dan fokus pada nilai-nilai yang mereka yakini.

Bagaimana Gen Z berinteraksi dengan teknologi dan media sosial? Apa dampaknya terhadap cara mereka berpikir dan berperilaku?

Gen Z memiliki cara unik dalam berinteraksi dengan teknologi dan media sosial. Karena sudah terbiasa disuguhkan konten singkat dan dinamis, mereka lebih menyukai interaksi yang cepat, visual, dan to the point. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts, dengan format konten yang cepat berganti, sangat cocok dengan pola konsumsi gen z. Jadi, tidak mengherankan jika penelitian menunjukkan bahwa rata-rata attention span Gen Z cenderung lebih pendek dibandingkan generasi sebelumnya.

Tapi, preferensi terhadap konten singkat ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya negatif kalau menurut saya. Ini mencerminkan adaptasi mereka terhadap dunia modern yang serba cepat, di mana informasi harus disampaikan secara efektif dalam waktu yang singkat. Tantangannya, paparan yang terlalu dominan terhadap konten semacam ini dapat membuat Gen Z terbiasa memproses informasi dengan cepat, jadinya kurang terlatih untuk menghadapi tugas atau masalah yang membutuhkan fokus dan pemikiran mendalam.

Bagaimana proses Anda dalam menciptakan konten yang relevan dan menarik bagi Gen Z?

Proses saya dalam menciptakan konten yang relevan dan menarik bagi Gen Z sebenarnya cukup sederhana kalau menurut saya. Jadi, setiap kali saya membuat konten, saya selalu mulai dengan sesuatu yang “meresahkan” atau isu yang saya rasa perlu dibahas. Setelah itu, saya pelajari lebih lanjut untuk memahami penyebab, dampak, dan solusinya. Di sini, saya juga sangat memanfaatkan AI untuk membantu saya membuat konten dengan lebih efisien, misalnya untuk mengoreksi kalimat yang saya susun agar tidak rancu. Saya percaya bahwa setiap keresahan pasti ada sebab dan akibatnya, dan tujuan saya adalah menciptakan konten yang tidak hanya mengangkat keresahan tersebut, tetapi juga menawarkan solusi yang relevan untuk audiens saya.

Opini saya sih metode yang saya pakai ini bisa memungkinkan saya tetap terhubung dengan audiens Gen Z yang sangat dinamis di luaran sana, sambil memastikan konten yang saya buat tetap menarik dan juga bermanfaat.

Platform mana yang menurut Anda paling efektif untuk menjangkau audiens Gen Z? Mengapa?

Kalau untuk menjangkau audiens Gen Z, TikTok memang jadi pilihan yang paling mudah untuk viral. Pengguna TikTok sangat banyak, dan platform ini punya potensi besar untuk menjangkau audiens secara cepat. Tapi, kalau saya pribadi, meskipun TikTok efektif untuk views, saya lebih suka menganalisis target pasar terlebih dahulu. Karena saya membahas tentang Gen Z di dunia kerja, saya merasa LinkedIn juga cukup berpotensi walaupun saya juga mencoba di Instagram dan Tiktok.

Di LinkedIn, banyak Gen Z yang baru memulai perjalanan karier mereka, dan juga ada banyak profesional senior yang sudah berpengalaman. Ini bisa menjadi wadah yang bagus untuk saling bertukar pandangan, berdiskusi, dan berbagi wawasan. Jadi, meskipun TikTok keren untuk viral, LinkedIn bisa memberikan ruang yang lebih dalam untuk membangun hubungan dan berbagi konten yang lebih relevan dengan karier teman-teman Gen Z di luar sana.

menjadi-gen-z-berdaya-agnes-tahun-2025

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam membuat konten tentang Gen Z?

Jujur, tantangan terbesar saya dalam membuat konten tentang Gen Z sebenarnya cukup pribadi, sih. Awalnya, saya takut tidak bisa konsisten dan agak cemas dengan kritik, terutama kalau ada yang memberikan pandangan atau kritik yang tajam. Tapi setelah dipikir-pikir, saya akhirnya memutuskan untuk tidak membiarkan rasa takut itu menghalangi saya. Saya selalu bilang ke diri sendiri, apapun yang terjadi, saya akan terus berusaha memperbaiki konten saya dan tetap konsisten, meskipun kadang sibuk dengan pekerjaan lain. Jadi, walaupun ada tantangan, saya selalu mencoba untuk menikmati prosesnya dan terus belajar dari setiap feedback yang ada!

Bagaimana Anda menjaga agar konten Anda tetap segar dan relevan?

Untuk menjaga konten tetap segar dan relevan, saya sering tanya-tanya teman-teman terdekat. Terkadang mereka punya ide-ide yang segar dan sering membuat saya dapat perspektif baru. Selain itu, saya juga tidak lupa untuk selalu ngecek media sosial, karena di sana banyak banget isu-isu terbaru yang bisa jadi bahan inspirasi. Jadi, tetap mengikuti tren dan mendengarkan orang di sekitar saya jadi kunci agar konten saya tetap up-to-date dan relate dengan apa yang sedang terjadi.

Bagaimana Anda melihat peran Gen Z dalam membentuk masa depan?

Saya rasa Gen Z punya peran besar dalam membentuk masa depan, terutama dalam hal kewirausahaan. Banyak dari mereka yang berpotensi menjadi wirausahawan muda atau bahkan CEO dari bisnis yang mereka bangun sendiri. Ini karena mereka selalu ingin berinovasi dan beradaptasi dengan cepat, ditambah lagi kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang dan menghasilkan uang. Gen Z tahu bagaimana memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas, sehingga mereka punya potensi besar untuk membangun bisnis yang sukses di dunia digital.

Selain itu, saya juga percaya bahwa Gen Z akan menjadi the best parents di masa depan. Kenapa? Karena mereka sangat peduli dengan kesehatan mental, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang di sekitar mereka. Saya pikir ini sangat positif, karena mereka lebih sadar akan pentingnya kesejahteraan emosional dan akan membawa sikap tersebut dalam membesarkan anak-anak mereka kelak. Meskipun ini hanya pendapat pribadi saya, saya sangat berharap hal ini benar-benar terwujud, karena jika Gen Z bisa menggabungkan inovasi dengan empati, mereka bisa menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.

Industri apa saja yang menurut Anda akan paling terpengaruh oleh Gen Z?

Menurut saya, Gen Z itu tidak bisa dibatasi oleh satu industri tertentu. Selama suatu industri bisa menawarkan lingkungan kerja yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan mereka, mereka pasti bisa beradaptasi dan berkembang. Karena, Gen Z bukan menolak pekerjaan tetapi menolak lingkungan yang tidak sehat bagi kesehatan mental mereka. Saya rasa bukan hanya Gen Z tapi siapapun pasti mencari tempat yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja, fleksibilitas, dan kesempatan untuk berkembang. Jadi, menurut saya, Gen Z akan terus mengeksplorasi berbagai industri dan berusaha membuat perbedaan di dalamnya.

Apa saran Anda bagi para pemimpin bisnis dan pembuat kebijakan untuk lebih memahami dan berinteraksi dengan Gen Z?

Karena Gen Z tidak ragu untuk menyuarakan pendapat, baik dalam konteks sosial maupun pekerjaan. Menurut saya, penting bagi pemimpin untuk mendengarkan dan menghargai masukan para Gen Z, jangan sesekali menyepelekan Gen Z ya Bapak/Ibu hanya karena mereka masih muda. Hal ini bisa dilakukan dengan forum terbuka, survei karyawan, atau sesi umpan balik untuk memastikan bahwa suara mereka didengar dan dihargai.  Dan juga  Gen Z sangat peduli dengan kesejahteraan, terutama kesehatan mental. Saya berharap pemimpin bisnis dan pembuat kebijakan bisa menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental, dengan menawarkan program kesejahteraan untuk membantu mereka mengelola stres dan tantangan pribadi di dunia kerja.

Baca terus Rubrik Profil untuk mendapatkan insight menarik dari expert lainnya!