Adela Eka Putra Marza : Pentingnya Upgrade Skill Digital sebagai Humas Rumah Sakit

Saat ini penguasaan teknologi menjadi jauh lebih penting, apapun profesinya, termasuk humas. Dan buat Adela Eka Putra Marza atau biasa disapa Ade Marza ini, sangat penting bagi para profesional di bidangnya untuk tetap keep up dengan teknologi. Salah satunya bisa dengan mengikuti short course mengenai digital marketing. " Mungkin secara langsung tak ada hubungannya dengan bidang pekerjaan saya. Saya merasa perlu tahu bagaimana pemanfaatan teknologi di bidang itu, yang mungkin kemudian ada poin-poin tertentu yang bisa saya aplikasikan dalam pekerjaan saya sebagai PR," papar Asisten Manajer Humas di Tim Kerja Hukum dan Humas pada Rumah Sakit Adam Malik, salah satu rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan RI yang berada di Kota Medan SumateraUtara.
Seperti apa keseharian alumni S2 Komunikasi dari Universitas Gajah Mada (UGM) ini dalam menjalankan profesinya? Simak cerita selengkapnya di sini!
Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di bidang humas, terkhusus humas layanan kesehatan masyarakat/rumah sakit?
Dulu sekali, sebenarnya saya tak punya banyak gambaran tentang tugas sebagai humas di rumah sakit, hanya berpikiran sama seperti humas pada umumnya. Namun, setelah masuk ke institusi ini, ternyata ada banyak hal yang harus saya pelajari lebih dalam lagi. Hal paling utama adalah bahwa stakeholder dalam industri layanan kesehatan masyarakat ini ternyata benar-benar sangat beragam, dan ini menjadi sebuah tantangan besar yang membuat adrenalin saya terus bergejolak setiap harinya 😁.
Seperti apa tantangan yang Anda alami selama bekerja menjadi humas ini?
Profesi sebagai humas layanan publik punya banyak sekali tantangan. Tapi, salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana cara Anda menghadapi customer yang butuh solusi sesegara mungkin. Bayangkan saja, soal kesehatan adalah salah satu kebutuhan paling krusial setiap orang. Orang sakit pastinya tidak akan banyak memikirkan hal lain lagi selain kesembuhan dirinya. Customer seperti itulah yang akan dihadapi oleh humas rumah sakit setiap harinya, dengan ragam latar belakang yang berbeda, yang tentu juga akan melahirkan konflik-konflik yang sangat berbeda pula, dan humas harus mampu mengelolanya. Karena apabila customer keluar dari rumah sakit dengan pengalaman negatif, maka lambat laun akan menciptkan citra negatif bagi institusi, yang pada akhirnya akan kembali harus ditangani oleh humas. Makanya, humas rumah sakit perlu mengelolanya sedini mungkin, mulai dari hulu hingga ke hilir. Itu hanya salah satu tantangan, belum lagi kita bicara branding, komunikasi internal, dan tugas-tugas lainnya.
Apa yang paling Anda senangi dari pekerjaan ini?
Bertemu dengan banyak orang. Seperti yang saya singgung sebelumnya, stakeholder dalam sektor layanan kesehatan masyarakat itu sangat beragam. Satu waktu, Anda mungkin akan mendampingi pimpinan rumah sakit bertemu dengan pimpinan institusi lain, dan di waktu berikutnya Anda harus mendengarkan keluh-kesah pasien yang merasa kurang puas atas layanan yang mereka dapatkan, di mana humas harus mampu memberikan solusi atas permasalahan itu.
Seperti apa jobdesc sebagai humas rumah sakit?
Di rumah sakit, humas tidak hanya memikirkan soal branding, komunikasi internal, media relation, hubungan antar lembaga, tapi juga sangat perlu menguasai bagaimana menemukan cara-cara terbaik untuk memahami kebutuhan pengguna layanan kita, dan kemudian memahamkan (memberikan pemahaman) mereka agar bisa menerima kapasitas kita sebagai pemberi layanan. Karena banyak masyarakat secara awam tak paham dengan kondisi kesehatannya, tapi sebagai seorang manusia mereka tentu saja menginginkan kesembuhan secepatnya bagaimanapun caranya. Hal-hal seperti ini yang perlu dijembatani oleh humas rumah sakit, terutama dalam urusan customer service.
Bagaimana perkembangan teknologi masa kini memengaruhi kinerja humas?
Praktisi humas sekarang memang sudah harus mampu menguasai berbagai perkembangan teknologi. Media sosial misalnya, hampir seluruh informasi yang terkait dengan industri utama dari institusinya harus bisa ditangkap oleh seorang humas setiap harinya, agar dapat menyiapkan strategi-strategi komunikasi terbaik untuk membawa institusi menjadi lebih baik dan jadi yang terbaik. Belum lagi kita bicara perkembangan teknologi artificial intelligence (AI), yang juga bisa dimanfaatkan untuk menajamkan program-program komunikasi yang akan disusun sehingga mampu menghasilkan impact yang lebih tepat dan efektif bagi institusi kita.
Apa yang biasanya Anda lakukan ketika jenuh saat bekerja atau menjalani rutinas kerja?
Menulis, hobi saya memang menuangkan isi otak ke dalam sebuah tulisan. Bagi saya, mungkin itu seperti seseorang yang melakukan meditasi atau yoga untuk merilis stres ketika jenuh dalam rutinitas pekerjaan. Kalau masih jenuh juga, saya nonton bola, nonton film, dan pilihan terakhir adalah tidur untuk bisa sejenak lari dari segala masalah hidup 😁.
Pernahkah terpikir untuk switch career? Kalau iya karier apa dan mengapa? Kalau tidak boleh tolong dijelaskan alasannya?
Sebenarnya saya masuk ke dunia humas juga sebuah switch career, karena awalnya saya berlatar belakang pendidikan jurnalistik dan sempat bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media massa, baik lokal maupun nasional. Dulu setelah masuk ke dunia humas, sempat berpikir untuk kembali ke media, karena rasa jenuh duduk di belakang meja itu memang sangat besar dan mudah sekali muncul. Tapi, akhirnya dari waktu ke waktu, saya akhirnya bisa menemukan titik untuk memahami cara menjalani keduanya dalam satu profesi, menyalurkan passion saya di bidang jurnalistik dalam pekerjaan public relations. Jika dulu saya menulis berita, maka sekarang saya menulis siaran pers. Jika dulu saya interview narasumber, maka sekarang saya mendengarkan keluh-kesah pasien.
Menurut Anda skill apa yang dibutuhkan untuk menjadi humas zaman now?
Paling penting adalah kemampuan menjaga relasi dan public speaking. Sebenarnya, apapun profesinya, kedua skill ini sangat penting. Apalagi bagi seorang humas yang memang selalu bekerja dan berhubungan dengan banyak orang setiap harinya, baik top-down maupun bottom-up.
Punya tips untuk profesional muda yang ingin berkarier di bidang ini?
Rupert Murdoch pernah mengatakan, "Siapa yang menguasai media, maka dia akan menguasai dunia." Tapi, bagi saya mungkin lebih tepat, "Siapa yang menguasai informasi, maka dia akan menguasai dunia." Tapi di zaman sekarang, penguasaan teknologi mungkin menjadi jauh lebih penting, apapun profesinya, termasuk humas. Saya sendiri, bahkan baru saja menyelesaikan short course secara daring tentang digital marketing yang saya ikuti secara mandiri. Mungkin secara langsung tak ada hubungannya dengan bidang pekerjaan saya. Saya merasa perlu tahu bagaimana pemanfaatan teknologi di bidang itu, yang mungkin kemudian ada poin-poin tertentu yang bisa saya aplikasikan dalam pekerjaan saya sebagai PR. Maka, idiom tadi saat ini mungkin akan lebih pas jika disebut bahwa "Siapa yang menguasai teknologi, maka dia akan menguasai dunia."