Acith Ramadhany : Marcomm Itu Seni Menyentuh Audiens Bukan Sekadar "Jual Produk"

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 10 Januari 2025
Rubrik Profil

acith-marcomm-profesionnal-tahun-2025

Di era digital saat ini, kemunculan profesi-profesi dengan nama baru yang belum ada di era sebelumnya bukan hal baru lagi. Meski begitu, bukan berarti profesi lama, seperti halnya marcomm ditinggalkan. Beradaptasi tentunya bukan sesuatu yang baru lagi. Apalagi sekarang audiens makin pintar dan kritis.

Mereka nggak cuma konsumsi informasi, tapi juga ngecek sumbernya, cari tahu detail, bahkan bandingin dengan yang lain. Dunia digital sekarang dinamis banget, dengan tren yang terus berubah dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. "Tantangan terbesarnya adalah gimana kita bisa tetap relevan dan menarik perhatian mereka di tengah banjir informasi yang ada, dan kita harus bisa ikut dinamis, pivot yang cepet. Terutama di Indonesia, di mana pengguna internet terus bertambah, dan media sosial jadi platform utama buat banyak orang," ungkap Acith Ramadhany, Marketing Communication Manager di PT. Talu Nusantara Satu.

Meski begitu, menurutnya  kondisi tersebut juga bisa jadi peluang. Di Indonesia, media sosial dan platform digital lain seperti e-commerce dan aplikasi chatting memiliki pengaruh yang kuat. Dengan memanfaatkan dari sana kita bisa tahu apa yang orang-orang butuhkan atau sukai, mulai dari tren belanja sampai isu sosial yang lagi mereka bahas.

"Marcomm itu intinya adalah seni dan strategi menyampaikan pesan sebuah brand atau produk ke audiens dengan cara yang relevan dan menarik. Tujuannya nggak cuma buat dikenal, tapi juga membangun hubungan yang kuat antara brand dan audiensnya. Dalam marcomm, kita nggak cuma bicara soal promosi, tapi juga gimana menyampaikan nilai, solusi, dan cerita yang bisa menjawab kebutuhan atau masalah orang lain," tambah expert yang dulu pernah bekerja sebagai reporter dan content writer ini.

Buatnya pribadi, peran marcomm saat ini jadi lebih penting karena audiens sekarang nggak cuma pasif menerima informasi, tapi juga aktif mencari, membandingkan, bahkan memberi feedback secara langsung. Makanya, marcomm harus bisa menyentuh hati audiens, bukan sekadar "jual produk".

Bagaimana transisi Anda dari seorang reporter ke dunia marketing communication? Apa yang memotivasi Anda untuk beralih?

Sebenarnya, aku lebih banyak berkarier sebagai content writer dibandingkan sebagai reporter. Kalau bicara transisi, itu lebih ke perjalanan panjang karierku di content writing dan product R&D kurang lebih selama 6 tahun. Aku sempat kerja di B/NDL Studios dan The Jakarta Post (B/NDL dan The Jakarta Post itu satu group) dua posisi, 3 tahun sebagai content writer dan 2 tahun sebagai product R&D.

Sebagai content writer, aku belajar untuk nulis dengan terstruktur, memahami audiens, dan berlatih nulis di berbagai platform media. Lalu, sebagai product R&D, di situ aku belajar banget soal marketing, gimana bikin produk sesuai kebutuhan pengguna, dan ngulik insight dari audiens.

Kenapa akhirnya pindah ke marcomm? Jujur aja, itu karena aku sekarang di perusahaan sendiri bareng suamiku. Posisi marcomm ini penting banget buat perusahaan kami, dan aku merasa punya bekal dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Aku pernah jadi penulis yang fokus bikin konten, pernah jadi R&D yang mengerti sudut pandang audiens serta product, dan sekarang aku bisa pakai semuanya untuk bikin strategi marketing. Jadi, menurutku perjalanan ini malah saling melengkapi.

Aku orangnya senang belajar, jadi melihat tantangan baru dan role baru aku melihatnya sebagai opportunity untuk lebih berkembang lagi. Jadi memang karna kebutuhan perusahaan, tapi bukan hanya sekedar karena butuh, aku merasa I can do it dan aku udah punya ‘bekal’nya.

Bagaimana Anda menjaga relevansi sebagai seorang marketing communication professional di tengah pesatnya perkembangan teknologi?

Aku percaya kita tidak perlu melawan teknologi, kita butuh dan justru harus berkolaborasi dengannya.Tapi secanggih apapun teknologi, kita sebagai manusia punya human sense yang nggak bisa digantikan. Apalagi sekarang udah zaman AI yang bisa ‘menggantikan’ apapun, termasuk kreativitas dan dunia marcomm. Tapi tetap aja AI itu sense human-nya enggak ada, tetap kita yang harus jadi ‘otaknya’ AI atau teknologi lainya sebagai tools.

Yang perlu diingat dalam diri sendiri adalah kita enggak bisa rely on teknologi begitu aja, tetap harus ada peran kita sebagai manusia untuk mengimbangi. Misalnya, kalau kita mau bikin kampanye gaya hidup sehat, kita bisa pakai tools seperti Google Trends atau data dari media sosial untuk tahu topik yang lagi populer, seperti “resep rendah kalori” atau “workout singkat di rumah.” Tapi teknologi itu cuma kasih gambaran besar, sementara apa yang benar-benar dirasakan atau dibutuhkan audiens hanya bisa kita temukan lewat pendekatan

manusia. Misalnya, dengan mendalami kebiasaan dan tantangan audiens, kita bisa tahu bahwa banyak dari mereka sebenarnya lebih butuh solusi yang simpel dan cepat karena kesibukan mereka sehari-hari.

Kombinasi antara data teknologi dan pemahaman mendalam tentang audiens inilah yang bikin sebuah kampanye jadi relevan dan tepat sasaran. Teknologi sebagai tools yang membantu kita mengidentifikasi peluang, tapi empati dan human touch yang membuat pesan kita bisa benar-benar sampai dan diterima dengan baik.

Apa yang menurut Anda adalah keterampilan paling penting yang harus dimiliki oleh seorang marketing communication professional?

Menurutku, yang paling penting itu peka dan punya empati. Marketing itu bukan soal kita, bukan soal brand atau produknya, tapi soal audiens—apa yang mereka butuhin, apa yang mereka rasain, dan gimana cara kita bisa bantu mereka lewat brand atau produk kita. Kalau kita nggak peka, kita bisa salah langkah atau bikin sesuatu yang nggak relevan dengan kebutuhan mereka. Sebagus apa pun suatu brand atau produk akan percuma kalau enggak bisa memberikan dampak kepada audiens kita.

Selain itu, aku juga percaya pentingnya banyak “main ke luar.” Maksudnya, sering-sering hadir di event, ngobrol sama orang dari berbagai bidang, atau kalau di kantor, aku suka ikut meeting bareng tim business development atau finance. Tujuannya biar tetap update, tahu apa yang lagi terjadi di luar sana, dan sekaligus bangun relasi. Relasi itu nggak cuma sama media, tapi juga dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Yang lebih penting lagi, semua insight yang kita dapet dari luar itu harus kita bawa balik ke kantor buat diolah dan di-brainstorming lebih lanjut. Jadi, kita nggak cuma sekadar jalan-jalan atau networking, tapi benar-benar dapet masukan yang bisa jadi bahan buat strategi marketing yang lebih matang dan relevan.

pengalaman-acith-sebagai-marcomm-tahun-2025

Bagaimana Anda menghadapi tantangan dalam mengukur keberhasilan kampanye marketing, terutama di era digital?

Ngukur keberhasilan kampanye itu memang tricky karena banyak banget metrik yang bisa dipakai, dari engagement rate, click-through rate, sampai ROI. Tapi menurutku, yang paling penting adalah balik lagi ke tujuan awal kampanye. Kalau kita nggak tahu tujuan utamanya apa, bakal sulit menentukan metrik yang tepat.

Misalnya, kalau tujuannya adalah meningkatkan kesadaran tentang produk makanan sehat, metriknya bukan semata-mata soal penjualan langsung, tapi lebih ke seberapa besar audiens terlibat dengan konten kita. Kita bisa lihat dari jumlah shares, comments, atau bahkan reach di media sosial.

Kalau ada audiens yang sampai cerita atau nge-tag akun brand karena merasa terinspirasi, itu bisa jadi indikator kalau pesan kita nyampe.

Kuncinya adalah tahu tujuan dan pesan utama yang mau disampaikan dari awal, supaya metrik yang dipakai benar-benar targeted. Dengan begitu, kita nggak cuma sibuk ngumpulin data, tapi juga bisa baca apakah kampanye kita berhasil menyentuh audiens sesuai dengan yang kita harapkan.

Dan yang nggak kalah penting, bukan cuma soal ngukur hasil, tapi juga tahu kapan harus evaluasi dan apa langkah selanjutnya. Kalau ternyata hasilnya kurang maksimal, kita bisa balik lihat apa yang kurang—apakah pesannya nggak cukup jelas, atau mungkin timing-nya kurang pas? Evaluasi itu penting banget untuk terus memperbaiki strategi kita di kampanye berikutnya, biar hasilnya lebih efektif dan relevan dengan audiens.

Apa saran Anda bagi generasi muda yang ingin berkarier di bidang marketing communication?

Sering-sering "melihat dunia". Maksudnya, perhatikan sekitar dan coba peka sama apa yang lagi dibutuhin atau diomongin orang. Dunia terus berubah, dan sebagai seorang marketing communication professional, kita harus tahu apa yang lagi jadi perhatian audiens.

Waktu aku baru mulai, aku sering baca artikel, riset kecil-kecilan, dan banyak ngobrol sama orang untuk tahu perspektif mereka. Marketing itu nggak bisa jalan kalau kita nggak ngerti apa yang audiens kita inginkan. Jadi, asah empati dan jangan takut buat nanya ke orang-orang sekitar. Belajar dari mereka dan buka wawasan sebanyak-banyaknya.

Selain itu, penting banget untuk belajar nulis secara terstruktur. Sekarang udah zamannya modern media release, yang artinya kita harus bisa menulis konten yang siap pakai dan nggak perlu ditulis ulang oleh media. Nggak cukup cuma punya ide kreatif, kita juga harus bisa menyampaikan pesan dengan cara yang jelas, to the point, dan sesuai dengan audiens yang kita tuju. Itu bakal jadi bekal penting untuk sukses di dunia marketing communication.

Bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara kreativitas dan kepraktisan dalam pekerjaan Anda?

Aku tahu batasanku sendiri, dan ini punya dua makna buatku. Pertama, kalau sudah mulai mentok atau mengalami writer's block—yang sering terjadi di dunia penulisan—aku memilih untuk istirahat dulu. Biasanya aku kasih waktu buat "tidur" entah itu beberapa jam atau bahkan satu hari, sebelum lanjut lagi. Menurutku, penting banget untuk tahu kapan harus berhenti, karena kalau dipaksakan, hasilnya nggak akan maksimal.

Kedua, aku juga tahu batasan diriku dalam hal kemampuan. Kalau ada pekerjaan yang aku rasa nggak bisa aku kerjakan dengan maksimal, aku nggak ragu untuk menolak. Bukan berarti aku malas atau menghindari tantangan, tapi aku percaya pekerjaan harus diselesaikan dengan sepenuh hati dan kualitas terbaik. Kalau memang merasa butuh bantuan, aku akan melibatkan tim atau mencari kolaborasi agar hasilnya tetap optimal.

Buatku, menjaga keseimbangan ini adalah kunci supaya kreativitas tetap berjalan dan hasil kerja tetap bisa dieksekusi dengan baik. Untuk mempertahankan kreativitas, aku percaya bahwa banyak membaca itu kunci. Waktu aku jadi content writer, aku nggak cukup baca satu atau dua artikel aja buat dapat ide. Aku bisa baca puluhan artikel, jurnal, atau buku untuk dapet inspirasi.

Kreativitas nggak datang begitu aja—itu harus dicari dan dilatih. Jadi, buat aku, membaca adalah cara paling efektif untuk tetap kreatif.

Dalam konteks marcomm, saat udah dapat ide atau konsep kreatif, yang paling penting adalah ide itu harus bisa direalisasikan, bukan cuma jadi wacana. Nah, di sini, brainstorming jadi sangat penting.

Aku sering ajak tim buat diskusi, lempar ide, terima masukan dan kritikan mereka. Dengan kolaborasi, ide yang semula masih mentah bisa jadi lebih solid dan lebih bisa dijalankan dengan kepraktisan yang sesuai tujuan kampanye.

acith-berbagi-pengalaman-sebagai-marcomm-tahun-2025

Pernah bekerja sebagai research and development, memberikan perspektif yang unik. Bagaimana Anda mengaplikasikan keahlian ini dalam strategi marketing communication?

Waktu aku di B/NDL Studios, aku belajar gimana caranya bikin produk yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna. Aku belajar menganalisis tren, mendalami perilaku konsumen, dan menciptakan produk yang bisa menjawab masalah mereka. Pengalaman ini ngasih aku pemahaman yang lebih dalam soal pentingnya riset dalam menciptakan sesuatu yang sesuai dengan audiens.

Sekarang, aku sering menerapkan prinsip-prinsip yang aku pelajari di R&D dalam strategi marketing communication. Salah satunya adalah menggunakan design thinking. Di sini, kita mulai dengan memahami kebutuhan pengguna, bukan sekadar apa yang kita ingin tawarkan. Dari situ, kita buat prototipe atau pilot project untuk diuji, lalu kita lakukan riset untuk mengevaluasi apakah solusi yang kita tawarkan benar-benar efektif. Riset ini juga melibatkan beberapa tahap, mulai dari pengumpulan data primer, analisis tren, hingga feedback dari audiens.

Dengan pendekatan ini, aku bisa lebih terarah dalam membuat kampanye marcomm yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan dan berbasis data. Jadi, riset dan pengujian bukan hanya dilakukan di tahap pengembangan produk, tetapi juga di setiap langkah strategi komunikasi, untuk memastikan bahwa apa yang kita sampaikan benar-benar nyambung dengan audiens dan tujuannya.

Sebagai mantan asisten produser, apa yang telah Anda pelajari tentang manajemen proyek dan kolaborasi yang efektif? Bagaimana hal ini membantu Anda dalam peran saat ini?

Waktu itu, aku banyak belajar tentang koordinasi, mulai dari ngatur jadwal sampai berkomunikasi dengan tim produksi. Aku juga diajari untuk tetap tenang di bawah tekanan, karena di dunia produksi, banyak hal yang nggak selalu berjalan sesuai rencana. Keterampilan ini, seperti fleksibilitas dan kemampuan mengatur prioritas, sangat berguna di peran aku sekarang.

Sebagai marcomm, aku sering bekerja bareng tim dari berbagai divisi, mulai dari business development, finance, hr, hingga tim kreatif. Koordinasi yang baik dan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah itu sangat penting supaya semua bisa berjalan dengan lancar.

Selain itu, aku juga belajar banyak soal komunikasi yang efektif, apalagi ketika kita harus berkomunikasi dengan berbagai jabatan. Setiap level, mulai dari atas hingga bawah, punya cara komunikasi yang berbeda, meskipun pesan yang disampaikan sama. Di sinilah pentingnya

kemampuan untuk menyesuaikan gaya komunikasi kita, supaya pesan kita diterima dengan baik oleh semua pihak yang terlibat.

Punya tips buat fresh graduate yang ingin berkarier di bidang marketing communications?

Secara teori, pasti udah banyak yang dikuasai ya, hehe. Tapi, balik lagi ke empati dan peka terhadap sekitar, hal ini menurutku ga bisa instan dan harus dibiasakan. Empati itu bukan cuma soal memahami orang lain, tapi juga tentang perhatian terhadap hal-hal kecil yang seringkali kita anggap remeh–try to put your shoes on them. Misalnya, saat ngobrol, coba benar-benar fokus dan catat apa yang mereka bicarakan, perhatikan gestur mereka, intonasi mereka. Kadang, hal kecil ini justru memberikan insight besar, karena itu sangat berpengaruh dalam memahami audiens.

Selain itu, berlatih menulis juga penting. Menulis itu bukan cuma tentang menyusun kalimat, tapi juga melatih pola pikir agar lebih terstruktur. Dalam pekerjaan marcomm, kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas itu krusial. Dulu, mantan bos aku minta aku untuk mengetik ulang artikel yang aku baca, dengan cara ini aku nggak hanya ingat isinya, tapi juga mulai terbiasa menulis dengan struktur dan pilihan kata yang lebih baik. Tanpa disadari, kemampuan menulis aku jadi berkembang hanya dengan kebiasaan sederhana itu. Jadi, siapa tahu, cara ini juga bisa membantu.

Insight bergizi lainnya bisa Anda temukan di Rubrik Profil Loker ID! Gas langsung, untuk tahu pandangan expert mengenai dinamika dunia karier saat ini.